Bagaimana Agar Kendaraan Komersial Listrik Optimal Beroperasi?
KabarOto.com - Elektrifikasi armada kendaraan komersial kini menjadi agenda yang dilirik tak terhindarkan. Selain dorongan regulasi yang semakin ketat terhadap emisi karbon, perusahaan juga menghadapi ekspektasi dari masyarakat untuk menyediakan solusi transportasi yang lebih hijau. Peralihan ke kendaraan listrik (EV) pun tak lagi sekadar tren.
Menurut Direktur Utama Kalista yakni Albert Aulia Ilyas, salah satu faktor utama dalam proses elektrifikasi armada adalah ketersediaan lini kendaraan yang yang sesuai dengan kebutuhan operasional.
"Tanpa variasi pilihan unit yang tepat, perusahaan bisa menghadapi kendala seperti kendaraan yang tidak sesuai dengan kebutuhan, keterbatasan kapasitas muatan, atau tingginya biaya operasional. Inilah mengapa fleksibilitas produk menjadi kunci keberhasilan transisi," kata Albert Aulia Ilyas.
Baca Juga: Menolak Lupa, Profil Truk Kamaz Legenda Ajang Balap Rally Dakar

Menurutnya, transisi ke armada listrik bukan hanya soal mengganti unit, tetapi juga menyesuaikan pola kerja agar operasional tetap lancar.
Tanpa survei operasional menyeluruh, risiko yang muncul bisa berupa infrastruktur pengisian daya yang tidak memadai atau pemilihan unit yang kurang sesuai. Hal ini dapat menghambat produktivitas dan menambah biaya.
Ia menekankan pentingnya survei operasional sebagai fondasi transisi. Tim operasional melakukan analisis langsung di lokasi, mencakup beban muatan harian, jarak tempuh, pola ritase, dan kondisi jalan.
Hasil survei kemudian menjadi dasar rekomendasi unit dan titik pengisian daya yang optimal. Adapun vendor untuk menyiapkan solusi, termasuk opsi Unit Gardu Bergerak (UGB).
Keputusan investasi akan lebih matang jika perusahaan dapat menguji langsung performa kendaraan di kondisi operasional sehari-hari. Menguji unit langsung di kondisi operasional nyata memberi gambaran jelas mengenai performa kendaraan.
Tanpa uji coba, perusahaan berisiko salah memilih unit dan menghadapi biaya tambahan akibat ketidaksesuaian. Uji coba juga membantu memastikan kenyamanan pengemudi dan efektivitas pola operasional yang sudah direncanakan.
Ia bilang, harus menyediakan opsi uji coba setelah rekomendasi diberikan. Proses ini memungkinkan calon pelanggan mengukur efisiensi energi, keandalan unit, dan kecocokan dengan kebutuhan sehari-hari. Uji coba juga memperkuat keyakinan pelanggan bahwa transisi yang dilakukan bukan sekadar eksperimen, melainkan langkah strategis yang terukur.
Baca Juga: Profil Truk MAN TGA Hydrogen di Ajang Balap Rally Dakar 2026

"Contohnya, dalam transformasi transportasi publik di Kota Medan, kami melakukan uji coba selama 11 bulan dengan lima tipe bus listrik berbeda. Dari hasil analisis, bus berukuran 10,5 meter tipe Low Deck dipilih sebagai unit paling sesuai dengan kondisi halte dan kebutuhan penumpang, memastikan layanan publik tetap optimal. Langkah ini memastikan keputusan berbasis data, bukan sekadar asumsi," bebernya.
Pemantauan armada secara real-time membantu perusahaan menjaga keandalan operasional sekaligus meningkatkan efisiensi. Tanpa sistem monitoring, sulit bagi perusahaan untuk mengidentifikasi potensi masalah atau mengukur dampak transisi ke EV terhadap biaya dan emisi.
Seperti sistem K-Move, fleet management platform yang memungkinkan pelanggan melacak lokasi, konsumsi energi, geofencing, hingga laporan operasional secara langsung.
"Dalam catatan uji coba, K-Move merekam total jarak tempuh 2.552.894 km dari 34 unit EV. Hasilnya, pelanggan berhasil menghemat biaya energi hingga Rp1.09 miliar dengan efisiensi 78% sekaligus menurunkan emisi karbon sebesar 88.087 kg CO2. Data ini menjadi bukti nyata bahwa elektrifikasi tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga ekonomis," pungkas Albert Aulia Ilyas.
Teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan sentuhan manusia yang peduli dan responsif. Di balik sistem monitoring dan mesin yang modern, ada tim operasional yang bekerja siang dan malam untuk memastikan armada tetap berjalan tanpa hambatan.
Tanpa mereka, downtime bisa dengan mudah mengganggu layanan dan meruntuhkan kepercayaan pelanggan. Karena itu, kehadiran SDM berpengalaman yang tidak hanya terampil, tetapi juga berdedikasi, menjadi elemen penting yang tidak bisa diabaikan.
Baca Original Artikel