OtoNews

OtoSport

OtoModif

OtoTips

OtoKomersial

OtoSpesifikasi

Pergeseran Kendaraan Listrik Mendatang, ICE Jadi Milik Pehobi

Kipli - Rabu, 04 November 2026
OtoNews News Mobil

KabarOto.com - Elektrifikasi diperkirakan akan mengubah wajah pasar otomotif Indonesia secara signifikan. Yuniadi H. Hartono, Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) mengatakan, jika saat ini porsi kendaraan listrik telah mencapai 41 persen, dalam kurun waktu lima tahun ke depan pasar akan mengalami pergeseran besar.

Pertumbuhan penetrasi sebesar 4 hingga 5 persen per tahun dapat menjadikan mobil konvensional (Internal Combustion Engine/ICE) terdorong menjadi segmen hobi semata.

Guna menghadapi dinamika ini, produsen otomotif disarankan untuk tidak bergantung pada satu opsi teknologi. Ketidakpastian skenario masa depan, apakah akan didominasi oleh Hybrid Electric Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang sedang mengalami lonjakan adopsi, atau Battery Electric Vehicle (BEV), menuntut fleksibilitas dari para pelaku industri,

urainya.

Baca juga:

Forland Ramaikan Segmen Mobil Niaga dan Komersial Indonesia

Kesiapan Infrastruktur dan Ekspansi Pasar

Langkah ekspansi pasar kendaraan listrik di luar Pulau Jawa masih dihadapkan pada tantangan kesiapan infrastruktur. Saat ini, menurutnya penetrasi BEV masih berpusat di kota-kota besar. Untuk menjangkau wilayah di luar Jawa yang infrastrukturnya belum sepenuhnya siap, teknologi alternatif seperti HEV dan PHEV menjadi pilihan yang lebih realistis dan transisional.

Peta persaingan otomotif saat ini tidak lagi sekadar berfokus pada efisiensi biaya (value for money), melainkan telah bergeser ke 'value for many'. Konsumen kini menuntut lebih banyak nilai tambah tanpa harus menanggung peningkatan harga secara signifikan,

ujarnya.

Di sisi lain, pergerakan pasar juga merambah ke segmen konsumen yang lebih luas. Penurunan pasar segmen Low Cost Green Car (LCGC) sebesar 11 persen menandai pergeseran pada kelompok pembeli mobil pertama (first-time buyers).

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan melampaui angka 5 persen diharapkan mampu memperkuat daya beli masyarakat di segmen menengah ke bawah (aspirational middle class), sehingga mereka memiliki keyakinan untuk memilih kendaraan listrik sebagai mobil pertama.

Baca Juga: MPV dan SUV Masih Rebut Hati Pemilik Mobil di Indonesia

Customer Experience dan Total Cost of Ownership sebagai Pembeda Utama

Di tengah kompetisi fitur dan spesifikasi yang kian ketat, perbedaan teknis antarproduk kini menjadi semakin tipis bagi masyarakat umum. Oleh karena itu, penentu utama keberhasilan suatu merek terletak pada Customer Experience (CX) serta Total Cost of Ownership (TCO).

Pengalaman konsumen tidak hanya dinilai dari keunggulan produk semata, melainkan dari setiap titik interaksi dengan merek—mulai dari kemudahan komunikasi, kecepatan penanganan masalah, hingga transparansi biaya kepemilikan. Merek yang mampu menyajikan layanan yang responsif dan efisien akan memenangkan preferensi konsumen.

Era Software-Defined Vehicle dan Adopsi Teknologi Digital

Konektivitas dan integrasi perangkat lunak kini menjadi pilar utama dalam pengembangan kendaraan masa depan (Software-Defined Vehicle). "Fungsi-fungsi mekanis konvensional makin banyak digantikan oleh sistem digital, seperti pembaruan perangkat lunak jarak jauh (over-the-air update) tanpa perlu mengunjungi bengkel resmi," tambahnya.

Adopsi teknologi di Indonesia sering kali berlangsung lebih cepat dari perkiraan industri.

Sebagai gambaran, penjualan kendaraan listrik yang pada tahun 2022 masih berkisar di angka 15.000 unit, kini telah melonjak hingga melebihi 120.000 unit,

pungkas Yuniardi.

Pelaku industri dituntut untuk bersiap menghadapi percepatan adopsi teknologi pendukung lainnya, seperti fitur Advanced Driver Assistance Systems (ADAS) tingkat lanjut, yang berpotensi diadopsi lebih cepat oleh pasar domestik.

Baca Artikel Asli