Fitur pada setang pun cukup unik karena penempatannya agak tak lazim bagi orang Indonesia. Seperti starter elektrik yang ditempatkan di tombol yang biasanya untuk lampu dim/ tembak. Selain itu, choke yang biasanya ditempatkan di saklar kiri paling bawah, justru ditaruh paling atas dengan bentuk seperti handle rem dan kopling hanya saja dengan dimensi lebih kecil.

Menggunakan choke, memang motor ini mengandalkan karburator Delorto berdiameter 32 mm. Hal positifnya, settingan bisa dimaksimalkan secara manual dan tak perlu repot dengan urusan sensor.

Menyinggung urusan dapur pacu, motor dengan kapasitas mesin 249,6 cc ini dapat menghasilkan tenaga sebesar 25,47 dk dan torsi 23 Nm. Mesin berpendingin cairan ini menggendong single camshaft (SOHC) 4-tak yang tenaganya disalurkan ke transmisi 6 percepatan.

Asyiknya, waktu bejek gas motor ini di trek motocross Paramount Land, Tangerang, mindset negatif tentang motor lokal seakan terbuang begitu saja. Dari beberapa aspek motor ini bahkan bisa mirip produksi luar negeri.

Baca Juga: Test Ride - New Ducati Monster 821 2019, Si Legendaris Pengabdi Torsi

Hal paling menonjol adalah mesinnya yang responsif ala motor-motor trail special engine (SE) yang dibuat untuk berkompetisi. Meski bukan kategori SE dan harganya jauh dibawah motor berspesifikasi SE yakni Rp 45 juta (On The Road September 2019), namun dari aspek kaki-kaki dan performa motor lokal ini memang patut diacungi jempol.

Hanya kendala minor yang dialami test rider Kabaroto seperti kaki-kaki sedikit bunyi dan kondisi rantai yang kurang terlalu baik serta tuas transmisi dan kopling yang tidak sinkron sejak unit tes datang. Itupun masih bisa melahap trek Paramount Land dengan baik, terbayang jika motor ini sehat, pasti lebih ganas lagi.

Lanjut Baca lagi