KabarOto.com - Indonesia resmi memulai langkah konkret dalam memanfaatkan energi bersih di sektor transportasi melalui peluncuran Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (Bus H2 DDF) serta pengembangan Green Hydrogen Corridor yang membentang sepanjang 194 km menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban.
Inisiatif strategis ini diperkenalkan dalam ajang Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 yang berlangsung pada 21–23 Juli 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Baca Juga: Fitur Ubah Jadwal Keberangkatan di Damri Apps Mudahkan Penumpang
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bila hidrogen tidak hanya berperan dalam transisi energi, tetapi juga berpotensi memperkuat kemandirian dan swasembada energi nasional serta penguatan hilirisasi dan industrialisasi nasional.
Pengembangan hidrogen selaras dengan arahan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Hidrogen merupakan energi alternatif yang sangat penting di tengah kondisi geopolitik global yang tidak menentu, seperti konflik di Timur Tengah yang melahirkan ketidakpastian. Kondisi ini memaksa setiap negara untuk memproteksi kebutuhan energi nasionalnya dengan memanfaatkan keunggulan komparatif masing-masing,
ujar Bahlil.
Namun, Bahlil mengakui pengembangan hidrogen masih menghadapi tantangan, terutama biaya yang belum kompetitif dibandingkan dengan sumber energi lain, termasuk bahan bakar B50.

Masih mahalnya energi berbasis hidrogen menjadi tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar lebih kompetitif. Tetapi keyakinan saya dengan perang terus terjadi, dengan geopolitik yang tidak menentu dan tidak lagi gampang untuk kita mendapatkan minyak di blok-blok yang baru, maka tidak akan lama lagi harga hidrogen akan jauh lebih kompetitif dengan sumber BBM minyak lainnya,
jelas Bahlil.
Menjadi salah satu penerapan teknologi yang diperkenalkan dalam GHES 2026, Pilot Bus H2 DDF merupakan bus bermesin diesel milik Perum Damri yang telah dimodifikasi agar dapat menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan gas hidrogen.

Program ini dikembangkan melalui kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), dan Perum DAMRI. Pelaksanaannya didukung PT Sucofindo (Persero) sebagai lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi independen serta PT Tritunggal Prakarsa Global sebagai pelaksana proyek percontohan bus.
Bus H2 DDF dilengkapi 16 tabung penyimpanan hidrogen berkapasitas masing-masing 50 liter. Tabung itu memiliki tekanan nominal 200 bar dan tekanan kerja 150 bar, sementara sistem hidrogen dipasang pada bus Hino bermesin diesel enam silinder berkapasitas 7.684 cc.
Baca Juga: B50 Resmi Berlaku, ESDM Pastikan Bahan Bakar Aman dan Lolos Standar Pabrikan Kendaraan
Berdasarkan pengujian PT Sucofindo (Persero), sistem H2 DDF dilaporkan menurunkan emisi opasitas sebesar 57,66 persen, karbon monoksida sebesar 45,45 persen, karbon dioksida sebesar 39,37 persen, serta nitrogen oksida sebesar 21,16 persen.
Pilot bus dikembangkan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian bahan bakar fosil dengan hidrogen, dan menekan emisi gas buang tanpa harus langsung mengganti seluruh armada yang telah beroperasi.