KabarOto.com - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menyampaikan apresiasi tertinggi terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh Pemerintah Republik Indonesia, khususnya Kementerian Perindustrian.
Di tengah berbagai tantangan global yang membayangi industri otomotif nasional dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari dampak pandemi Covid-19 hingga transisi teknologi elektrifikasi, pemerintah dinilai konsisten hadir memberikan kepastian hukum dan stimulus.
Sinergi yang kuat melalui komunikasi terbuka dan kebijakan yang berkesinambungan menjadi pondasi utama dalam menjaga daya saing serta menarik minat investor global di tanah air.
Baca Juga: Chery Q Sudah Dipesan 3.000 Unit, Minat Konsumen Cukup Tinggi
Komitmen Kementerian Perindustrian
Ketua Harian sekaligus Ketua Penyelenggara Pameran dan Konferensi Gaikindo, Anton Kumonty, menegaskan bahwa komitmen pemerintah terlihat nyata dari berbagai fasilitas fiskal yang telah dikucurkan.
Salah satu yang paling berdampak adalah skema User Specific Duty-Free Scheme (USDFS) periode Juli 2008 hingga Desember 2025 yang membebaskan bea masuk bahan baku impor, di mana 57 dari 74 perusahaan penggunanya merupakan pelaku industri otomotif.
Selain itu, kebijakan PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) berbasis Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) juga sukses dimanfaatkan oleh pabrikan besar seperti Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Nissan, hingga Isuzu untuk menjaga utilisasi pabrik dan lapangan kerja.
Gaikindo melihat pemerintah, khususnya Kementerian Perindustrian, telah menunjukkan komitmen yang konsisten dalam mendukung industri otomotif nasional. Berbagai kebijakan yang diterapkan, mulai dari pemberian fasilitas investasi, insentif fiskal, hingga forum dialog yang rutin dengan pelaku industri, merupakan bentuk nyata upaya pemerintah dalam menjaga daya saing industri otomotif Indonesia sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh investor,
ujar Anton Kumonty.
Komitmen jangka panjang pemerintah dalam merespons perkembangan teknologi ramah lingkungan juga tercermin lewat Program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) yang diatur dalam Permenperin Nomor 36 Tahun 2021.

Program tersebut berhasil mendorong investasi baru pada kategori Low Cost Green Car (LCGC), Hybrid Electric Vehicle (HEV), hingga Battery Electric Vehicle (BEV). Hubungan bilateral pun diperkuat melalui forum strategis seperti Indonesia–Japan Automobile Dialogue dan Biofuel Co-Creation Task Force Meeting pada 2025 yang memicu pembentukan kelompok kerja khusus demi mempercepat implementasi bahan bakar nabati (biofuel) di Indonesia.
Di sisi lain, Gaikindo menegaskan bahwa investor Jepang, yang telah puluhan tahun menjadi pilar otomotif nasional, selalu melakukan perhitungan matang. Investasi mereka tidak hanya menyentuh sektor manufaktur, melainkan juga penguatan automotive value chain melalui proyek strategis nasional seperti Pelabuhan Patimban di Subang dan Proving Ground (BPLJSKB) di Bekasi.
Menariknya, keharmonisan regulasi ini mulai memicu efek domino positif terhadap minat investasi global lainnya, khususnya dari korporasi otomotif asal Negeri Tirai Bambu.
Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, Jongkie Sugiarto, mengungkapkan bahwa beberapa prinsipal otomotif dari Tiongkok yang tengah memulai ekspansi ke Indonesia kini mengharapkan perlakuan dan dukungan regulasi yang setara. Hal ini dipandang sebagai sinyal positif bahwa pasar domestik masih memiliki magnet yang kuat sebagai basis produksi dan investasi jangka panjang.
”Melihat dukungan dari pemerintah terhadap industri otomotif Jepang di Indonesia, beberapa perusahaan otomotif dari Tiongkok yang saat ini sedang mulai berinvestasi di Indonesia menyatakan keinginannya untuk mendapatkan dukungan yang sama dari pemerintah agar dapat menjalankan rencana jangka panjangnya di Indonesia,” tutur Jongkie.
Baca Juga: Ferrari Daytona SP3 Sebuah Karya Eksklusif dari Novitec
Sebagai langkah strategis ke depan, Gaikindo telah resmi mengajukan usulan kepada Kementerian Perindustrian untuk memperluas cakupan kebijakan stimulus.
Asosiasi berharap insentif tidak hanya berfokus pada segmen tertentu, melainkan menyasar seluruh tipe kendaraan, mulai dari Internal Combustion Engine (ICE), Hybrid (HEV), Plug-in Hybrid (PHEV), hingga kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).
Upaya ini diharapkan dapat memberikan dorongan yang adil dan merata bagi seluruh pelaku industri demi menjaga tren pertumbuhan pasar otomotif nasional yang sehat, kompetitif, dan berkelanjutan.