KabarOto.com - Konflik antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel berdampak pada rombongan MotoGP. Musabab, perang tersebut memaksa maskapai penerbangan membatalkan ribuan penerbangan.
Setelah seri perdana lalu, kepulangan tim MotoGP dari Thailand menuju Eropa terganggu. Konflik yang terus meluas di kasawan Timur Tengah menyebabkan Bandara Dubai ditutup, membuat ratusan kru dan pembalap tidak bisa kembali ke rumah.
Diketahui, Bandara International Dubai yang menjadi titik transit utama penerbangan dari Thailand ke Eropa ditutup sejak Minggu malam.
Baca Juga: MotoGP 2026 Jadi Tempat Uji Kualitas Produk, Motul Sponsori Empat Pembalap
Jadwal Penerbangan Terganggu
Meskipun pembalap kelas utama MotoGP masih aman karena menggunakan jet pribadi, tapi nasib berbeda dialami oleh kru mekanik, staf tim hingga pembalap Moto2 dan Moto3.
Pilihan penerbangan menjadi terbatas dan lebih mahal. Di mana, harga tiket kelas ekonomi dari kawasan terdampak menuju Eropa naik tajam dari 3.000 menjadi 6.000 euro atau sekitar Rp 51 juta hingga Rp 117 jutaan.
Beberapa tim besar harus memutar otak untuk melakukan pemesanan ulang massal. Salah satunya, Tim Intact GP yang terpaksa mengalihkan rute penerbangan mereka melalui China.
Baca Juga: Hasil Buruk Yamaha di MotoGP Thailand 2026, Kalah Dari Pembalap Rookie Honda
"Beberapa orang kami terdampak, tapi kami berhasil memesan ulang penerbangan lewat China," kata Karina Mohilius, Koordinator Tim Intact GP dikutip dari Speedweek.
Sementara itu, Manajer Tim Ducati Lenovo, Davide Tardozzi mengatakan beruntung karena sudah memesan tiket via Istnabul, Turki, dari jauh-jauh hari.
"Saya beruntung terbang lewat Istanbul. Tapi saya tahu banyak tim yang terdampak dari kekacauan ini," kata Tardozzi.

