Tak Perlu Lagi Gunakan Kapal Feri, Jembatan Tumbang Samba Di Kalteng Siap Digunakan

Tak Perlu Lagi Gunakan Kapal Feri, Jembatan Tumbang Samba di Kalteng Siap Digunakan Jembatan Tumbang Samba (PUPR)

KabarOto.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dikabarkan telah menyelesaikan pembangunan Jembatan Tumbang Samba, yang menghubungkan Desa Telok dan Desa Samba Danum, di Kecamatan Katingan Tengah, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, kehadiran jembatan tersebut dapat memperlancar konektivitas di Lintas Tengah Kalimantan, serta meningkatkan kegiatan ekonomi di daerah sekitar.

Baca Juga: Cek Persiapan New Normal, Presiden Jokowi Naik Mobil Baru Ke Bekasi?

"Semakin terhubungnya Lintas Tengah Kalimantan, akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi kawasan karena di sekitarnya terdapat perkebunan seperti sawit, karet dan pertambangan. Jadi akan mempercepat transportasi logistik," kata Basuki.

Sementara Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XI Banjarmasin Ditjen Bina Marga Budi Harimawan Semihardjo mengatakan, pembangunan Jembatan Tumbang Samba bertujuan untuk membuka kawasan terisolir di Utara Katingan.

Permudah akses masyarakat

"Kehadiran jembatan yang melintasi Sungai Katingan ini, sudah sangat ditunggu oleh masyarakat Kalteng, karena akan mempermudah pergerakan masyarakat dari bagian hulu atau Utara Kabupaten Katingan, ke Pasar Tumbang Samba hingga ke batas Kalbar," tutur Budi.

Lebih lanjut Budi menambahkan, jembatan berjuluk "Bumi Tambun Bungai" dengan total panjang 843,2 meter tersebut, akan menjadi yang terpanjang di Provinsi Kalimantan Tengah.

Menariknya, keseluruhan proses produksi jembatan itu menggunakan produk dalam negeri, mulai dari struktur baja, trial assembly, proses full span lifting, dan juga tenaga kerja dalam negeri. Pada Senin 1 Juni 2020, telah dilakukan uji coba Open Traffic.

Baca Juga: Sebanyak 2.226 Mobil Honda Milik Dokter Telah Terdaftar Diservis Gratis

"Jembatan itu nantinya bakal dimanfaatkan oleh lalu lintas kendaraan dari berbagai daerah, sehingga masyarakat tidak perlu lagi menggunakan jasa kapal feri untuk menyeberangi Sungai Katingan untuk mengangkut kendaraannya," pungkas Budi.