Ini Termasuk Nekat, Jakarta-Bali-Jakarta Naik Vespa 77

Abdi Kurniawan
Abdi Kurniawan 06 Jun 2015 - 05:42
Ini Termasuk Nekat, Jakarta-Bali-Jakarta Naik Vespa 77
Dilli membuktikan bahwa mimpinya terwujud touring bersama Vespa 1977 Jakarta-Bali-Jakarta (Foto: Dok Dilli)

Touring- Rachmad Dilli adalah penunggang motor tua, Vespa tahun 1977. Ketika itu ia mempunyai mimpi, dirinya bersama Vespa buatan Itali tahun 1977 akan menginjak Bali. Tapi apakah mungkin? Inilah ungkapan yang terlintas. Dengan modal nekat dan keyakinannya, Dilli yang tergabung di klub Kampus Tercinta Scooter (KATS), ia nekat touring Jakarta-Bali-Jakarta yang ditemani dengan Vespanya. Dengan sejelas-jelasnya pria yang berkulit hitam manis ini, menuturkan kepada KabarOto.com perihal pengalaman perjalanan jauhnya tersebut.

Sebagai seorang yang sudah lama menggunakan motor tua mungkin adalah mimpi jika motor tua yang ia punya dan sudah bertahun-tahun masih tetap bisa dipakai mulus dijalan raya dan berpergian jauh kemana inginnya melaju. Rencana ini merupakan planning yang ingin diwujudkan sejak lama. Namun masih belum mempunyai waktu yang tepat untuk realisasinya.

"Sebenarnya wacana ini memang plan saya diawal tahun sebelumnya untuk pergi ke Bali riding dengan Vespa bersama teman-teman KATS tapi apa boleh buat karena saya juga tidak ingin nekat jika harus riding sendirian Jakarta–Bali–Jakarta. KATS membatalkannya untuk ide saya ini," ungkap Dilli.

Ide ini terus digembor-gemborkan kepada teman-teman KATS dan ia selalu mengajak siapa yang ingin menemani touringnya ini. Apa yang terjadi teman-teman tersebut hanya berkata, lo gila ya. Nyiksa badan namanya tuh. Disaat itulah ia mempunyai seorang teman setia yang ingin tetap ikut touring bersamanya. Ketika itu ia mengambil momen Idul Fitri untuk melaksanakan perjalanan jauhnya ini. Ia berangkat pukul 21.00 WIB dari Jakarta, dari depan rumahnya.

"Tapi sebelumnya saya sudah service motor. Akhirnya saya dan teman saya itu berangkat. Saya yang pegang kendali scooter sampai masuk Pantura. Perjalanan dilalui dengan lancar tanpa adanya hambatan walaupun dibasahi hujan. Pukul 04.00 WIB, saya sudah di titik point pertama, Cirebon. Kami istirahat dan tidur dipelataran mesjid bersama pemudik motor yang juga sedang istirahat disana," ujar Dilli yang sore harinya sudah masuk kota Semarang.

Setelah beristirahat melepas lelah dan makan, mereka kembali menggas motornya. Di sinilah, Dilli menjadi boncenger. Temannya yang pegang kendali Vespa 77 itu untuk menuju titik point kedua, Surabaya.

"Dari Rembang menuju Surabaya jalanan bener-bener sepi dan kita sering masuk hutan yang jarang banget ada yang lewat, apa lagi penerangan jalan masih seadanya, ngandelin lampu Vespa doang sukur-sukur bisa liat jalan, nah joki yang bawa klo malem wajib pake headlamp sebagai lampu tambahan, co-pilot juga pasang sticklamp buat tanda mobil yang di depan, bukan jalanan berlubang yang kita takutin tapi disamber mobil dari depan sebenernya kalau kita gak bisa ngasih tanda cahaya pas malem hari riding. Kami tiba pukul 02.00 dan sudah memasuki hari ketiga," ucapnya yang dilanjutkan dengan istirahat di emperan yang hanya beralaskan matras.

Kemudian, mereka melanjutkan perjalanannya menuju Banyuwangi. Target mereka di kota Banytuwangi sore agar malamnya tiba di pulau Bali. Hanya beberapa jam mereka dan Vespa 77 berhasil melibas jalan Surabaya dengan trek lurus. kota demi kota, Kabupaten dilewati begitujuga ladang dan sawah.

Alami Masalah
Ditengah jalan tersebut drat tromol belakang habis terkikis. Singkatnya ia menelepon temannya untuk meminta bantuan. Namun telepon tersebut tidak dibalas oleh temannya itu. Ia mengutik sendiri permasalahan tromol. Ketika ia sudah berhasil mengatasi problem rem, temannya itu barulah menelepon balik dan menyarankan agar tidak melanjutkan perjalanannya, karena jalan yang akan dilintasi adalah hutan. Namun Dilli mempunyai keyakinan.

Dilli dan temannya tetap menjalankan perjalanan. Saat ini yang memiloti Vespa 77 adalah Dilli. Jalanan sangat gelap jarang ada yang melalui jalan ini pas malam hari mobil pun melibas habis tidak kurang dari enam puluh kilometer perjam. Mereka tetap utamakan safety riding di dalam hutan tersebut. Akhirnya mereka berhasil keluar dari hutan.

"Memasuki kota ini kita hanya menikmati malam dengan tidak terlalu terburu-buru dan akhirnya kita sampai di Pelabuhan Ketapang. Im coming Bali. Kami tiba di Gilimanuk dan melanjutkan perjalanan ke Bali ke kotanya. Ringkasnya, untuk memasuki kota Bali, mereka harus melintasi hutan walaupun hanya sesaat. Keduanya lelah dan beristirahat di posko mudik.

Paginya, mereka mempercepat langkahnya agar bisa menikmati indahnya pulau Dewata. Saat mereka di jalan, mereka singgah di bengkel Vespa untuk memperbaiki drat tromol rem.

"Tiba juga kami di Kuta Rock City. Kami langsung selfi-selfi. Di depan tugu pantai Kuta bersama Vespa saya ingin memamerkannya ke grup KATS. Ini adalah pembuktian dua hari setengah perjalanan dan saya berhasil sampai juga. Have fun have fun have fun, itu yang harus kita lakukan sekarang. Masuk kedalam pantai Kuta langsung saya ceburkan badan ini dan bermain bersama ombak tidak lama memang karena fokus saya terpecah antara ombak dan touris yang sedang asik berjemur dengan bikininya. Kami tidak lama, karena targetnya besok pulang ke Jakarta," gembira Dilli. (aku)

Baca Juga:

KATS, Eratkan Silaturahmi Mahasiswa antar Penunggang Vespa
Dwi: Ternyata Jadi Cewek Motor Itu Enak