Penjualan Mobil Bulan Mei Turun, Ini Penyebabnya

Penjualan Mobil Bulan Mei Turun, Ini Penyebabnya

KabarOto.com - Tahun 2020 penjualan otomotif mengalami penurunan yang drastis. Karena daya beli masyarakat menurun, akibat pandemik Covid-19. Dalam situasi tersebut, kegiatan pun dibatasi hanya online yang bisa dijalankan oleh diler untuk menjual mobil.

Namun, tahun 2021 sudah mulai membaik, seiring dilonggarkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Maret 2021 menjadi puncaknya, saat Pemerintah memberikan stimulus berupa pembebasan PPnBM untuk mobil dengan mesin 1.500 cc ke bawah. Dilanjutkan dengan mobil dengan mesin 2.000 cc sampai 2.500 cc.

Baca Juga: Tak Dapat Insentif PPnBM, Penjualan Daihatsu Sigra Paling Banyak

Penjualan otomotif nasional mecetak rekor tertinggi pada April 2021, capaian penjualan sebesar 79.000 unit, atau naik sekitar 2,6% dibandingkan Maret 2021. Hasil ini tidak lepas dari dukungan pemerintah melalui program insentif diskon pajak yang sudah disebutkan di atas.

Penjualan mobil menurun akibat diler tutup libur lebaran

Namun Mei 2021, penjualan kembali turun hal itu karena masyarakat dilarang untuk mudik dan bepergian ke luar kota. "Lebaran biasanya naik 10%, bulan Mei lalu turun. Meski tidak mudik tapi kan libur," terang Division Head Marketing & Customer Relation, Astra International-Daihatsu Sales Operation (AI-DSO) Hendrayadi Lastiyoso.

Masyakat berfikir, membeli mobil sekarang belum tentu bisa dipakai mudik. "Kalau mereka beli di bulan Mei, kan belum tentu bisa dipakai mudik, makanya banyak yang menunda," tutur Hendrayadi.

Selain itu diler tutup dan tenaga penjual juga libur lebaran. Selain itu, bulan Mei juga banyak konsumen yang menganggap, membeli mobil di bulan Mei belum tentu mendapatkan PPnBM 0%. "Selain Pandemik, Mei masih belum tentu dapat PPnBM 0%," tambah pria berkacamata ini.

Baca Juga: Target 500 Unit Terjual Sebulan, Harga Daihatsu Rocky Setelah PPnBM 100 Persen

Daihatsu juga sudah memprediksi, bahwa ada penurunan penjualan di Mei tahun ini. "Market Mei ini anomali, pasti akan turun dari market sebelumnya," terangnya.

Namun, dia berharap, situasi ini tidak akan lama, penjualan akan kembali lagi. "Kami harap grafik naik, konsisten sehingga bisa sampai ke market normal 80.000 sampai 90.000," terangnya.