KabarOto.com - Ketegangan di Timur Tengah memicu kekhawatiran di paddock MotoGP. Jack Miller mengungkapkan, sebanyak 19 dari total 22 pebalap MotoGP menolak untuk mengikuti Grand Prix Qatar yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Situasi keamanan di kawasan tersebut menjadi alasan utama di balik keberatan para pebalap.
Rider Pramac Yamaha itu menilai, penyelenggaraan balapan internasional di tengah konflik yang belum mereda perlu dipertimbangkan secara serius. Menurutnya, pihak penyelenggara belum memberikan jawaban yang memadai atas kekhawatiran para pebalap mengenai keselamatan selama berada di Qatar. "Saya tidak ingin pergi ke Qatar," ujar Miller, seperti dikutip dari Grande Premio.
Baca Juga: Jadwal MotoGP Malaysia 2026, Sprint Race dan Balapan Utama Digelar Siang Hari
Miller menyebut, mayoritas pebalap memiliki pandangan serupa. Mereka juga telah berusaha menyampaikan sikap secara bersama-sama dalam pembahasan dengan pihak penyelenggara kejuaraan.
Kekhawatiran tersebut tidak hanya menyangkut keselamatan pebalap saat berada di lintasan. Para pebalap juga memikirkan kondisi mekanik, insinyur, serta anggota tim lainnya yang harus melakukan perjalanan ke Qatar untuk menjalankan tugas selama akhir pekan balapan.
MotoGP Qatar di Tengah Konflik Timur Tengah
Miller menegaskan, keberatannya bukan ditujukan kepada Qatar sebagai negara tuan rumah. Persoalan utamanya adalah situasi regional yang dinilai belum stabil, terlebih jadwal dan lokasi penyelenggaraan MotoGP sudah diketahui publik.
Para pebalap disebut telah meminta kepastian mengenai prosedur evakuasi, dukungan medis, hingga perlindungan asuransi apabila kondisi keamanan memburuk. Namun, Miller menilai jaminan finansial saja tidak cukup untuk menjawab persoalan keselamatan.
Menurutnya, keputusan untuk tetap menggelar balapan harus disertai tanggung jawab yang jelas dari pihak penyelenggara. Keselamatan seluruh personel yang terlibat dinilai harus menjadi pertimbangan utama sebelum MotoGP Qatar tetap dilaksanakan.
Situasi ini juga menempatkan para pebalap dalam posisi sulit. Penolakan untuk mengikuti balapan berpotensi menimbulkan konsekuensi finansial, baik bagi pebalap maupun tim yang mereka bela.
Yamaha Mundur, Empat Motor Terancam Absen
Perkembangan terbaru turut datang dari Yamaha. Pabrikan asal Jepang tersebut mengumumkan keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam MotoGP Qatar karena pembatasan perjalanan perusahaan terkait situasi di Timur Tengah.
Keputusan itu berlaku untuk tim pabrikan Monster Energy Yamaha MotoGP maupun tim satelit Prima Pramac Yamaha. Artinya, empat motor Yamaha dipastikan tidak mengikuti balapan apabila keputusan tersebut tetap berlaku.
Sikap Yamaha menambah perhatian terhadap penyelenggaraan MotoGP Qatar. Sebelumnya, Miller telah mengungkap besarnya penolakan di kalangan pebalap terhadap rencana balapan di tengah situasi keamanan yang mengkhawatirkan.
MotoGP pun menyatakan kekecewaannya atas keputusan Yamaha dan memperingatkan adanya kemungkinan sanksi. Meski demikian, bentuk sanksi yang dapat dijatuhkan belum diumumkan secara terperinci.
Keputusan akhir mengenai persoalan tersebut berada di bawah kewenangan Federasi Sepeda Motor Internasional (FIM).
Baca Juga: Jadwal MotoGP Terlalu Padat? Carlo Pernat Sebut Sprint Bisa Merusak Kejuaraan
Dengan jadwal MotoGP Qatar yang semakin dekat, perhatian kini tertuju pada langkah penyelenggara dalam merespons kekhawatiran pebalap dan keputusan Yamaha. Kepastian mengenai kelanjutan balapan menjadi hal yang dinantikan, terutama terkait jaminan keselamatan bagi seluruh pihak yang terlibat.