Eropa: Mobil-mobil harus berada di luar batas kota
Biaya kemacetan lalu lintas: Pada 2025, kemacetan lalu lintas di kota-kota besar di Eropa akan menghasilkan biaya tahunan sekitar 208 miliar euro.4 Angka tersebut dapat bertambah tinggi lagi karena pada 2050 lebih dari 82 persen warga Eropa akan tinggal di perkotaan.5
Bersepeda dulu: Warga kota Amsterdam menempuh perjalanan sejauh dua juta kilometer menggunakan sepeda setiap hari. Angka itu setara dengan 60 persen dari seluruh perjalanan di wilayah pusat kota.6 Di Copenhagen, sepeda juga merupakan sarana transportasi massal: di sana, 45 persen dari populasi bersepeda ke tempat kerja atau kampus setiap hari.7
Larangan masuk: Stiker emisi di Jerman, biaya kemacetan di London dan Milan, larangan mengemudikan kendaraan-kendaraan tua di Paris – puluhan kota metropolitan di Eropa telah membatasi lalu lintas kendaraan di zona-zona pusat.
Amerika Utara: Kemacetan lalu lintas menghabiskan biaya lebih dari 120 miliar dolar. Lebih banyak mobil daripada pengemudi: Pada 2003, untuk pertama kalinya, kendaraan yang terdaftar di AS jumlahnya melebihi total pemilik SIM.8
Biaya kemacetan lalu lintas: Di AS, para pengemudi di 10 kota dengan tingkat kemacetan tertinggi menghabiskan sekitar 42 jam per tahun di tengah kemacetan lalu lintas, kehilangan 121 miliar dolar dari waktu dan bahan bakar.9
Carpooling (pengaturan beberapa orang bepergian dalam satu mobil yang sama): Untuk mengurangi tingkat kemacetan, AS menciptakan jalur carpool pertama pada 1961. Saat ini, jalur tersebut panjangnya sekitar 5.000 kilometer.10 Disebut juga dengan istilah jalur kendaraan ramai orang (high-occupancy vehicle / HOV), jalur carpool hanya dapat digunakan bila di dalam mobil terdapat dua, tiga, atau lebih orang.
Jepang: Pertama tempat parkirnya, kemudian mobilnya
Kecepatan siput: Mobil di Tokyo melaju dengan kecepatan rata-rata 15 kilometer per jam.11 Meskipun jaringan jalan kota mencakup lebih dari 22.000 kilometer dan 14 persen dari lalu lintas kota diisi oleh sepeda, Tokyo hanya mempunyai jalur sepeda sepanjang 11,6 kilometer.12
Masalah parkir: Terdapat 61 juta kendaraan di Jepang namun tempat parkir yang terbatas13. Kota seperti Tokyo mengizinkan orang membeli mobil hanya jika mereka dapat membuktikan bahwa mereka memiliki tempat untuk memarkirnya.
Mobil kecil: Untuk mengendalikan lalu lintas, muncul sebuah ide tentang kelas kendaraan baru: mobil Kei. Mobil-mobil ini panjangnya kurang dari 3,4 meter dan memiliki mesin dengan perpindahan kurang dari 0,66 liter.
Tiongkok: China: Undian plat nomor kendaraan
Kemacetan lalu lintas: Di akhir 2015, terdapat sekitar 279 juta kendaraan lalu-lalang di jalanan Tiongkok, dimana 172 juta di antaranya berupa mobil.14
Rel: Pemerintah Tiongkok memberikan subsidi besar bagi mereka yang bepergian menggunakan trem. Di Beijing, trem-trem membawa 10 juta penumpang per hari, atau 44 persen dari total orang yang bepergian.
Undian: Setiap bulan, Shanghai hanya mengeluarkan 9.000 lisensi kendaraan baru.15 Setiap distrik mempunyai peraturan yang berbeda, dan pembuatan nomor plat kendaraan dapat menghabiskan biaya hingga 8.000 yuan atau lebih dari 10.000 euro.16 Seringkali, pemberian lisensi tersebut bahkan dilelang kepada penawar tertinggi.
India: Menuju mobilitas modern dengan kendaraan roda dua atau tiga
Pertumbuhan: Lebih dari 40 kota di India sudah dihuni oleh lebih dari satu juta penduduk.17 Dengan pertumbuhan populasi tahunan sebesar 15 juta orang, India memiliki tingkat pertumbuhan tercepat di dunia.18
Kendaraan roda dua: Terdapat sekitar 125 juta kendaraan roda dua di jalanan di India, mewakili 70 persen dari seluruh kendaraan yang ada di negara tersebut.
Pelopor: Kota Ahmedabad telah berhasil mengurangi lalu lintas bermotor di wilayahnya dengan melakukan perbaikan dan investasi pada infrastruktur transportasi. Saat ini, 58 persen dari perjalanan sehari-hari dilakukan menggunakan moda transportasi umum atau non-motor.20
Amerika Latin: Kereta gantung, bukan jalan raya
Kereta gantung (1): Di berbagai kota mega yang semrawut di Amerika Selatan, ledakan kereta gantung perkotaan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan. Kereta gantung tidak hanya menggunakan lebih sedikit ruang, tetapi harganya pun 10 kali lebih murah dibandingkan kereta bawah tanah atau jalan raya.
Kereta gantung (2): Meksiko meresmikan kereta gantung perkotaan pertamanya pada 2016. Gondola udara tersebut menggantikan beberapa ribu minibus. Sebelum diprakarsai Meksiko, Kolombia, Bolivia, Brazil, dan Venezuela telah lebih dulu mengimplementasikan konsep “jalanan di udara”.
Kereta gantung (3): 10 kilometer – itulah panjang kereta gantung perkotaan terpanjang di dunia, membentang dari La Paz, ibukota Bolivia, hingga kota tetangganya, El Alto. Panjang ini memotong durasi perjalanan penumpang hingga 1 jam dan membantu mengurangi polusi. Ada rencana untuk memperluas jaringan kereta gantung hingga 30 kilometer pada 2019.