Header -->
Supra X 125 Hajar Jogja-Bali 28 Jam
Narsis dulu di PLTU Paiton, Probolinggo

DESKRIPSI

Yogyakarta - Nur Cholis, alumni PTS ternama di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut sudah melakukan sebuah perjalanan yang sangat jauh, yaitu mulai dari Yogyakarta-Klungkung, Bali (PP) yang berjarak sekitar 740 KM beberapa bulan yang lalu. Tujuan dari perjananan tersebut yaitu untuk silaturahim ke rumah teman sekaligus memecahkan rekor individu ekspedisi tanpa istirahat/ tidur dengan motor bebek Supra X 125R tahun 2011.

Perjalanan dimulai dari Yogyakarta, Cholis dan temannya sudah mempersiapkan safety riding ala kadarnya, seperti: Jas hujan, sarung tangan, masker, kaos kaki, sandal gunung dan memastikan kondisi sepeda motor on fire. Perjalanan duidukung oleh aplikasi Google Maps Offline, "karena tidak semua daerah dilalui sinyal 4G, bahkan ada daerah tertentu yang tidak dilalui sinyal ponsel" ujar Cholis, panggilan akrabnya.

Jalur selatan Jawa, menjadi pilihan Cholis beserta temannya, karena belum pernah dilewati dan terlihat lebih cepat menuju Banyuwangi. Tujuan pertama yaitu daerah Wonogiri, perjalanan kearah Klaten kemudian arah Sukoharjo dan ambil jalan kearah Wonogiri. "Sampai Wonogiri pas Maghrib, kami mencari tempat makan seperti pecel lele, akhirnya dapatnya didaerah perbatasan Wonogiri-Ponorogo". Hujan deras menerjang perjalanan mereka ketika memasuki area perbukitan Wonogiri. Setelah Istirahat, Sholat dan makan perjalanan dilanjutkan, terlihat waktu masuh pukul 21.30 WIB. 

"Ayo ke Tulungagung", ujar teman Cholis sambil melihat Google Maps nya. Dalam perjalanan ini, sistem 4 jam dipakai oleh mereka, artinya setiap 4 jam gantian bawa sepeda motor. Kabupaten Trenggalek, Pukul 22.00 WIB sudah sepi dan semua pom bensin sudah tutup, "mungkin karena hujan yang sangat deras, makanya pada tutup", kata Cholis. Cholis dan temannya terpaku melihat spedometer yang tinggal satu garis strip berkedip-kedip, akhirnya mereka menemukan satu warung bensin yang dijaga oleh pemuda setempat, "saya full kan saja, tidak tahu kan nanti perjalanannya kayak apa dan gimana, buat jaga-jaga saja", ungkapnya.

Perjalanan masih panjang, memasuki Kabupaten Blitar, singkat cerita sekitar jam 00.00 WIB mereka bertemu sama seorang mahasiswa UMM yang sedang belanja di salah satu supermarket 24 jam. "Saya tanya ke mas nya, arah Dampit mana ya mas? kemudian masnya jawab: dari jauh ya mas? iya mas, kami dari Jogja jawab saya, ikut saya aja mas, daerah Blitar kalau baru pertama kali lewat pasti kesasar", cerita Cholis saat bertemu seorang mahasiswa yang mau balek ke Kos nya di Malang. Akhirnya mereka pun berangkat bareng menuju Malang di tengah hujan deras dengan kecepatan rata-rata 100 Km/jam. 

Waduk Karangkates, terletak di Kecamatan Sumber Pucung 40 KM Selatan Kota Malang, akhirnya mereka sampai di salah satu Taman Rekreasi di Kota Malang. Cholis dan temannya diajak istirahat di salah satu warung di area Waduk, "kami cerita-cerita sambil ngopi dulu, karena dingin dan jam masih sekitar 03.00 dinihari", ungkap temannya. Setalah selesai Nongkrong, mereka melanjutkan perjalanannya, sampai di pertigaan antara Malang-Dampit tepatnya daerah Kepanjen, "mas, arah Dampit ke kanan ya, saya ambil kiri, hati-hati ya mas, jalanan sepi, tanjakan curam pesan mas UMM tersebut", terang Cholis.

Lumajang, rute yang akan dituju oleh Cholis dan temannya, jalur mulai sempit, banyak tikungan tajam serta lubang yang bisa mengakibatkan kecelakaan jika tidak berhati-hati. "Jalur paling rawan, karena kami mulai memasuki area selatan Taman Nasional Bromo Tengger, kiri kami lereng gunung yang sangat tinggi dan kanan kami jurang yang sangat dalam" tambah Cholis. Setelah melewati rute paling rawan dalam perjalanan tersebut, akhirnya bisa Sholat Subuh dan istirahat sejenak di daerah Jember

Pukul 11.00 WIB, Cholis dan temannya sudah sampai di Jember, kemudian mereka melihat kondisi sepeda motor, dirasa baik mereka pun melanjutkan ke Banyuwangi. Gunung Gumitir, salah satu jalan rawan yang terletak di kaki Gunung Raung, "di Gumitir saya melihat banyak orang yang minta-minta, hampir setiap tikungan, dan kami alhamdulillah lancar-lancar saja melewatinya", ungkapnya. Beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi sekitar Pukul 14.00. 

Rute area Jawa Timur
Inilah gambaran rute Area di Jawa Timur (Sumber: Suarasurabaya.net)

Setelah bayar biaya penyeberangan, Cholis dan temannya langsung naik kapal, "seberang sudah gelap, gelombang laut tinggi, ada beberapa sepeda motor jatuh karena gelombangnya tinggi", katanya sambil senyum. Hampir 2 jam penyeberangan karena kondisi cuaca yang buruk, akhirnya kapal menepi di dermaga Gilimanuk. Sesampai di Gilimanuk, di pintu keluar, semua pengendara di periksa identitasnya oleh Polisi Bali, seperti E-KTP, SIM dan tujuan ke Pulau Bali, "kami diperiksa, lalu ditanyain karena plat motornya AA (Kadipaten Kedu), Saya pun jawab mau liburan pak,"ucapnya.

Suasana Pelabuhan Gilimanuk yang sudah mendung

Pelabuhan Gilimanuk sejak mereka sampai sudah diguyur hujan deras, setelah itu Cholis mengaktifkan GPS, tujuan berikutnya yaitu Kecamatan Klungkung. "ya ampun, ternyata masih jauh, ujung ke ujung, sekitar 4 jam lagi" kata Cholis sambil bercerita kalau selama perjalanan istirahatnya hanya ketika isi bensin, Sholat, makan dan buang air. Singkat cerita, sampai tujuan sekitar jam 21.30 WITA, jadi perjalanan Jogja-Klungkung menghabiskan waktu 28 jam perjalan dengan Supra X 125, "itu sudah termasuk nyasar juga" tambahnya.

Plat AA diantara DK, Lokasi di Pantai Sanur, Bali

Setelah puas berkelana di Pulau Bali sekitar 3 harian, akhirnya Cholis dan temannya pamitan untuk kembali ke Yogyakarta, untuk jalur yang akan dilalui yaitu jalur utara. Habis Subuh mereka langsung pamitan dan mulai perjalanan kembali ke Yogyakarta, tak lupa, Cholis mengganti oli di daerah Tabanan, karena kualitas olinya memang harus diganti karena sudah berjalan sejauh 750 KM lebih. Inilah Jalur utara yang diambil mereka (Bali-Banyuwangi-Situbondo-Probolinggo-Pasuruan-Mojokerto-Nganjuk-Ngawi-Sragen-Sukoharjo-Yogyakarta) dengan waktu tempuh 22 Jam. "Jalur utara kami pilih karena jalannya rame, banyak tempat istirahat, kalau terjadi apa-apa enak", ungkap Cholis sambil melihatkan dokumentasi selama perjalanannya.

Selama perjalanan pulang terjadi satu kendala kecil, yaitu ban bocor di daerah Ngawi pada pukul 01.00 WIB, "alhamdulillah ban kami bocor di daerah Ngawi dan masih banyak yang buka tambal ban, kalau di daerah jalur selatan (Lumajang, Gunung Gumitir) yakin tidak bisa berbuat apa-apa". Total biaya yang habis selama perjalanan untuk pembelian bahan bakar sekitar Rp. 350.000 (PP), "Bawa 1 juta cukup buat berdua bolak balik, asal kondisi motor bagus dan selalu di cek kondisinya" ujar pria kelahiran Bantul tersebut.

Istirahat di warung Seberang SMPI 'Al-Ishlah' Mojokerto (21:34 WIB)

Pelajaran yang bisa diambil dari perjalanan Cholis dan temannya yaitu, selalu positif thinking selama dalam perjalanan, banyak berdo'a, kesabaran dan yang terpenting perjuangan serta kepercayaan sesama teman. "ini pengalaman yang luar biasa, mungkin sekali seumur hidup, tidak semua orang bisa melakukannya. saran saya, kendaraan apa pun kalau dirawat dengan baik dan ikhlas, pasti akan bermanfaat buat kita" ujar Cholis sambil mengakhiri ceritanya.

Komentar (0)

    Login dulu untuk memberikan komentar

THREAD TERKAIT