OtoNews

OtoSport

OtoModif

OtoTips

OtoKomersial

OtoSpesifikasi

Baterai LFP Mobil Listrik Ternyata Punya Aturan Cas, Begini Caranya Biar Lebih Awet

Pradia Eggi - 1 jam, 16 menit lalu
OtoTips Tips Mobil

KabarOto.com - Selain NMC dan NCA, Lithium Iron Phosphate (LFP) menjadi salah satu jenis baterai yang semakin banyak digunakan pada mobil listrik.

LFP dikenal memiliki stabilitas termal yang baik, umur siklus panjang, serta ketahanan yang lebih baik terhadap kondisi penggunaan tertentu dibandingkan beberapa jenis baterai berbasis nikel.

Namun, bukan berarti baterai LFP bisa diperlakukan sembarangan.

1. Baterai LFP Dianjurkan Pengisian 100 Persen

Berbeda dengan NMC atau NCA, beberapa kendaraan yang menggunakan baterai LFP justru merekomendasikan pengisian hingga 100 persen secara berkala.

Hal ini bukan semata-mata untuk memperpanjang umur baterai, melainkan membantu BMS (Battery Management System) mengalibrasi estimasi SOC (State of Charge) secara lebih akurat.

Karena itu, pemilik mobil listrik LFP sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan mengenai frekuensi pengisian hingga 100 persen.

Chery J6 dibekali baterai LFP yang dipasok dari CATL.

2. Hindari Pengisian Saat Baterai Terlalu Dingin

LFP memiliki performa yang lebih sensitif terhadap temperatur rendah. Ketika baterai berada pada temperatur rendah, kemampuan menerima arus pengisian dapat menurun.

Sistem kendaraan biasanya akan membatasi daya pengisian atau mengaktifkan sistem pemanasan baterai untuk menjaga kondisi sel.

3. Jangan Terlalu Sering Fast Charging dalam Kondisi Dingin

Menggabungkan temperatur baterai yang rendah dengan arus pengisian tinggi bukan kondisi ideal.

Jika kendaraan menyediakan fitur battery pre-conditioning, sebaiknya gunakan sebelum melakukan pengisian cepat dalam kondisi temperatur rendah.

Baca Juga: Jangan Asal Cas, 6 Kebiasaan Ini Bikin Baterai Mobil Listrik NMC dan NCA Cepat Rusak

4. Jangan Menyimpan Mobil dengan Baterai Sangat Rendah

Membiarkan baterai berada pada level sangat rendah dalam waktu lama juga tidak disarankan.

Bukan hanya LFP, seluruh baterai lithium-ion memiliki risiko ketika dibiarkan dalam kondisi SOC terlalu rendah dalam periode panjang.

Jika mobil akan ditinggalkan dalam waktu lama, ikuti batas SOC penyimpanan yang direkomendasikan pabrikan.

5. Tetap Hindari Temperatur Tinggi

LFP memang memiliki stabilitas termal yang baik, tetapi bukan berarti kebal terhadap panas.

Temperatur tinggi yang berlangsung dalam waktu lama tetap dapat mempercepat penuaan baterai. Karena itu, parkir di tempat teduh atau menggunakan fasilitas yang dapat membantu mengurangi paparan panas tetap menjadi langkah yang baik.

Seluruh varian Wuling Air Ev menggunakan baterai LFP tersertifikasi IP67.

6. Jangan Bandingkan Performa LFP dengan NMC

Salah satu karakteristik LFP adalah performanya dapat lebih terpengaruh ketika temperatur rendah.

Penurunan tenaga maupun kemampuan regeneratif dalam kondisi tertentu bukan selalu menandakan baterai mengalami kerusakan. Sistem kendaraan dapat membatasi performa untuk menjaga kondisi baterai.

Jangan Memaksakan Regenerative Braking Saat Baterai Dingin

Sistem pengereman regeneratif bekerja dengan mengirimkan energi kembali ke baterai. Namun, kemampuan baterai menerima energi tersebut dapat berkurang ketika temperatur sel terlalu rendah.

Itulah sebabnya beberapa mobil listrik secara otomatis membatasi regenerative braking ketika baterai masih dingin.

Baca Juga: Denza Z9 GT Xtreme Siap Tantang Rekor Porsche Taycan Turbo GT

Lindungi Baterai dari Benturan

Benturan keras pada bagian bawah kendaraan dapat berpotensi merusak rumah baterai maupun komponen di dalamnya. Jika mobil mengalami benturan serius, pemeriksaan baterai sebaiknya dilakukan sebelum kendaraan kembali digunakan secara normal.

Seres E1 menggunakan baterai LFP dengan soket pengisian daya AC tipe 2

Baterai Mobil Listrik Bukan Seperti Tangki Bensin

Pada akhirnya, tidak ada satu pola pengisian yang bisa diterapkan secara sama untuk seluruh mobil listrik. Jenis kimia baterai, sistem pendinginan, kapasitas baterai, BMS, serta strategi yang digunakan setiap produsen dapat berbeda.

Namun, ada prinsip umum yang bisa diterapkan pemilik mobil listrik untuk membantu menjaga kesehatan baterai.

Hindari membiarkan baterai berada pada kondisi ekstrem terlalu lama, perhatikan temperatur baterai, gunakan DC fast charging sesuai kebutuhan, dan ikuti rekomendasi pengisian dari produsen kendaraan.

Baca Juga: Porsche 911 Challenge Diluncurkan Khusus untuk Menghajar Sirkuit, Dibanderol Rp4 Miliaran

Hal terpenting adalah jangan menganggap baterai mobil listrik sebagai tangki bensin. Pada mobil konvensional, mengisi bahan bakar hingga penuh lalu membiarkannya terparkir beberapa hari bukan persoalan besar. Pada baterai lithium-ion, kombinasi SOC tinggi dan temperatur tinggi justru dapat mempercepat proses degradasi.

Dengan memahami karakteristik baterai yang digunakan, pemilik mobil listrik dapat menjaga performa dan kapasitas baterai lebih optimal dalam jangka panjang.

Jadi, bukan berarti baterai mobil listrik rapuh. Baterai hanya membutuhkan pola penggunaan yang sesuai dengan karakteristik kimianya.

Baca Artikel Asli