RetroActive, Berawal Dari Obrolan Satu Hobi

RetroActive, Berawal dari Obrolan Satu Hobi Foto: Istimewa

KabarOto.com - Saat ini, mobil-mobil retro kembali menjadi sebuah barang buruan untuk yang hobi otomotif, memiliki nilai sejarah, kenyamanan hingga performa menjadi alasan orang-orang ini masih memeilihara mobil tua atau retro.

Apalagi ini merupakan sekumpulan wartawan atau jurnalis media otomotif. Mereka bukan hanya memiliki, bahkan masih menggunakan mobil-mobil era 1980 hingga 2000-an. Kondisi mobilnya pun masih apik dan terawat, bahkan ada wartawan senior masih memelihara VW Kombi dan Peugeot 504.

Berawal dari obrolan via Whatsap bahkan saat bertemu, akhirnya mulai banyak yang saling tersambung perihal obrolan mobil retro. Jumlahnya ternyata cukup banyak, akhirnya diputuskan untuk membentuk wadah untuk saling berkumpul dan bertukar pikiran tadi, yang diberi nama RetroActive Indonesia pada Mei 2018.

Awalnya hanya belasan orang saja, rajin nongkrong dan eksis di medsos. Membuat yang memiliki hobi sama ikut bergabung, kini sudah mencapai 34 member yang berprofesi sebagai wartawan dan karyawan sebuah perusahaan otomotif di Indonesia.

Baca juga: Euro Retro Enthusiast Gelar Konvoi Bareng Ke Kota Hujan

Komunitas ini tidak hanya sebatas pemilik mobil klasik dan retro belaka, mereka kerap bertukar informasi tentang produk aksesori untuk menambah gaya mobilnya.

Ada juga memelihara mobil-mobil tersebut dengan alasan historis, hingga untuk mengenang masa kecilnya. "Mitsubishi Lancer GLXi keluaran 1995 sudah ada sejak dari dulu, beli dari baru. Malah masih ada tuh Toyota Corolla Twin Cam 1991 juga dari baru, masih belum dapat sentuhan restorasi," ujar Bimo Aribowo.

Berbeda dengan Dimas Aska yang merupakan Head of Media Relation di salah satu perusahaan otomotif asal Jepang, "Menarik punya mobil retro ini, masih nyaman dipakai dan memiliki nilai historis," tambah pembesut Toyota Crown Royal Salon 3.0 lansiran 1995.

Satu hal yang menarik pada saat berkumpul, mencocokan waktu sangat sulit. Maklum, namanya juga para wartawan, kadang berbentrokan dengan waktu bekerja atau liputan, bahkan waktu bersama keluarga bisa menjadi alasan sulitnya berkumpul.

Paling seru saat ketemuan adalah obrolan seru saat era 1990-an. “Ketika bahas suasana gaul mobil di era lalu, gimana cara modif mobil di tahun 1990-an. Tempat nongkrong paling hits tahun itu seperti di Menteng dan Sudirman, menjadi menu utama obrolan,” ungkap Rio Fajar pemilik Land Rover Defender 200TDi lansiran 1992.

Obrolan menarik lainnya tentu seputaran modifikasi, komponen-komponen lama seperti pelek model JDM, tirai kaca belakang, stik cobra dan jok Recaro menjadi barang buruan, tak heran harganya kini bisa mencapai 2 bahkan 4 kali lipat.

Lucunya, saat obrolan mulai memasuki tempat nongkrong, ternyata dahulunya saat masih sekolah adalah satu tongkrongan. “Dulu ngga saling kenal, tapi ternyata antar-kita pasti satu tongkrongan,” beber Rio.

Berbeda dengan Benny Suryakusumah, pembesut Mercedes-Benz 230E Matik 1993, malah suka kumpul dengan teman-teman retro-nya tersebut, karena bisa mendapatkan masukan untuk mendandani mobil kesayangnnya.

Baca juga: Narsis? Cek Galeri Euro Retro Enthusiast Meet Up Ini

Kenapa pilih mobil retro? Karena memang hobi mobil dan mobil retro itu nilai historisnya tinggi. “Land Rover Defender gue seri 110 Wagon mesin 200TDi. Pertama dulu keluarga punya jip, ya Defender ini. Dari baru, trus mobil ini udah keliling Sumatera, Jawa, Bali dan banyak destinasi liburan lain,” ungkap Rio.

"Walau mobilnya sudah tua, tapi kalo ngomongin kenyamanan, wah ngga ada bandingannya. Apalagi jika mobil dalam kondisi fit dan mulus, rasanya bangga masih punya mobil tua semulus ini,” tutup Dimas Aska.

Itu hanya secuil alasan dari para pengguna mobil retro tersebut, kini wabah retro memang tengah menjadi tren. Walaupun mobil tua masih tetap menjadi koleksi, rasanya generasi usia 40-an cenderung memilih mobil retro. Sesuai masa kecil atau mudanya dahulu.

Berita Terkait

Berita Terkait