
Galih mengaku ia banyak mengalami kendala teknis saat proses restorasi dan pemasangan part pada mobil ini. Misalnya saat membuat nat pada kontur bodi agar sama dengan saat mobil ini masih baru, dan proses pemasangan girboks transmisi yang bermasalah pada elektroniknya.
"Itu girboks kalau di negara asalnya sih sudah dilempar ke penjualnya mungkin, disini kami enggak mungkin retur ke asalnya mengingat akan memakan waktu dan biaya lebih banyak lagi," curhatnya.
Solusinya, penggeber Holden Monaro legendaris di lintas Sudirman era 80-90an itu harus mengurut ulang wiring pada sistem transmisi agar ketika soket dipasang, semua berfungsi dengan normal.
"Saya dan terutama istri saya memang ingin mobil ini bisa dikendarai dengan nyaman meski punya tenaga yang besar dan identik dengan mesin yang panas. Istri sampai buatkan jok mobil ini dengan teknik waterpass layaknya produsen Bugatti saat proses pembuatan jok mereka," beber penikmat kuliner Nusantara itu.
Hal unik lainnya adalah konstruksi sasis yang sengaja dibuat punya lebih banyak titik tumpu untuk suspensi sesuai perhitungan G-Speed Indonesia. tak heran total pengerjaan termasuk riset dan pengembangan juga percobaan diklaim Galih memakan waktu 24 bulan!
Pria asal Jawa Tengah itu bilang, "sengaja kita buat demikian, karena ketika pemiliknya bosan dengan air suspension, sasis ini juga mumpuni untuk melibas trek speed offroad dengan mesin buatan saya," salut!
Baca Juga: Ford F1 1948 – Muscle Truck Terinspirasi Film MacGyver