KabarOto.com - Cara pemilik kendaraan listrik memperlakukan baterai akan berpengaruh terhadap performa, kapasitas, hingga usia pakainya dalam jangka panjang.
Berbeda dengan tangki bahan bakar pada mobil bermesin konvensional, baterai mobil listrik memiliki karakteristik yang lebih sensitif terhadap suhu, tingkat pengisian daya atau State of Charge (SOC), serta pola penggunaan.
Kesalahan seperti terlalu sering mengisi daya hingga 100 persen, membiarkan baterai berada di level sangat rendah, menggunakan pengisian cepat DC secara berlebihan, hingga melakukan pengisian ketika baterai terlalu dingin dapat mempercepat proses degradasi.
Meski mobil listrik modern sudah dibekali Battery Management System (BMS) dan sistem manajemen temperatur, bukan berarti baterai terbebas dari risiko penurunan kapasitas.
Perawatan dan kebiasaan penggunaan yang tepat tetap diperlukan agar baterai dapat mempertahankan performanya selama mungkin.
Menariknya, setiap jenis kimia baterai juga memiliki karakteristik berbeda. NMC, NCA, LFP, hingga Lithium-Polymer (Li-Po) memiliki kebutuhan pengelolaan yang tidak sepenuhnya sama.
Daftar Isi
-
Baterai NMC dan NCA
-
Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Pemilik Mobil Listrik dengan Baterai NMC atau NCA
-
1. Terlalu Lama Membiarkan Baterai 100 Persen
-
2. Terlalu Sering Membiarkan Baterai di Bawah 10 Persen
-
3. Menjadikan Fast Charging DC sebagai Pengisian Utama
-
4. Mengisi Daya Saat Baterai Terlalu Dingin
-
5. Parkir dengan Baterai Penuh di Cuaca Panas
-
6. Langsung Berkendara Agresif Setelah Fast Charging
Baterai NMC dan NCA
Daftar Isi
- Baterai NMC dan NCA
- Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Pemilik Mobil Listrik dengan Baterai NMC atau NCA
- 1. Terlalu Lama Membiarkan Baterai 100 Persen
- 2. Terlalu Sering Membiarkan Baterai di Bawah 10 Persen
- 3. Menjadikan Fast Charging DC sebagai Pengisian Utama
- 4. Mengisi Daya Saat Baterai Terlalu Dingin
- 5. Parkir dengan Baterai Penuh di Cuaca Panas
- 6. Langsung Berkendara Agresif Setelah Fast Charging
Baterai NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt Aluminium) banyak digunakan pada kendaraan listrik karena menawarkan kepadatan energi tinggi serta kemampuan menghasilkan tenaga yang besar.
Karakteristik tersebut membuat baterai NMC dan NCA mampu memberikan kombinasi antara jarak tempuh dan performa. Namun, kedua jenis baterai ini juga cukup sensitif terhadap kondisi tertentu, terutama temperatur tinggi dan tegangan yang terlalu lama berada pada level maksimum.
Kebiasaan yang Sebaiknya Dihindari Pemilik Mobil Listrik dengan Baterai NMC atau NCA
1. Terlalu Lama Membiarkan Baterai 100 Persen
Mengisi baterai hingga 100 persen bukan berarti selalu buruk. Pengisian penuh tetap diperlukan ketika mobil akan digunakan untuk perjalanan jauh.
Masalah muncul ketika baterai berada pada kondisi 100 persen dalam waktu lama dan dilakukan berulang kali. Kondisi State of Charge yang tinggi dapat meningkatkan tekanan elektrokimia pada sel dan mempercepat proses degradasi.
Baca Juga: Cara Parkir Paralel Hyundai Ioniq 5 Lengkap, Jangan Cuma Asal N Ada Risikonya
Karena itu, untuk penggunaan harian, pemilik sebaiknya mengikuti rekomendasi batas pengisian yang diberikan masing-masing produsen. Pengisian hingga 100 persen dapat dilakukan ketika memang membutuhkan kapasitas maksimum untuk perjalanan jauh.
2. Terlalu Sering Membiarkan Baterai di Bawah 10 Persen
Kebiasaan lain yang perlu dihindari adalah membiarkan baterai mobil listrik berada pada tingkat pengisian sangat rendah dalam waktu lama.
Sesekali mencapai level di bawah 10 persen tentu tidak langsung merusak baterai. Namun, membiarkan kendaraan berada pada kondisi tersebut dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan sel dan membuat sistem manajemen baterai bekerja lebih keras.
Karena itu, jangan menjadikan baterai dengan kapasitas sangat rendah sebagai kondisi penyimpanan kendaraan.
3. Menjadikan Fast Charging DC sebagai Pengisian Utama
DC fast charging sangat membantu ketika membutuhkan pengisian baterai dalam waktu singkat, terutama saat perjalanan jauh.
Namun, penggunaan pengisian cepat secara terus-menerus dapat meningkatkan beban termal pada baterai. Temperatur tinggi dan arus pengisian besar secara berulang dapat mempercepat proses penuaan sel.
Baca Juga: Mobil Rentan Bermasalah Saat Macet, Pengendara Perlu Siapkan Solusi Darurat
Untuk kebutuhan sehari-hari, pengisian AC di rumah umumnya lebih ideal. Sementara itu, pengisian cepat DC dapat digunakan ketika memang dibutuhkan.
4. Mengisi Daya Saat Baterai Terlalu Dingin
Temperatur baterai juga menjadi faktor penting dalam proses pengisian. Mengisi baterai lithium-ion ketika suhunya terlalu rendah dapat meningkatkan risiko lithium plating, yaitu pengendapan lithium pada permukaan anoda.
Karena itu, sejumlah mobil listrik memiliki fitur battery pre-conditioning untuk mempersiapkan temperatur baterai sebelum melakukan pengisian cepat.
Jika tersedia, gunakan fitur tersebut ketika akan melakukan DC fast charging dalam kondisi temperatur rendah.
5. Parkir dengan Baterai Penuh di Cuaca Panas
Kombinasi antara SOC tinggi dan temperatur tinggi merupakan salah satu kondisi yang kurang ideal bagi baterai lithium-ion.
Membiarkan mobil dalam kondisi baterai mendekati penuh dalam waktu lama, terutama ketika kendaraan terpapar temperatur tinggi, dapat mempercepat proses degradasi.
Baca Juga: Mengenal Istilah CLTC, NEDC, dan WLTP pada Jarak Tempuh Mobil Listrik
Untuk itu, apabila kendaraan tidak akan digunakan dalam waktu lama, sebaiknya ikuti rekomendasi tingkat pengisian yang tercantum dalam buku manual kendaraan.
6. Langsung Berkendara Agresif Setelah Fast Charging
Setelah melakukan pengisian cepat DC, temperatur baterai dapat meningkat. Langsung menggunakan mobil dengan akselerasi agresif akan menambah beban termal pada sistem baterai.
Sistem manajemen baterai pada mobil modern memang dirancang untuk mengontrol kondisi tersebut. Namun, memberikan waktu bagi temperatur baterai untuk kembali ke kondisi optimal tetap menjadi kebiasaan yang lebih baik.