KabarOto.com - Sebagai fitur pengaman vital pada mobil modern, airbag bertugas meminimalkan risiko cedera parah saat terjadi kecelakaan. Kendati tidak memerlukan servis berkala layaknya oli mesin, sistem pengereman, atau filter udara, piranti penunjang keselamatan ini tetap membutuhkan perhatian agar selalu siap berfungsi optimal di saat darurat.
Sistem airbag bekerja melalui kombinasi rumit antara jaringan kelistrikan dan sensor benturan. Perwakilan dari Curb Motorsport, Shendy Andhika, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian komponen tersebut harus berada dalam kondisi prima agar kantong udara dapat mengembang secara presisi.
Baca Juga: Upgrade Performa Motor Listrik, Jangan Abaikan Sisi Keselamatan
Merawat Karena Usia Pakai
Seiring bertambahnya usia kendaraan, keandalan sambungan listrik dan sensitivitas sensor bisa menurun, sehingga potensi kegagalan fungsi airbag saat mendeteksi benturan perlu diantisipasi,
ujarnya.
Tanda gangguan pada sistem ini sebenarnya cukup mudah dikenali oleh pemilik kendaraan. Indikator paling jelas adalah lampu peringatan airbag di dasbor yang terus menyala atau berkedip seusai mesin dihidupkan.
Di samping indikator visual, kemunculan suara asing berupa klik atau dengung dari area kemudi dan dasbor, khususnya dalam penggunaan harian atau pascainsiden, menjadi sinyal kuat bahwa ada masalah kelistrikan atau sensor yang butuh penanganan lanjut.
Baca Juga: Instruktur Safety Soroti Mirisnya Etika Berkendara, Ini Katanya
Interval 10 Tahun
Walau bukan komponen yang wajib diganti secara berkala, pabrikan umumnya menyarankan pemeriksaan total pada sistem airbag setiap 10 tahun sekali. Pengecekan menyeluruh juga sangat dianjurkan begitu kendaraan mengalami benturan, sekalipun kantong udara tidak sampai mengembang, karena guncangan keras dapat merusak fungsi sensor.
Mengingat kerumitan dan dampaknya terhadap keselamatan jiwa, pemeriksaan sistem airbag sebaiknya diserahkan kepada teknisi berpengalaman yang dilengkapi peralatan diagnostik yang sesuai.

