KabarOto.com - Pasar kendaraan ramah lingkungan di Indonesia terus berkembang pesat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi bahan bakar dan kelestarian lingkungan.
Di tengah transisi ini, konsumen disajikan dengan berbagai opsi teknologi mulai dari Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), Battery Electric Vehicle (BEV), hingga yang terbaru adalah Range Extended Electric Vehicle (REEV).
Memahami perbedaan fundamental di antara keempatnya menjadi sangat krusial agar konsumen dapat memilih kendaraan yang paling adaptif dengan kondisi infrastruktur pengisian daya yang belum merata di tanah air.
Baca Juga: Test Drive Changan Lumin, Si Mungil yang Nyaman dengan Jarak Tempuh 301 Kilometer Mobil
Memahami Sistem REEV
Secara teknis, perbedaan paling mencolok terletak pada sistem penggerak dan peran mesin konvensional. Berbeda dengan HEV dan PHEV yang masih membagi penyaluran tenaga antara mesin bensin dan motor listrik ke roda, REEV adalah kendaraan elektrifikasi yang sepenuhnya digerakkan oleh motor listrik.
Pada sistem REEV, mesin bensin yang tertanam sama sekali tidak terhubung dengan sistem penggerak atau roda, melainkan murni berfungsi sebagai generator onboard yang bertugas mengisi daya baterai secara otomatis saat kapasitasnya mulai menipis.
Keunggulan utama dari skema REEV ini adalah kemampuannya dalam mengeliminasi charging anxiety atau kekhawatiran akan jarak tempuh yang sering dialami oleh pengguna BEV (mobil listrik murni).
Adapun dengan dukungan mesin sebagai generator, pengemudi REEV tetap dapat menikmati karakter khas kendaraan listrik yang senyap, halus, dan responsif, tanpa perlu cemas kehabisan daya di tengah jalan atau saat akses ke Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) masih terbatas.
Fleksibilitas penggunaan yang luas ini membuat REEV menjadi jembatan transisi yang sangat ideal bagi mobilitas jarak jauh di Indonesia.
Meskipun masih mengonsumsi bensin untuk mengaktifkan generator, tingkat emisi gas buang yang dihasilkan REEV tercatat jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan mobil konvensional.
Hal tersebut terjadi karena mesin bensin pada REEV selalu bekerja pada putaran (RPM) yang paling optimal dan konstan, sebab bebas dari beban akselerasi langsung untuk memutar roda.
Di tengah isu harga bahan bakar minyak yang kian melambung tinggi, efisiensi termal yang sangat baik dari generator REEV ini menawarkan efisiensi biaya operasional harian yang jauh lebih menekan pengeluaran konsumen.
Langkah Strategis Changan
Melihat potensi besar tersebut, Changan mengambil langkah strategis menjadi pionir yang menghadirkan teknologi REEV ke Indonesia lewat pengenalan Deepal S05 REEV pada April 2026 lalu.
Baca Juga: Komitmen Kia Indonesia Lewat Program Kia Total Care News
Kehadiran lini produk inovatif ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat yang menginginkan sensasi berkendara mobil listrik murni namun tetap memiliki ruang aman melalui fleksibilitas generator bensin.
Terlebih lagi, kemitraan strategis antara Changan dengan Indomobil Group dipastikan bakal menjamin keberlanjutan layanan purnajual, jaringan diler, dan ketersediaan distribusi suku cadang produk-produk Changan secara komprehensif di tanah air.
Setiawan Surya selaku CEO Changan Indonesia memahami bahwa transisi menuju kendaraan listrik di Indonesia masih membutuhkan adaptasi. Karena itu, teknologi REEV hadir untuk memberikan pengalaman berkendara listrik dengan rasa aman dan fleksibilitas lebih tinggi, baik untuk mobilitas harian maupun perjalanan jarak jauh.
Melalui teknologi ini, Changan ingin mendukung percepatan elektrifikasi di Indonesia dengan solusi yang lebih relevan bagi kebutuhan masyarakat saat ini,
ujar Setiawan Surya.