KabarOto.com - Tren preferensi konsumen otomotif di Indonesia dinilai telah mengalami pergeseran antar generasi yang cukup signifikan. Generasi muda, khususnya Generasi Z dan Milenial akhir, kini cenderng menekankan pentingnya pengalaman konsumen (customer experience) ketimbang sekadar mempertimbangkan nilai jual kembali (resale value) saat memilih kendaraan.
Saya membayangkan bahwa cara berpikir generasi saya dengan generasi Milenial dan Gen Z memiliki perbedaan yang cukup mendasar,
ujar Yuniadi H. Hartono, Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS).
Ia menuturkan bahwa bagi generasi muda, customer experience, yang mencakup keseluruhan proses pelayanan mulai dari pembelian hingga kepemilikan, memiliki nilai yang sangat tinggi.
Baca Juga: Gen Z dan Milenial Jadi Pasar Mobil Hybrid & Listrik Potensial
Memahami Total Cost of Ownership pada Kendaraan Listrik
Perspektif tradisional kerap menjadikan nilai jual kembali sebagai pertimbangan utama dalam membeli mobil. Namun, pertimbangan tersebut dinilai tidak lagi sepenuhnya relevan jika dikalkulasikan melalui skema biaya kepemilikan menyeluruh atau Total Cost of Ownership (TCO).
Perhitungan TCO mencakup akumulasi biaya Harga Beli Awal (Purchasing Price), Biaya Operasional & Energi (seperti Pajak dan Bahan Bakar/Listrik), Biaya Perawatan & Servis (Maintenance), Pengurangan Nilai Jual Kembali (Resale Value).
Melalui skema ini, kehadiran produsen otomotif baru, seperti merek-merek asal Tiongkok, serta kendaraan berbasis listrik (EV) memberikan efisiensi biaya yang cukup masif.
Mobil dengan spesifikasi setara mobil konvensional seharga Rp450 juta kini dapat diperoleh di kisaran harga Rp300 jutaan. Dari sisi efisiensi energi, konsumsi listrik kendaraan EV hanya membutuhkan sekitar 1/4 hingga 1/5 dari total biaya bahan bakar minyak (BBM) biasa,
jelas Yuniadi.
Baca juga:
MPV dan SUV Masih Rebut Hati Pemilik Mobil di Indonesia
Efisiensi Biaya Operasional Mengalahkan Kekhawatiran Nilai Jual Kembali
Meskipun nilai jual kembali kendaraan listrik di pasar mobil bekas masih sering dipertanyakan, penurunan nilai tersebut dinilai terkompensasi oleh rendahnya biaya operasional harian.
Faktor-faktor pendukung efisiensi tersebut meliputi adanya kebijakan potongan atau insentif pajak kendaraan ramah lingkungan. Komponen mesin kendaraan listrik yang lebih minim membuat biaya perawatan berkala jauh lebih murah dibandingkan mobil bermesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine / ICE).
Secara keseluruhan, akumulasi pengeluaran konsumen untuk kendaraan listrik dinilai tetap lebih kecil dibandingkan kendaraan konvensional. Pergeseran paradigma ini memperlihatkan bahwa fokus utama konsumen saat ini telah beralih pada total pengeluaran nyata yang dikeluarkan selama masa kepemilikan, bukan lagi sekadar angka nilai jual kembali di masa depan.

