KabarOto.com - Catatan bersejarah baru lahir dari lintasan balap dunia, tepatnya FIM Supersport World Championship 2026. Seorang pembalap Prancis, Valentin Debise, sukses mencetak kemenangan beruntun di seri Portugal. Terlepas dari hal tersebut, atensi utama justru tertuju pada motor yang ia tunggangi, yakni ZXMoto 820RR-RS,
Motor tersebut berasal dari pabrikan asal Cina atau Tiongkok yang baru seumur jagung, bagi Zhang Xue, sang pendiri, pencapaian ini bukan sekadar kemenangan. Di sebuah acara nonton bareng di Chongqing, ia terlihat larut dalam emosi. Dari sorak sorai hingga meneteskan air mata bahagia. Wajar saja, ini menjadi kemenangan pertama pabrikan Tiongkok di ajang WorldSSP.
World Supersport atau WorldSSP merupakan sebuah kompetisi kelas menengah bagian dari WSBK. Ibaratnya, kelas ini macam Moto2 dari MotoGP. Dan selama ini kompetisi ketat didominasi nama besar pabrikan Eropa dan Jepang seperti Ducati, Yamaha, Kawasaki dan Honda.
Baca Juga: Galeri BMW Legendaris Mejeng dengan Tema Seni Balap dan Mobilitas

Pada saat Race 1, Debise memulai dari posisi kedua sebelum melesat dominan dan menang dengan selisih 3,685 detik. Ia bahkan menggambarkan balapan itu terasa seperti milik sendiri. Sementara ketika Race 2, dirinya sempat tercecer ke posisi tiga akibat kesalahan. Namun mampu bangkit berkat akselerasi motor impresif hingga kembali merebut posisi terdepan dan naik podium tertinggi.
Di balik semua ini, tersimpan kisah panjang yang jauh lebih menarik. Zhang Xue memulai segalanya dari nol, sebagai mekanik muda di desa pegunungan di Hunan pada usia 17 tahun.
Saat itu, mimpinya menjadi pembalap motor. Tanpa banyak pilihan hidup, ia memilih jalur yang tersedia. Bekerja di bengkel sambil melatih kemampuan balap secara mandiri. Baginya, keterbatasan justru menjadi berkah.
“Terlalu banyak pilihan justru membuat bingung,” ujar dia seperti dilansir Chinadaily.
Ambisi mulai terlihat saat usia 19 tahun. Ia nekat menghubungi kru program televisi lokal untuk menunjukkan kemampuan stunt riding. Awalnya, mereka meragukan lantaran melihat hanya mengendarai motor bekas yang lusuh. Namun Zhang tak menyerah.
Dirinya mengejar mobil kru tersebut selama lebih dari tiga jam di tengah hujan. Melintasi jalan pegunungan, sambil mempertontonkan berbagai aksi ekstrem.
Walau sempat jatuh berkali-kali saat demonstrasi, satu kalimat membekas, “Keahlian datang dari jatuh. Rasa sakit ini bukan apa-apa,” katanya.
Tayangan itu akhirnya membuka jalan tim balap profesional menghubungi dia. Karier sebagai pembalap sempat ia jalani, namun realitas finansial memaksa Zhang beralih menjadi insinyur. Tepat pada 2013, ia pindah ke Chongqing, lokasi yang dikenal sebagai “ibu kota sepeda motor” di Tiongkok. Dari sana, dia membangun reputasi lewat modifikasi motor hingga mendirikan KOVEMOTO pada 2017.
Baca Juga: Dewa United Motorsports Siap Hadapi Musim 2026, Perkuat Line-up dan Armada Balap

Kemudian hasrat lebih besar muncul, ingin menciptakan mesin performa tinggi. Ketika visi itu tak sejalan dengan partner bisnis, hingga ia memilih mundur. Pada 2024, Zhang mendirikan ZXMoto, singkatan dari Zhang Xue Motorcycles. Tapi dalam pemaparan, dia mengaku tidak terlalu menyukai dunia bisnis.
“Saya hanya suka membuat motor,” tukasnya. Dalam waktu kurang dari setahun, ZXMoto merilis model produksi pertama bernama ZX-500RR, langsung mencatat penjualan lebih dari 10.000 unit hanya dalam empat bulan.
Zhang juga dikenal aktif berinteraksi dekat kepada konsumen melalui siaran langsung mingguan. Baginya, transparansi adalah kunci menjaga kualitas. Ia ingin memastikan setiap produk benar-benar memenuhi ekspektasi pengguna.
Kemenangan di Portugal menjadi validasi nyata dari perjalanan panjang itu. Bahkan, video lama Zhang saat berusia 19 tahun kembali viral. Memperlihatkan dia berlumur lumpur di atas motor butut, dengan tekad sama seperti hari ini.
Pesannya sederhana, namun kuat. Jika tidak berani mengejar mimpi saat muda, penyesalan akan datang pada kemudian hari. Kini, dari seorang mekanik desa hingga menjadi pendiri merek yang menorehkan sejarah di ajang dunia.