KabarOto.com berkesempatan menjajal ketangguhan Ace Scrambler dalam touring Tangerah-Cileteuh, Sukabumi beberapa waktu lalu. Bagaimana performanya?
Scrambler sejatinya bisa dikatakan motor segala medan. Menerabas medan berat: OK. Buat kebut-kebutan: juga OK!
Menilik dari beberapa referensi, sejarah Scrambler bermula sekitar 1920an di Inggris. Nama scrambler diambil dari nama sebuah ajang balapan sepeda motor di Negeri Ratu Elizabeth itu.
Balapannya unik. Pembalap yang berhak menjadi pemenang adalah yang memperoleh catatan waktu tercepat dari jarak yang sudah ditentukan. Tapi, bebas.
Bebas dalam arti boleh memilih lintasan apapun. Boleh menerabas hutan. Perbukitan. Gunung. Jalanan aspal atau tanah. Batu-batuan. Dan lumpur sekalipun. Yang penting: paling cepat sampai di titik yang ditentukan! Seru.
Nah, kalau mau melibas jalanan ekstrem, apa iya motor yang digunakan masih standar? Jelas tidak!
Karenanya, para pembalap memodifikasi tunggangannya. Tujuannya agar kuda besinya melahap semua medan yang hendak diterjang.
Bannya di ganti dengan ulir tahu kotak-kotak. Posturnya ditinggikan guna mendapat ground clearance lebih tinggi. Biar nggak nyangkut di gundukan.
Knalpotnya ditinggikan. Jok ditipiskan. Alhasil, scrambler terlihat urakan tapi tetap enak dilihat.
Baca Juga: Profil - Cleveland Ace Scrambler, Si Klasik Pelahap Segala Medan