Berkendara Sambil Merokok Terancam Hukuman Pencabutan SIM

M. Sigit
M. Sigit
Kamis, 08 Januari 2026
Berkendara Sambil Merokok Terancam Hukuman Pencabutan SIM

Ilustrasi pengendara sepeda motor (Foto: Kabaroto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Seorang warga mengajukan permohonan uji materiil Undang-Undang No.22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Salah satu yang diajukan ke MK adalah sanksi berat untuk pengendara yang merokok di jalan raya.

Permohonan tersebut diajukan oleh Syah Wardi, M.H, dengan nomor perkara 13/PUU-XXIV/2026. Di mana, dirinya mengajukan Permohonan Uji Materil Pasal 106 ayat (1) dan Pasal 283 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terkait Kepastian Hukum dan Perlindungan Keselamatan Pengguna Jalan.

Dikutip dari permohonan tersebut, "Bahwa ketentuan a quo mengatur kewajiban pengemudi untuk mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi serta sanksi pidana bagi pengemudi yang tidak memenuhi kewajiban tersebut. Namun dalam praktik, norma tersebut tidak memberikan kejelasan dan kepastian hukum, khususnya terkait perbuatan yang secara nyata mengganggu konsentrasi dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, termasuk aktivitas merokok saat mengemudikan kendaraan bermotor."

Baca Juga: Daftar Harga Mobil LCGC Januari 2026, Pilihan Terjangkau di Awal Tahun

Ancaman sanksi pencabutan SIM

Pengujian Pasal Terkait

Pasal yang diharapkan untuk diuji adalah pasal 106 ayat (1) UU 22/2009 yang berbunyi, "Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib mengemudikan Kendaraan Bermotor tersebut dengan wajar dan penuh konsentrasi. 'khususnya terhadap frasa' penuh konsentrasi."

Lalu pasal 283 yang berbunyi, "Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan secara tidak wajar dan melakukan kegiatan lain atau dipengaruhi oleh suatu keadaan yang mengakibatkan gangguan konsentrasi dalam mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 106 ayat (1) dipidana dengan pidana kur

Menurut pemohon, dua pasal tersebut bersifat kabur, lemah dan multitasfir. Padahal, pasal tersebut secara langsung berkaitan dengan perlindungan keselamatan jiwa manusia.

"Bahwa lalu lintas jalan raya merupakan ruang publik yang mengandung risiko tinggi terhadap keselamatan, sehingga pengaturannya tidak boleh bersifat kabur, lemah, atau multitafsir. Setiap kekaburan norma dalam bidang lalu lintas berpotensi menimbulkan akibat yang fatal dan irreversibel, berupa hilangnya nyawa manusia atau cacat permanen," jelasnya.

Baca Juga: Canggih, Mobil Listrik BMW iX3 Punya Otak Pintar dan Bisa Diajak Ngobrol Layaknya Manusia

Sanksi Pengendara

Sementara itu, Pasal 283 UU LLAJ yang mengatur sanksi juga dinilai sanksi yang ringan dan tidak proporsional dibandingkan dengan tingkat bahaya yang ditimbulkan.

Menurutnya, sanksi yang diatur dalam pasal itu tidak menimbulkan efek jera, tidak mencerminkan nilai perlindungan terhadap hak hidup, dan tidak sejalan dengan tujuan hukum lalu lintas, yaitu menciptakan keamanan dan keselamatan berlalu lintas.

Oleh sebab itu, Syah Wardi meminta MK untuk mengabulkan permohonannya dalam pengujian materiil UU LLAJ. Dia juga memohon kepada MK agar pengendara yang merokok mendapatkan sanksi tambagan, termasuk pencabutan SIM.

"Terhadap pelanggar yang merokok saat berkendara wajib dikenakan Sanksi Tambahan berupa kerja sosial pembersihan jalan raya atau pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk jangka waktu tertentu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas risiko bahaya yang ditimbulkan bagi publik," tulisnya.

"Menegaskan bahwa pemberian Sanksi Tambahan dan penerapan Pemaknaan Maksimal dalam penegakan Pasal 283 tersebut merupakan instrumen perlindungan hukum yang adil bagi warga negara untuk mendapatkan lingkungan jalan raya yang aman, sehat, dan bebas dari ancaman fisik akibat residu pembakaran rokok (abu dan bara)," sambungnya dalam permohonan kepada MK.

Tags:

#Berkendara Sambil Merokok #Undang-undang Lalu Lintas #Hukuman Pencabutan SIM

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan