Mochamad Ridwan Kamil: Kesenangan Saya Untuk Semua

Mochamad Ridwan Kamil: Kesenangan Saya untuk Semua Menurutnya, bekerja tidak perlu banyak omong, yang penting berkarya. Semakin banyak orang yang senang dan berbahagia, membuat hidup di perkotaan manusiawi. (Foto/Mabua-Magazine/Wyesnoe)

Siapa yang tidak mengenal sosok pria ini? Warga Kota Bandung tentunya sangatlah kenal dekat. Iya ia adalah Mochamad Ridwan Kamil, akrab disapa Kang Emil, Sang Wali Kota Bandung. Yuks simak penuturannya.

Ia merupakan sosok kepala daerah yang senang dan tulus bekerja. Karyanya pun sudah banyak dan tak lagi diragukan. Hasil karyanya, antara lain, pembangunan taman-taman kota yang cantik yang membuat penampilan Bumi Parahiyangan semakin apik dan eksotik. Taman-taman dibangun dengan aneka tematik seperti Taman Super Hero, Taman Film, Taman Tongkeng, Taman Jomblo, Taman Musik, Taman Fotografi, Taman Pets, Taman Pustaka Bunga, Taman Lansia, dan lainnya. Warga setempat dapat menikmati rekreasi gratis di taman.

“Kini warga Kota Bandung punya banyak pilihan untuk main di taman-taman, di ruang terbuka hijau yang sehat dan menyegarkan,” kata Mochamad Ridwan Kamil yang kelahiran Bandung 4 Oktober 1971.

Dulu, Bandung terkenal dengan taman-tamannya yang penuh dengan kembang sehingga mendapat predikat Kota Kembang. Namun, di tengah modernisasi, taman-taman semakin tergerus dan tidak terurus. “Oleh sebab itu, kita urus kembali taman, kita bangun taman-taman yang indah,” kata Kang Emil yang lulusan S-2 Master of Urban Design (MUD) dari University of California, Berkeley dan pernah bekerja di Departemen Perencanaan Tata Kota Berkeley, Amerika Serikat.

Menurutnya, bekerja tidak perlu banyak omong, yang penting berkarya. Semakin banyak orang yang senang dan berbahagia, membuat hidup di perkotaan manusiawi. Tingkat kebahagiaan atau index of happiness warga Kota Bandung pun semakin bertambah.

Tak hanya urusan taman, persoalan yang dihadapi Bandung memang cukup kompleks. Mulai dari kemacetan, pedagang kaki lima, sampah, dan infrastruktur. Banyak yang harus dikerjakan. Resepnya membangun infrastruktur, edukasi, dan regulasi. Persoalan sampah, misalnya, kalau menyediakan banyak tempat sampah hanya meng-upgrade infrastruktur. “Saya perlu edukasi untuk mengubah mindset agar masyarakat berpartisipasi menjaga kebersihan. Lalu, diikuti dengan regulasi dan sanksi. Buang sampah sembarangan di Bandung kena denda,” katanya. Kang Emil lantas bertekad, Bandung bisa menjadi smart city untuk mengatasi aneka kasus di kotanya tersebut.

Pengertian smart city adalah menjadikan Bandung sebagai kota yang komunikatif dengan aksesibilitas tinggi. Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terintegrasi sehingga mudah dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dalam melayani masyarakat. Termasuk mengupayakan seluruh layanan publik dapat dilakukan secara online. Untuk mendukung upaya tersebut, Kang Emil membangun semacam pusat komando atau Command Center di Balai Kota Bandung. Pusat komando informasi dan komunikasi ini mengadopsi teknologi canggih yang terkoneksi dengan perangkat CCTV yang dipasang di 80 titik strategis penjuru Kota Bandung. Dari ruangan Command Center, aparatur pemerintah kota bisa memantau peristiwa ataupun kejadian di kotanya. Selain itu, dapat berkomunikasi jarak jauh secara audio-visual hingga ke level kecamatan dan kelurahan.

Dari sisi pariwisata, Bandung menarik bagi para wisatawan, baik dari nusantara dan mancanegara. “Bandung ini kota turis. Ada 6 juta wisatawan ke Bandung setiap tahunnya. Sebanyak 80% dari jumlah tersebut berasal dari Jakarta. Supaya turis tetap senang jalan-jalan ke Bandung, kami menyediakan fasilitas wisata. Ada bus-bus yang akan melayani tour keliling kota bernama Bandung Tour On The Bus atau Bandros,” kata suami Atalia Pararatya ini. Bus tingkat ini mirip dengan yang ada di Singapura dan beberapa kota besar di Eropa seperti London dan Paris.

Pembangunan Kota Bandung yang Terus Berlanjut

Saat ini, pembangunan infrastruktur terus berlangsung. “Sekarang, kami berjuang membangun monorail, cable car, dan jalan untuk alternatif mobilitas, mengatasi kemacetan. Sebab, semakin banyak orang berdatangan ke Bandung. Sarana dan prasarana untuk dapat bergerak tentunya harus terus dibangun,” kata Kang Emil.

Di samping pembangunan fisik, Kang Emil mesra dengan masyarakat setempat. Ia mewajibkan pejabat aparatur, mulai dari camat, lurah, rukun tetangga, rukun warga dan dirinya sendiri secara rutin dan bergiliran bersilaturahmi ke rumah-rumah warga. ”Kami jadi tahu persis permasalahan yang dihadapi. Bila pemimpin memahami kesulitan warganya, bisa mencari solusi dengan baik,” kata ayah Camillia Laetitia Azzahra dan Emmiril Khan Mumtadz ini.

Dedikasi Kang Emil berbuah manis. Tak hanya index of happiness yang bertambah, kepercayaan masyarakat kepada pemerintah kota semakin meningkat. Survei Lemhanas menunjukkan, kepercayaan warga Kota Bandung meningkat sampai 90%, ini prestasi yang terpuji. ”Artinya, masyarakat percaya bahwa pemerintah melakukan sesuatu untuk pembangunan dan perubahan lebih baik,” kata pendiri Bandung Creative Froum ini.

Kendati sibuk berat, Kang Emil tetap memperhatikan keluarganya. Bersenda gurau, berkumpul, memeluk anak-anak dan istri setiap hari efektif untuk menjaga keharmonisan rumah tangga. Semangat kerja juga terjaga. Sejak menjabat wali kota, Kang Emil mengaku mengalami perubahan fisik. ”Dulu, sebelum jadi wali kota, saya belum ada ubannya. Sekarang ada nih,” katanya tertawa sambil menunjukkan uban di rambutnya. Baginya, berada di tengah keluarga menjadi oase penyejuk. “Kembali ke rumah saya dipeluk anak, dipeluk istri. Gantian peluk-pelukan. Anak suka cabutin uban-uban saya. Paginya fresh, siap bekerja dengan senang hati untuk masyarakat Kota Bandung,” katanya. (Naskah dan Foto: Mabua-Magazine)

Baca Juga: