KabarOto.com - Sebuah drama taktis tingkat tinggi tersaji di lintasan legendaris Spa-Francorchamps. Menghadapi dominasi mutlak Mercedes yang digawangi Kimi Antonelli, Oracle Red Bull Racing berhasil membalikkan keadaan lewat strategi slipstream yang dieksekusi dengan presisi.
Sang otak di balik layar, CEO & Team Principal Laurent Mekies, secara sengaja mengorbankan Isack Hadjar demi melambungkan Max Verstappen ke barisan depan grid start F1 Belgia 2026.
Sejak awal akhir pekan, Red Bull menyadari bahwa mereka kalah telak dalam hal kecepatan di lintasan lurus (straight-line speed) dibandingkan Mercedes.
Baca Juga: Jelang F1 Belgia 2026: Memahami Sirkuit Spa-Francorchamps
Situasi semakin rumit karena Hadjar sudah dipastikan terkena penalti mundur ke belakang grid akibat pergantian komponen mesin baru.
Alih-alih meratapi nasib, Mekies justru melihat celah dan merancang sebuah rencana berani yang terbukti menjadi penyelamat tim.
Kami tahu sejak datang ke sini bahwa kami akan mendapat penalti dengan Isack dan dia akan start dari belakang. Jadi, sejak awal akhir pekan, rencananya adalah memanfaatkan situasi ini sebaik mungkin. Kami meminta Isack untuk membantu Max sepanjang kualifikasi dengan slipstream,
ungkap Laurent Mekies dengan nada puas.
Mekies memuji koordinasi anak asuhnya yang tampil tanpa cela di Q3.
"Dia (Hadjar) dan tim mengeksekusi rencana ini dengan kesempurnaan mutlak, dan itu tentu saja membantu Max berada di barisan depan. Kami tertinggal jauh dari performa trek lurus yang ditunjukkan Mercedes akhir pekan ini, dan tow (tarikan angin) itu jelas membantu memangkas jarak," tambah sang bos.
Kerja Sama Tim yang Sempurna di Sektor Terakhir
Dalam kecepatan di atas 300 km/jam, memberikan tow atau hambatan angin di era regulasi mobil saat ini bukanlah perkara mudah. Namun, Isack Hadjar dengan besar hati merelakan catatan waktu pribadinya di Q3 demi memberikan 'jalan pintas' bagi sang juara dunia bertahan. Hadjar menahan laju mobilnya di sektor terakhir untuk memberikan efek aerodinamis yang krusial bagi Verstappen.
Max Verstappen pun tidak segan-segan melayangkan pujian tertinggi kepada rekan setimnya tersebut. Tanpa pengorbanan Hadjar, pembalap asal Belanda ini meyakini dirinya akan terlempar dari barisan depan.
Saya pikir kami benar-benar mengeksekusi tugas dengan sangat baik sebagai sebuah tim hari ini. Tentu saja, Isack membantu saya di Q3 dengan tow di sektor terakhir. Terima kasih besar untuknya, karena itu adalah salah satu alasan utama mengapa saya duduk di sini, di P2 untuk balapan besok. Kami mendapat keuntungan sekitar tiga persepuluh detik. Tanpa itu, kami kemungkinan besar hanya akan kualifikasi di sekitar P6,
aku Verstappen jujur.
Baca juga:
Kimi Antonelli Rebut Pole Position di F1 Belgia 2026
Bagi Hadjar sendiri, menjalankan peran sebagai 'pelayan' tim di tengah ketatnya persaingan F1 adalah misi yang diselesaikan dengan kepala tegak. Kendati harus memulai balapan dari posisi buncit akibat penalti, pembalap asal Prancis ini mengaku bangga bisa berkontribusi maksimal bagi Red Bull.
Misi kami hari ini sangat jelas dan kami berhasil mengeksekusinya, jadi kami bisa bahagia dengan kerja keras hari ini. Saya tahu saya harus menembus Q3 dan kami berhasil melakukannya dengan cukup nyaman. Agak sulit untuk memberikan tow dengan regulasi ini, karena Anda tidak tahu bagaimana mesin akan berperilaku dan harus mengelola pengerahan tenaga secara berbeda, tetapi kami mengatur waktunya dengan sangat tepat,
urai Hadjar.
Menatap balapan hari Minggu, tantangan besar masih menanti. Kimi Antonelli yang meraih pole position tampak sangat kuat, namun berkat instruksi genius dari Laurent Mekies, Verstappen kini memiliki posisi strategis untuk langsung menekan sejak tikungan pertama. Sementara itu, Hadjar siap mengamuk dari grid belakang demi mengamankan poin.

