Harga Mobil Listrik Bekas Turun, MG Buka Suara soal Umur Baterai dan Nilai Jual Kembali

Pradia Eggi
Pradia Eggi
Kamis, 07 Mei 2026
Harga Mobil Listrik Bekas Turun, MG Buka Suara soal Umur Baterai dan Nilai Jual Kembali

MGS5 EV diluncurkan di IIMS 2026. (Foto: Eggi/KabarOto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Isu penurunan nilai jual kembali (resale value) mobil listrik masih menjadi salah satu perhatian konsumen di Indonesia. Terlebih, sejumlah laporan menunjukkan harga jual mobil listrik bekas bisa turun cukup tajam, terutama setelah masa pakai di atas tiga tahun.

"Depresiasi, turunnya lumayan. Sekarang strategi pabrikan berbeda, misalnya untuk 2 ribu unit pertama mendapatkan harga khusus, beberapa mobil listrik garansi baterainya akan hangus jika unitnya pindah tangan. Kita lihat penyebabnya seperti itu," jelas Agung, Direktur OLXmobbi kepada KabarOto beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut mencerminkan dinamika pasar mobil listrik bekas yang masih mencari bentuk, baik dari sisi harga maupun persepsi konsumen.

MG Sebut Penurunan Harga Jual Kembali Ditentukan Beberapa Faktor

Menanggapi hal tersebut, pihak MG Motor Indonesia menilai bahwa nilai jual kembali kendaraan listrik sejatinya masih sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, khususnya persepsi pasar yang terus berkembang.

"Teknologi ini menurut kami masih berkembang. Kalau dibandingkan dengan mobil bermesin konvensional, tentu yang konvensional lebih matang," ujar Produk Manager MG Motor Indonesia, Eko Fachruroji kepada KabarOto (7/5/2026).

MGS5 EV Magnify Max jalanin test drive dari Jakarta menuju Bandung.

Ia menjelaskan, faktor utama yang memengaruhi harga jual kembali mobil listrik bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga faktor eksternal seperti penerimaan pasar dan persepsi konsumen.

"Kalau bicara resale value, itu banyak faktor. Yang paling berperan justru eksternal, seperti persepsi nilai dari konsumen dan kondisi pasar itu sendiri," katanya.

Namun demikian, dari sisi produsen (ATPM), ada sejumlah aspek objektif yang bisa dioptimalkan untuk menjaga nilai kendaraan listrik tetap kompetitif di pasar mobil bekas.

Baca Juga: MGS9 PHEV, Revolusi SUV Keluarga Berteknologi Hybrid Mutakhir

Salah satu faktor terpenting adalah daya tahan baterai. MG menilai, semakin baik performa baterai dalam jangka panjang, maka kepercayaan konsumen terhadap mobil listrik juga akan meningkat.

"Ketika konsumen melihat dalam jangka panjang baterai itu durable, maka akan terbentuk persepsi value yang positif," ujarnya.

Selain itu, tingkat adopsi kendaraan listrik di pasar juga berpengaruh besar. Semakin tinggi populasi mobil listrik dan semakin kuat penjualannya, maka nilai jual kembali dinilai akan ikut terdorong.

MG4 EV merupakan unit dengan penjualan tertinggi MG saat di GIIAS 2024 dan IIMS 2025.

Tak hanya itu, faktor lain seperti layanan purna jual, jaringan servis, serta kualitas dukungan merek juga turut menjadi penentu.

MG Optimis Soal Ketahanan Baterai

Meski demikian, MG cukup optimistis terhadap ketahanan baterai mobil listriknya. Berdasarkan data penggunaan nyata dari model MG4 EV, performa baterai masih terjaga dalam jangka panjang.

"Dari data real driving customer, setelah 10 tahun penggunaan, battery health masih berada di kisaran 88-90 persen,” ungkapnya.

Angka tersebut dinilai bisa menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga nilai jual kembali mobil listrik, sekaligus menjawab kekhawatiran konsumen terkait degradasi baterai.

Baca Juga: MG 4X Meluncur dengan Jarak Tempuh 510 Km, Dibekali Kokpit Pintar Kolaborasi Oppo

Tags:

#Morris Garages Indonesia #MGS5 EV #Morris Garages
Google
Tambahkan Kabaroto.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan