KabarOto.com - Menghitung rasio gir pada motor manual merupakan langkah penting untuk memahami karakteristik penyaluran tenaga mesin ke roda belakang. Pada dasarnya, rasio gir (gear ratio) adalah angka perbandingan antara jumlah gigi pada gir pemutar (drive gear) dan gir yang diputar (driven gear).
Ketika bisa menghitung angka rasio ini, pemilik motor dapat menyesuaikan karakter sesuai kebutuhan, mengincar akselerasi cepat di putaran bawah maupun mengejar top speed atau kecepatan maksimum yang lebih tinggi di trek lurus,
kata Kerijanto Hoetama, Punggawa Kerry Motorsport (KMS).
Baca juga:
4 Blok Mesin Ninja 150 2 Tak, Mau Tenaga Nyaman Atau 'Meledak'
Cara Menghitung Rasio Gir Akhir (Final Drive Ratio)
Penyesuaian rasio yang paling sering dilakukan oleh pemilik motor manual adalah pada gir rantai (rasio akhir/final ratio).
Sebagai contoh, jika motor menggunakan gir depan berukuran 14T (14 mata/gigi) dan gir belakang berukuran 42T (42 mata/gigi). Nilai yang keluar adalah 3, ini berarti gir depan perlu berputar sebanyak 3 kali penuh untuk membuat gir belakang (dan roda) berputar sebanyak 1 kali,
jelas Om Bob, panggilan akrab pria yang sempat membuat geger dunia balap di Era 2000-an awal lewat Kawasaki Ninja 'komputer' buatannya ini.
Baca juga:
Kawasaki Ninja 2 Tak Haram Pakai Oli Samping Murahan
Rasio Gir yang Sesuai Karakter
Ukuran rasio gir berbanding lurus dengan karakter tenaga yang dihasilkan oleh motor. Rasio besar artinya akselerasi ringan. Jika mengganti gir belakang ke ukuran lebih besar, misalnya dari 42T ke 45T, tarikan awal motor akan terasa lebih responsif dan enteng. Pengaturan ini sangat cocok untuk medan menanjak atau penggunaan di perkotaan yang sering stop-and-go. Namun, konsekuensinya adalah top speed akan berkurang dan napas tiap gigi terasa lebih pendek.
Rasio kecil dengan memperkecil gir belakang atau memperbesar gir depan, misalnya dari 14T ke 15T dengan gir belakang 42T, akselerasi awal terasa sedikit lebih berat. Namun, napas setiap gigi menjadi lebih panjang dan kecepatan puncak (top speed) motor di trek lurus dapat meningkat.
Menyesuaikan rasio gir membutuhkan keseimbangan antara tenaga mesin, bobot pengendara, dan karakter jalan yang sering dilalui agar performa motor tetap optimal tanpa membebani kerja mesin secara berlebihan,
tutupnya.

