Bisnis Cold Chain Menggeliat, Kendaraan Komersial Jadi Ujung Tombak

Bimo Hariyadi
Bimo Hariyadi
Jumat, 10 April 2026
Bisnis Cold Chain Menggeliat, Kendaraan Komersial Jadi Ujung Tombak

Fuso tampilkan beragam model truk di Giicomvec 2026

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Industri rantai pendingin alias cold chain di Indonesia kian menunjukkan geliat yang menjanjikan. Seiring perubahan gaya hidup masyarakat, mulai dari tren frozen food hingga menjamurnya cloud kitchen, kebutuhan distribusi berpendingin kini tak lagi sekadar pelengkap, tapi sudah jadi tulang punggung logistik modern.

Hal ini mengemuka dalam talkshow di ajang GIICOMVEC 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Pemerintah dan pelaku industri sepakat: peluangnya besar, tapi tantangannya juga belum bisa dianggap enteng.

Baca Juga: Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Jalur Logistik Sumatera

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda Kementerian Perhubungan, M Risal Wasal, menilai bahwa sistem cold chain kini semakin krusial dalam menjaga kualitas produk, terutama untuk pengiriman jarak jauh.

Truk berpendingin Fuso

“Dulu orang ragu kirim makanan jauh. Sekarang, dengan teknologi dan perubahan pola konsumsi, justru jadi kebutuhan utama,” ujarnya.

Tak hanya sektor makanan olahan, potensi cold chain juga merambah ke hasil perikanan, pertanian, hingga kawasan industri dan pariwisata. Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas, termasuk wilayah 3T—distribusi berpendingin menjadi solusi agar produk tetap segar sampai tujuan.

Pemerintah sendiri sudah mulai menggenjot efisiensi lewat konsep angkutan multimoda berbasis satu dokumen. Sistem ini diklaim mampu memangkas biaya logistik hingga 35 persen.

Namun di lapangan, tantangan masih cukup kompleks. Ketersediaan listrik untuk kontainer pendingin di kapal, sinkronisasi jadwal antar moda, hingga kapasitas angkut masih jadi hambatan klasik. Belum lagi soal standar keselamatan dan daya tahan jalan yang memengaruhi operasional kendaraan.

Dari sisi pelaku usaha, Chief Innovation Officer PT Trimitra Trans Persada Tbk, Gerry Ardian, menyebut peluang bisnis ini memang menggiurkan, tapi butuh kesiapan serius.

Regulasi sudah mendukung, tapi infrastruktur masih jadi kendala utama. Selain itu, menjaga suhu produk saat distribusi juga bukan hal mudah,” jelasnya.

Menurut Gerry, risiko terbesar justru ada di perjalanan. Kalau di gudang, suhu bisa dikontrol dengan sistem. Tapi di jalan, gangguan teknis seperti mesin atau pendingin bisa langsung berdampak ke kualitas barang.

Untuk menjawab tantangan tersebut, perusahaan logistik seperti B-Log mulai melakukan ekspansi, mulai dari penambahan gudang, penguatan armada, hingga digitalisasi sistem distribusi.

Sementara itu, dari sisi produsen kendaraan, Mitsubishi Fuso juga tak mau ketinggalan. Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Aji Jaya, menegaskan kesiapan mereka mendukung industri cold chain lewat berbagai lini kendaraan niaga.

Mulai dari truk ringan hingga heavy duty, semuanya bisa disesuaikan dengan kebutuhan distribusi berpendingin di berbagai kondisi jalan di Indonesia.

“Kami juga perkuat layanan purna jual di lebih dari 225 titik. Targetnya, operasional pelanggan bisa berjalan tanpa gangguan,” ujarnya.

Fuso bahkan mengusung konsep zero downtime, lengkap dengan mekanik terlatih dan layanan one stop service khusus kendaraan cold chain. Tak ketinggalan, fitur digital untuk memantau suhu muatan secara real time juga jadi andalan.

Pasalnya, dalam bisnis ini, selisih suhu sedikit saja bisa berdampak besar pada kualitas produk.

Baca Juga: Strategi Mitsubishi Fuso Perkuat Jalur Logistik Sumatera

Dengan potensi pasar yang terus berkembang, industri cold chain jelas jadi ladang bisnis yang menarik. Tapi seperti biasa, eksekusinya tetap bergantung pada kesiapan infrastruktur dan kolaborasi semua pihak.

Tags:

#Ekspor Mitsubishi Fuso #Komunitas Truk Fuso #Mitsubishi Fuso Fighter X FM65F Tractor Head 4x2

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan