Umumnya produk suspensi after market dilengkapi dengan pengaturan preload, agar memungkinkan penambahan atau pengurangan preload. “ Tetapi jangan salah mengartikan dengan menaikkan preload berarti membuat suspensi semakin keras /stiff. Meski mungkin hal ini benar pada jenis progresif. Menambah kompresi pada per hanya menaikkan posisi duduk, tetapi tidak terhadap spring rate, yang berarti kekakuan atau kekerasan per (spring stiffness),” ulas Eddy lagi.
Memang ada banyak alasan untuk mengatur ketinggian posisi duduk. Tetapi ingat, ketinggian yang tepat , akan menentukan karakteristik handling saat membawa beban tambahan, baik pembonceng atau barang. Menambah beban di bagian depan misalnya akan menekan per dan mengurangi trail, itu artinya mengurangi radius putar.
Dan jika beban berlebih, suspensi akan mencapai stroke optimalnya, dan sering mentok atau bottom out. Sebaliknya, jika preload dilonggarkan, maka saat tanpa beban, shockabsorber akan mudah top out.
“ Jadi perlu diingat, suspensi bekerja dua arah, terkompres saat melalui gundukan dan memanjang saat masuk lubang. Jika top out, maka ban belakang akan terangkat, kondisi yang berbahaya saat menikung, sebab sepeda motor mudah tergelincir. Sebaliknya jika bottom out, ban mungkin akan mengunci karena merapat ke fender,” pungkasnya.
Jadi, aturlah preload sesuai dengan kebiasaan berkendara sehari-hari, berapa beban yang biasa dibawa. Sistem suspensi sepeda motor baik depan maupun belakang didesain bekerja sekitar sepertiga dari travelnya.
Untuk itu untuk setting suspensi, selain preload perlu diperhatikan Suspension Sag-nya, karena akan menentukan kenyamanan individual.
baca juga: