OtoNews

OtoSport

OtoModif

OtoTips

OtoKomersial

OtoSpesifikasi

Hino Mulai Genjot Kapasitas, Kejar Permintaan Pemerintah untuk Koperasi Desa Merah Putih

Pradia Eggi - Minggu, 01 Maret 2026
OtoKomersial

KabarOto.com - Program pengadaan puluhan ribu truk untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih menjadi sorotan besar di industri kendaraan niaga nasional. Proyek yang dijalankan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara ini mencakup kebutuhan hingga 80.000 unit light duty truck (LDT) sepanjang 2026 angka yang bahkan melampaui total penjualan truk nasional dalam kondisi normal.

Sebagai gambaran, pasar truk di Indonesia dalam satu tahun biasanya berada di kisaran 60.000 unit untuk semua merek. Lonjakan permintaan mendadak ini membuat sejumlah prinsipal global, termasuk Hino Motors, terkejut karena industri harus meningkatkan kapasitas produksi secara drastis dalam waktu singkat.

Supply Chain and Marketing Communication (SCMC) Division Head PT Hino Motors Sales Indonesia (HMSI), Wibowo Santoso, menjelaskan untuk meningkatkan produksi dalam skala besar bukan proses instan.

"Kita terus terang struggling berjuang minta kenaikan karena komponen kita 45 persen lokal dan 55 persennya luar sehingga harus naik secara sinkron Indonesia naik dan Jepangnya harus naik juga," ungkapnya.

Hino dan Pabrikan Lokal Kebagian Produksi

Dalam distribusi proyek tersebut, beberapa produsen yang memiliki fasilitas perakitan di Indonesia mendapat porsi produksi.

PT Hino Motors Sales Indonesia ditugaskan menyediakan sekitar 10.000 unit truk ringan. Selain itu, Mitsubishi Fuso mendapat alokasi sekitar 20.600 unit, Foton sekitar 13.500 unit, dan Isuzu sekitar 900 unit.

"Satu tahun market kita 60.000 untuk semua merek, kami butuh waktu memaksimalkan total kapasitas produksi karena harus persiapkan bahan baku suplier lokal, butuh tenaga kerja jadi kami harus gradually naik sedikit demi sedikit," ujarnya kepada KabarOto.

Baca Juga: 18 Posko Lebaran Hino 2026 Siap Layani Kendaraan Niaga di Jalur Mudik Nasional

Truk Hino 300

Awalnya, pemerintah menargetkan seluruh pengadaan selesai pada Maret 2026. Namun, setelah mempertimbangkan keterbatasan kapasitas produksi industri, tenggat waktu akhirnya diperpanjang hingga Desember 2026 agar produsen memiliki ruang untuk menyesuaikan kemampuan produksi mereka.

"Mereka ingin kita support program pemerintah, awalnya meminta Maret 2026 sudah selesai 80.000 cuma agak kurang realistis akhirnya mereka me-review akhirnya hingga Desember 2026 untuk semua merek, kita butuh dua tahun untuk adjust," jelasnya.

Antara Target Cepat dan Kepentingan Industri Nasional

Lonjakan permintaan besar ini di satu sisi menunjukkan skala ambisi program pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa melalui dukungan armada logistik.

Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga mengungkap keterbatasan kapasitas produksi domestik dalam merespons permintaan ekstrem dalam waktu singkat.

Baca Juga: Hino Uji Coba Bersama Pemerintah dan Mandiri Penggunaan B50, Spesifikasi Mesin Disesuaikan

Sasis truk Hino.

Jika seluruh pesanan diproduksi secara lokal dengan tenggat waktu yang lebih fleksibel, hal itu berpotensi membuka peluang investasi baru, memperluas kapasitas produksi, serta menciptakan lapangan kerja tambahan.

Sebaliknya, keputusan impor dalam jumlah besar dinilai dapat mengurangi peluang tersebut, meski memberikan solusi cepat untuk memenuhi kebutuhan distribusi.

Pada akhirnya, proyek pengadaan 80.000 truk ini bukan sekadar soal kendaraan niaga, tetapi juga menjadi cerminan dinamika antara percepatan program pemerintah dan kesiapan industri nasional.

Baca Artikel Asli