KabarOto.com – Indonesia terus mengembangkan potensi kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif. Selain diolah menjadi bahan pangan dan produk oleokimia, minyak sawit kini dikembangkan menjadi D100 Sawit atau Green Diesel D100, bahan bakar diesel berbasis nabati dengan karakteristik yang mendekati solar fosil.
D100 dikembangkan melalui proses hydrotreating, yakni pengolahan minyak sawit menggunakan hidrogen dan katalis khusus. Berbeda dengan biodiesel FAME yang digunakan dalam program B35 dan B40, D100 menghasilkan hidrokarbon sehingga karakteristiknya lebih mirip bahan bakar diesel konvensional.
Apa Itu D100 Sawit?
Nama D100 merujuk pada diesel biohidrokarbon berbasis bahan nabati. Bahan baku yang digunakan antara lain RBDPO (Refined Bleached Deodorized Palm Oil).
Dalam proses produksinya, minyak sawit direaksikan dengan hidrogen menggunakan katalis. Kandungan oksigen dalam minyak kemudian dihilangkan dan menghasilkan hidrokarbon rantai panjang yang dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel.
Teknologi ini membuat D100 berbeda dengan biodiesel Fatty Acid Methyl Ester (FAME). B35 terdiri dari 35 persen biodiesel FAME dan 65 persen solar fosil, sedangkan B40 menggunakan 40 persen biodiesel dan 60 persen solar fosil. Sementara itu, D100 merupakan produk diesel biohidrokarbon yang tidak dibuat melalui proses pencampuran FAME dengan solar.
Dikembangkan Pertamina dan ITB
Pengembangan D100 di Indonesia menjadi salah satu pencapaian penting dalam teknologi energi nasional. Pertamina bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam pengembangan teknologi katalis yang dikenal sebagai Katalis Merah Putih.
Produksi perdana D100 dilakukan di Kilang Dumai, Riau, pada 2020. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa minyak sawit domestik dapat diolah menjadi bahan bakar diesel menggunakan teknologi yang dikembangkan di dalam negeri.
Bagaimana Performa D100?
D100 juga telah menjalani pengujian pada kendaraan diesel. Dalam salah satu uji jalan Pertamina, kendaraan menggunakan D100 untuk perjalanan sekitar 200 kilometer dan menunjukkan performa yang baik.
Salah satu daya tarik green diesel adalah angka setana yang tinggi. Parameter ini berkaitan dengan kualitas penyalaan bahan bakar pada mesin diesel. D100 juga dilaporkan menghasilkan suara mesin yang halus dan karakteristik pembakaran yang baik.
Dari sisi lingkungan, D100 berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Namun, dampak lingkungannya tetap perlu dilihat secara menyeluruh, mulai dari produksi sawit, proses pengolahan, penggunaan hidrogen hingga distribusi bahan bakar.
Potensi D100 untuk Otomotif Indonesia
Pengembangan D100 membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya domestik sebagai bahan bakar bernilai tambah tinggi.
Jika produksi dan infrastrukturnya terus dikembangkan, D100 berpotensi mendukung ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan impor BBM, sekaligus memperkuat hilirisasi industri sawit.
Bagi dunia otomotif, D100 menjadi salah satu teknologi menarik yang patut ditunggu. Bukan sekadar bahan bakar dari sawit, tetapi juga bagian dari upaya Indonesia mencari alternatif energi untuk kendaraan diesel di masa depan.