
Artinya, kinerja poros engkol mesin punya putaran berlawanan dengan arah laju roda, tak seperti motor pada umumnya yang punya mesin forward-rotating crankshaft searah laju roda. Secara logika, efek giroskopik yang dihasilkan pun lebih kecil dan bisa menghambat laju akselerasi. Namun positifnya, motor menjadi lebih mudah dikendalikan sewaktu di tikungan.
Namun untuk unit tes F4 yang Kabaroto cicipi, kebetulan punya tingkat kekerasan suspensi belakang yang cenderung lembut. Berbeda dengan adiknya, yakni F3 800 yang sudah disetel keras dan lebih pede untuk 'knee down'. Yang pasti, jika F4 ini di-adjust dengan tingkat kekerasan yang sama dengan F3 800 yang sempat kami jajal, akan lebih presisi lagi di tikungan tanpa khawatir terjadi 'wobbling'.
Test rider kebetulan memiliki tinggi badan 188 cm, tinggi jok 830 mm dan lebar 750 mm superbike ini tentu tak jadi masalah, kedua kaki kami bisa menapak aspal. Namun dengan tinggi badan dibawah 180 cm, dimensi superbike ini memang menjadi sedikit hambatan, bukan hanya soal kaki, namun untuk menahan bobotnya pun perlu usaha ekstra. Belum lagi riding position yang terbilang membungkuk. Setelah seminggu, punggung dan pinggul kami perlu di pijat. Pastinya memang jarang sekali yang memakai motor ini untuk keperluan sehari-hari.
Baca Juga: Test Ride - Kencan Seminggu Dengan Royal Enfield Classic 500