KabarOto.com - Pengamat MotoGP, Carlo Pernat, melontarkan kritik keras terhadap padatnya kalender balap MotoGP, terutama setelah hadirnya sesi Sprint. Menurutnya, jadwal yang semakin rapat dan risiko kecelakaan yang tinggi bisa menjadi ancaman serius bagi kejuaraan dunia, terlebih ketika sejumlah pebalap ternama harus absen akibat cedera.
Pernat menyampaikan pandangannya dalam podcast Fast by Prosecco. Ia menyoroti bagaimana kombinasi balapan Grand Prix, Sprint, dan rangkaian akhir pekan balap yang berdekatan dapat meningkatkan risiko bagi para pembalap.
Baca Juga: Aprilia RS 660 Phillip Island Meluncur, Dihapus Kalender MotoGP
Salah satu insiden yang menjadi sorotan adalah kecelakaan Jorge Martin yang mengakibatkan patah pergelangan tangan. Bagi Pernat, kondisi tersebut menunjukkan bahwa padatnya jadwal balap perlu mendapat perhatian serius dari penyelenggara MotoGP.
"Dia mengalami patah pergelangan tangan. Itu bukan hal bagus. Jadwal balapan sangat berdekatan. Seperti yang kami katakan sebelumnya, 44 balapan antara Grand Prix, serta Sprint, dengan tiga akhir pekan beruntun, adalah kehancuran bagi kejuaraan dunia MotoGP," ujar Pernat.
Sprint MotoGP Dinilai Tingkatkan Risiko Pebalap Cedera
Menurut Pernat, sesi Sprint bukan sekadar menambah jumlah balapan dalam satu akhir pekan, tetapi juga memperbesar risiko kecelakaan yang bisa berdampak pada partisipasi pebalap dalam balapan utama pada Minggu.
Dengan jadwal yang padat, pebalap memiliki waktu terbatas untuk memulihkan kondisi fisik setelah mengalami insiden. Cedera yang terjadi dalam Sprint pun berpotensi membuat mereka kehilangan kesempatan tampil pada balapan utama.
Pernat menilai situasi tersebut semakin mengkhawatirkan karena sejumlah pebalap ternama mengalami masalah kebugaran maupun cedera yang mengganggu partisipasi mereka.
"Jika pebalap jatuh di Sprint, maka dia tidak akan balapan pada Minggu. Dan itu terjadi. Kita lihat ada lima rider ternama yang tidak akan balapan pada Minggu berikutnya. Tentu ini gila! Dan jelas ini juga disebabkan oleh Sprint," tegasnya.
Meski demikian, penilaian Pernat merupakan kritik terhadap format dan kepadatan kalender balap. Kecelakaan serta cedera tidak selalu disebabkan oleh Sprint semata, karena banyak faktor lain yang turut memengaruhi risiko di lintasan.
Toprak Razgatlioglu hingga Jorge Martin Jadi Sorotan
Dalam pernyataannya, Pernat turut menyinggung lima nama yang menjadi perhatiannya, yakni Toprak Razgatlioglu, Jorge Martin, Alex Rins, Joan Mir, dan Fermin Aldeguer.
Menurutnya, masalah yang dialami para pebalap tersebut dapat mengurangi kualitas persaingan yang disajikan MotoGP kepada penonton.
Kehadiran pebalap papan atas menjadi salah satu daya tarik utama dalam sebuah Grand Prix. Ketika beberapa nama besar tidak bisa tampil, penggemar berpotensi kehilangan kesempatan menyaksikan persaingan yang seharusnya tersaji di lintasan.
"Siapa pun yang datang menonton Grand Prix pada Minggu kehilangan pebalap-pebalap bagus," ucap Pernat.
Pernyataan tersebut menegaskan kekhawatirannya bahwa jadwal yang terlalu padat bukan hanya berdampak pada kondisi pebalap, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas tontonan dan daya tarik kejuaraan.
Carlo Pernat Peringatkan MotoGP Bisa Menghadapi Masalah Serius
Kritik Pernat bukan kali pertama ditujukan terhadap arah perkembangan MotoGP. Ia kembali mengingatkan bahwa kejuaraan balap motor paling bergengsi tersebut perlu mengevaluasi dampak kalender yang semakin padat.
Format Sprint memang menghadirkan tambahan aksi dan peluang meraih poin bagi pebalap. Namun, menurut Pernat, peningkatan jumlah balapan juga perlu diimbangi dengan perhatian terhadap keselamatan, pemulihan fisik, dan kualitas persaingan.
Jika semakin banyak pebalap harus absen akibat cedera, MotoGP berisiko kehilangan salah satu elemen terpentingnya, yakni persaingan para rider terbaik di lintasan.
"Saya selalu mengatakan bahwa MotoGP sedang melaju kencang menabrak tembok, dan saya mengatakannya lagi hari ini, setelah apa yang terjadi dan apa yang kami lihat," tutup Pernat.
Baca Juga: Jorge Martin: 'Dogfight' Juara Dunia MotoGP Tetap Berlangsung
Kritik ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai keseimbangan antara hiburan, jumlah balapan, dan keselamatan pebalap. Bagi MotoGP, tantangannya adalah mempertahankan format yang menarik bagi penonton tanpa mengabaikan risiko fisik yang harus dihadapi para rider sepanjang musim.