KabarOto.com - Alami musim pancaroba, temperatur udara di berbagai wilayah Indonesia cenderung meningkat pada siang hari. Kondisi ini membuat sistem pendingin kabin atau air conditioner (AC) menjadi salah satu fitur penting untuk menjaga kenyamanan selama berkendara.
Agar kinerja AC tetap optimal, pemilik kendaraan tidak cukup hanya menambahkan refrigeran saat udara kabin mulai terasa kurang dingin. Perawatan sistem AC secara menyeluruh perlu dilakukan untuk memastikan seluruh komponen bekerja sesuai fungsinya.
Baca Juga: Serba Serbi Perawatan Kondensor AC Mobil, Cek Sob!
Kinerja Refrigeran
"Gunakan refrigeran yang sesuai dengan spesifikasi kendaraan. Selain itu, sistem AC harus dipastikan dalam kondisi kedap agar tekanan kerja tetap stabil dan tidak terjadi kebocoran," kata Denny Setiawan dari bengkel AC Bintang Buana Berjaya di kawasan Ruko Medrisio, Gading Serpong, Tangerang.
Jika sistem AC bekerja dengan baik, maka komponen seperti kompresor, kondensor, evaporator, dan expansion valve dapat beroperasi secara optimal. Hasilnya, suhu kabin dapat terjaga sesuai pengaturan yang diinginkan pengemudi maupun penumpang.
Secara umum, refrigeran berfungsi menyerap panas dari dalam kabin dan melepaskannya ke luar kendaraan sehingga menghasilkan udara dingin. Karena bekerja dalam sistem tertutup (closed loop), jumlah refrigeran seharusnya tidak berkurang selama tidak terjadi kebocoran.
“Jika pemilik kendaraan kurang memperhatikan perawatan AC, performa pendinginan kabin bisa menurun. Gejalanya antara lain udara yang tidak lagi dingin meski blower bekerja normal, suhu kabin tidak stabil, kompresor AC sering aktif dan nonaktif secara berulang, hingga muncul bekas oli pada sambungan pipa yang dapat mengindikasikan adanya kebocoran refrigeran,” lanjutnya.
Selain faktor kebocoran, penurunan performa AC juga dapat disebabkan oleh penggunaan refrigeran yang tidak sesuai spesifikasi kendaraan, jumlah pengisian yang tidak tepat, atau tekanan kerja sistem yang berada di luar standar pabrikan.
Baca Juga: Konsumsi BBM Dipengaruhi Penggunaan AC Mobil? Ini Penjelasannya
Tipe Refrigeran
“Saat ini terdapat dua jenis refrigeran yang umum digunakan, yaitu R-134a dan R-1234yf. Keduanya dirancang untuk kendaraan yang berbeda karena memiliki karakteristik tekanan kerja dan kapasitas pengisian yang tidak sama. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan menggunakan refrigeran sesuai rekomendasi pabrikan dan tidak mencampur kedua jenis tersebut karena berpotensi merusak komponen AC,” imbuh Denny.
Ia mengatakan, lazimnya, refrigeran R-134a banyak digunakan pada kendaraan produksi akhir 1990-an hingga pertengahan 2010-an. Jenis ini masih umum ditemukan di Indonesia dan memiliki tekanan kerja yang umumnya berada pada kisaran 25–45 PSI di sisi rendah (low pressure) serta 150–250 PSI di sisi tinggi (high pressure). Kapasitas pengisiannya umumnya berkisar antara 450 hingga 650 gram, tergantung model kendaraan.
Sementara itu, refrigeran R-1234yf digunakan pada banyak kendaraan generasi terbaru karena memiliki dampak lingkungan yang lebih rendah dengan nilai Global Warming Potential (GWP) yang jauh lebih kecil dibandingkan R-134a. Tekanan kerjanya umumnya berada pada kisaran 20–40 PSI di sisi rendah dan 140–220 PSI di sisi tinggi, dengan kapasitas pengisian yang mengikuti spesifikasi masing-masing kendaraan.
Informasi mengenai jenis refrigeran dan kapasitas pengisian biasanya dapat ditemukan pada label yang terpasang di ruang mesin atau bagian bawah kap kendaraan.

