KabarOto.com - Ferrari akhirnya resmi masuk ke era mobil listrik. Pada 25 Mei lalu di Roma, Italia, pabrikan asal Maranello itu memperkenalkan Luce, mobil listrik pertama mereka yang langsung mencuri perhatian bukan cuma karena spesifikasinya, tapi juga karena desainnya yang menuai pro dan kontra.
Luce hadir dalam format sedan liftback empat pintu dengan kapasitas lima penumpang. Menariknya, pengembangannya turut melibatkan mantan kepala desain Apple, Jony Ive.
Soal performa, Ferrari tidak setengah-setengah. Mobil ini diklaim punya tenaga lebih dari 1.000 dk dari empat motor listrik, dengan kecepatan puncak di atas 310 kpj dan jarak tempuh lebih dari 500 km
Melansir CNC, jika melihat lebih dalam, strategi Ferrari lewat Luce sebenarnya cukup berbeda dari biasanya. Enrico Galliera, Chief Marketing and Commercial Officer Ferrari, menyebut bahwa target utama mobil ini bukan hanya pelanggan setia Ferrari, melainkan konsumen baru yang sudah terbiasa menggunakan mobil listrik.
Luce dimaknai bukan sekadar produk baru, tapi juga upaya Ferrari menjangkau pasar baru.
Salah satu pasar yang disasar jelas adalah Tiongkok. Ferrari sebelumnya sempat menyatakan bahwa mobil listrik bisa menjadi kunci untuk kembali memperkuat posisinya di sana.
Bukan tanpa alasan. Di Tiongkok, mobil listrik justru mendapat banyak kemudahan regulasi, termasuk bebas pajak konsumsi dan proses registrasi yang jauh lebih cepat.
Baca Juga: Kenapa Jaecoo J5 EV Laris? Ternyata Bukan Cuma Soal Harga
Kondisi ini membuat preferensi konsumen juga berubah. Mobil listrik yang senyap dan sarat teknologi kini dianggap lebih masuk dengan gaya hidup di kota besar, dibanding supercar bermesin besar.
Di sisi lain, pasar mobil listrik premium di Tiongkok juga berkembang sangat cepat. Sejumlah merek lokal mulai menghadirkan produk-produk mewah dengan harga lebih kompetitif. Bahkan, beberapa model mampu mencatat penjualan yang melampaui merek-merek Eropa.
Tantangan Ferrari Memasuki Pasar EV
Di berbagai forum otomotif hingga media sosial, banyak yang menilai tampilan Luce “tidak terasa seperti Ferrari”. Bahkan, ada yang menyebut desainnya mirip mobil yang jauh lebih murah, mulai dari Nissan Leaf hingga Fiat Multipla. Reaksi pasar pun ikut terpengaruh. Tak lama setelah peluncuran, saham Ferrari sempat turun sekitar 8 persen.
Meski begitu, Ferrari tampaknya tidak asal melangkah. Berbeda dengan beberapa pabrikan lain yang mengadaptasi platform lama, Luce dikembangkan dari nol sebagai mobil listrik murni.
Baca Juga: Chery Q Bisa DP Sekarang Rp5 Juta, Ikut Pre-book Malah Lebih Untung Segini
Kepala Desain Ferrari, Flavio Manzoni, menjelaskan bahwa pendekatan desain mobil listrik memang berbeda total dibanding mobil bermesin konvensional. Jika sebelumnya fokus pada downforce, maka pada mobil listrik justru lebih mengutamakan efisiensi aerodinamika.
"EV harus terlihat lebih solid, lebih bersih. Permukaan bodinya cenderung lebih rata dan menyatu," jelasnya dari keterangan yang didapatkan KabarOto.com.
Pendekatan ini juga mencerminkan perubahan arah industri otomotif global. Di era mobil listrik, warisan masa lalu tidak selalu menjadi keunggulan. Bahkan, dalam beberapa kasus, justru bisa menjadi beban.
Pada akhirnya, Luce bukan hanya soal mobil baru, tapi juga tentang bagaimana Ferrari mencoba beradaptasi dengan perubahan zaman.