KabarOto.com - Selain NMC dan NCA, Lithium Iron Phosphate (LFP) menjadi salah satu jenis baterai yang semakin banyak digunakan pada mobil listrik.
LFP dikenal memiliki stabilitas termal yang baik, umur siklus panjang, serta ketahanan yang lebih baik terhadap kondisi penggunaan tertentu dibandingkan beberapa jenis baterai berbasis nikel.
Namun, bukan berarti baterai LFP bisa diperlakukan sembarangan.
Daftar Isi
-
1. Baterai LFP Dianjurkan Pengisian 100 Persen
-
2. Hindari Pengisian Saat Baterai Terlalu Dingin
-
3. Jangan Terlalu Sering Fast Charging dalam Kondisi Dingin
-
4. Jangan Menyimpan Mobil dengan Baterai Sangat Rendah
-
5. Tetap Hindari Temperatur Tinggi
-
6. Jangan Bandingkan Performa LFP dengan NMC
-
Jangan Memaksakan Regenerative Braking Saat Baterai Dingin
-
Lindungi Baterai dari Benturan
-
Baterai Mobil Listrik Bukan Seperti Tangki Bensin
-
Simulasi Kredit
1. Baterai LFP Dianjurkan Pengisian 100 Persen
Daftar Isi
- 1. Baterai LFP Dianjurkan Pengisian 100 Persen
- 2. Hindari Pengisian Saat Baterai Terlalu Dingin
- 3. Jangan Terlalu Sering Fast Charging dalam Kondisi Dingin
- 4. Jangan Menyimpan Mobil dengan Baterai Sangat Rendah
- 5. Tetap Hindari Temperatur Tinggi
- 6. Jangan Bandingkan Performa LFP dengan NMC
- Jangan Memaksakan Regenerative Braking Saat Baterai Dingin
- Lindungi Baterai dari Benturan
- Baterai Mobil Listrik Bukan Seperti Tangki Bensin
- Simulasi Kredit
Berbeda dengan NMC atau NCA, beberapa kendaraan yang menggunakan baterai LFP justru merekomendasikan pengisian hingga 100 persen secara berkala.
Hal ini bukan semata-mata untuk memperpanjang umur baterai, melainkan membantu BMS (Battery Management System) mengalibrasi estimasi SOC (State of Charge) secara lebih akurat.
Karena itu, pemilik mobil listrik LFP sebaiknya mengikuti rekomendasi pabrikan mengenai frekuensi pengisian hingga 100 persen.
2. Hindari Pengisian Saat Baterai Terlalu Dingin
LFP memiliki performa yang lebih sensitif terhadap temperatur rendah. Ketika baterai berada pada temperatur rendah, kemampuan menerima arus pengisian dapat menurun.
Sistem kendaraan biasanya akan membatasi daya pengisian atau mengaktifkan sistem pemanasan baterai untuk menjaga kondisi sel.
3. Jangan Terlalu Sering Fast Charging dalam Kondisi Dingin
Menggabungkan temperatur baterai yang rendah dengan arus pengisian tinggi bukan kondisi ideal.
Jika kendaraan menyediakan fitur battery pre-conditioning, sebaiknya gunakan sebelum melakukan pengisian cepat dalam kondisi temperatur rendah.
Baca Juga: Jangan Asal Cas, 6 Kebiasaan Ini Bikin Baterai Mobil Listrik NMC dan NCA Cepat Rusak
4. Jangan Menyimpan Mobil dengan Baterai Sangat Rendah
Membiarkan baterai berada pada level sangat rendah dalam waktu lama juga tidak disarankan.
Bukan hanya LFP, seluruh baterai lithium-ion memiliki risiko ketika dibiarkan dalam kondisi SOC terlalu rendah dalam periode panjang.
Jika mobil akan ditinggalkan dalam waktu lama, ikuti batas SOC penyimpanan yang direkomendasikan pabrikan.
5. Tetap Hindari Temperatur Tinggi
LFP memang memiliki stabilitas termal yang baik, tetapi bukan berarti kebal terhadap panas.
Temperatur tinggi yang berlangsung dalam waktu lama tetap dapat mempercepat penuaan baterai. Karena itu, parkir di tempat teduh atau menggunakan fasilitas yang dapat membantu mengurangi paparan panas tetap menjadi langkah yang baik.
6. Jangan Bandingkan Performa LFP dengan NMC
Salah satu karakteristik LFP adalah performanya dapat lebih terpengaruh ketika temperatur rendah.
Penurunan tenaga maupun kemampuan regeneratif dalam kondisi tertentu bukan selalu menandakan baterai mengalami kerusakan. Sistem kendaraan dapat membatasi performa untuk menjaga kondisi baterai.
Jangan Memaksakan Regenerative Braking Saat Baterai Dingin
Sistem pengereman regeneratif bekerja dengan mengirimkan energi kembali ke baterai. Namun, kemampuan baterai menerima energi tersebut dapat berkurang ketika temperatur sel terlalu rendah.
Itulah sebabnya beberapa mobil listrik secara otomatis membatasi regenerative braking ketika baterai masih dingin.
Baca Juga: Denza Z9 GT Xtreme Siap Tantang Rekor Porsche Taycan Turbo GT
Lindungi Baterai dari Benturan
Benturan keras pada bagian bawah kendaraan dapat berpotensi merusak rumah baterai maupun komponen di dalamnya. Jika mobil mengalami benturan serius, pemeriksaan baterai sebaiknya dilakukan sebelum kendaraan kembali digunakan secara normal.
Baterai Mobil Listrik Bukan Seperti Tangki Bensin
Pada akhirnya, tidak ada satu pola pengisian yang bisa diterapkan secara sama untuk seluruh mobil listrik. Jenis kimia baterai, sistem pendinginan, kapasitas baterai, BMS, serta strategi yang digunakan setiap produsen dapat berbeda.
Namun, ada prinsip umum yang bisa diterapkan pemilik mobil listrik untuk membantu menjaga kesehatan baterai.
Hindari membiarkan baterai berada pada kondisi ekstrem terlalu lama, perhatikan temperatur baterai, gunakan DC fast charging sesuai kebutuhan, dan ikuti rekomendasi pengisian dari produsen kendaraan.
Baca Juga: Porsche 911 Challenge Diluncurkan Khusus untuk Menghajar Sirkuit, Dibanderol Rp4 Miliaran
Hal terpenting adalah jangan menganggap baterai mobil listrik sebagai tangki bensin. Pada mobil konvensional, mengisi bahan bakar hingga penuh lalu membiarkannya terparkir beberapa hari bukan persoalan besar. Pada baterai lithium-ion, kombinasi SOC tinggi dan temperatur tinggi justru dapat mempercepat proses degradasi.
Dengan memahami karakteristik baterai yang digunakan, pemilik mobil listrik dapat menjaga performa dan kapasitas baterai lebih optimal dalam jangka panjang.
Jadi, bukan berarti baterai mobil listrik rapuh. Baterai hanya membutuhkan pola penggunaan yang sesuai dengan karakteristik kimianya.