KabarOto.com - BYD Automobile semakin menunjukkan taringnya di pasar otomotif Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau GAIKINDO, BYD menjadi merek asal Tiongkok dengan penjualan wholesales tertinggi sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Dalam delapan bulan pertama 2026, distribusi BYD dari pabrik ke dealer mencapai 37.696 unit. Angka tersebut membuat BYD tidak hanya menjadi merek Tiongkok dengan penjualan tertinggi, tetapi juga berhasil masuk lima besar merek mobil terlaris di Indonesia secara keseluruhan.
Posisi BYD berada di bawah Toyota, Daihatsu, Suzuki, dan Mitsubishi Motors. Data tersebut menunjukkan perubahan peta persaingan pasar otomotif Indonesia yang selama bertahun-tahun didominasi merek Jepang.
BYD Kalahkan Merek Tiongkok Lain
Jika dibandingkan dengan merek Tiongkok lainnya, jarak BYD dengan kompetitor terdekatnya cukup besar.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, Jaecoo mencatat wholesales 23.834 unit, Geely 12.510 unit, Wuling 11.375 unit, dan Chery 7.867 unit.
Dengan torehan 37.696 unit, BYD berada di posisi teratas di antara merek Tiongkok yang berjualan di Indonesia. Bahkan, distribusi BYD lebih tinggi sekitar 13.862 unit dibanding Jaecoo.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa BYD tidak hanya mengandalkan satu model untuk mengejar volume penjualan. Sejumlah produk seperti Atto 1, M6, Sealion 7, Atto 3 dan model lainnya ikut menyumbang distribusi sepanjang tahun berjalan.
Baca Juga: Pasar PHEV Indonesia Agustus 2026 Memanas: BYD M6 DM Perkasa
BYD Atto 1 Jadi Senjata Utama
Salah satu produk yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan BYD adalah Atto 1.
Pada Agustus 2026 saja, BYD Atto 1 mencatat wholesales sebanyak 5.560 unit. Angka tersebut menempatkannya di posisi kedua daftar mobil terlaris Indonesia pada bulan tersebut, hanya berada di bawah Daihatsu Gran Max yang mencatat 6.662 unit.
Menariknya, Atto 1 berhasil mengungguli sejumlah model populer dari merek Jepang seperti Toyota, Honda dan Suzuki.
Berdasarkan data GAIKINDO, jika seluruh varian Atto 1 digabungkan, yakni Standard, Premium dan Dynamic, distribusinya mencapai 5.560 unit pada Agustus.
Secara kumulatif Januari-Agustus 2026, Atto 1 telah mencatat 19.909 unit wholesales. Namun, untuk kategori model BEV, angka tersebut belum menjadikannya yang terlaris karena Jaecoo J5 mengumpulkan 23.359 unit pada periode yang sama.
BYD M6 Ikut Menopang Penjualan
Selain Atto 1, BYD M6 juga menjadi salah satu model penting bagi BYD di Indonesia.
GAIKINDO mencatat BYD M6 membukukan wholesales 1.840 unit pada Agustus 2026. Angka tersebut merupakan gabungan model M6 BEV dan M6 DM.
Jika dihitung sepanjang Januari-Agustus, BYD M6 telah mencatat distribusi sekitar 6.694 unit. Sementara BYD Sealion 7 menyumbang sekitar 4.251 unit pada periode yang sama.
Dengan demikian, BYD memiliki beberapa model dengan volume penjualan signifikan, bukan hanya mengandalkan Atto 1.
Baca Juga: BYD Atto 2 2027 Resmi Meluncur, Harga Rp170 Jutaan Bisa Tempuh 501 Km
BYD Kuasai Penjualan Mobil Listrik dan Hybrid
Kekuatan BYD semakin terlihat jika penjualan dikelompokkan berdasarkan kendaraan elektrifikasi.
Pada Agustus 2026, GAIKINDO mencatat BYD membukukan wholesales 7.870 unit dan retail sales 6.861 unit. Angka tersebut menjadikan BYD sebagai merek dengan distribusi terbesar di antara pemain kendaraan listrik dan hybrid pada bulan tersebut.
Posisi berikutnya ditempati Jaecoo dengan 3.300 unit wholesales dan Geely dengan 2.121 unit.
Namun, data ini perlu dibaca dengan konteks. BYD unggul ketika seluruh model elektrifikasinya sebagai satu merek digabungkan, sedangkan jika dibandingkan berdasarkan model BEV individual, Jaecoo J5 masih berada di atas Atto 1 untuk periode Januari-Agustus.
Perbedaan cara membaca data ini penting agar istilah "mobil listrik terlaris" tidak tercampur antara kategori merek dan model.
BYD Kini Tidak Lagi Hanya Mengandalkan Mobil Impor
Pertumbuhan penjualan BYD juga terjadi bersamaan dengan perubahan besar dalam strategi produksinya di Indonesia.
Pada 3 September 2026, BYD resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur di Subang, Jawa Barat. Setelah pabrik tersebut beroperasi, BYD memastikan tidak lagi mengimpor kendaraan secara utuh atau completely built-up (CBU) untuk pasokan baru di Indonesia.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan hal tersebut.
Sudah tidak (impor) sama sekali. Kita memang berkomitmen untuk setop karena kita sudah punya pabrik,
kata Luther beberapa waktu lalu.
Menurut Luther, kendaraan yang saat ini masih berasal dari impor merupakan sisa stok yang sebelumnya sudah masuk ke Indonesia. Setelah stok tersebut habis, pasokan berikutnya akan berasal dari produksi domestik.
Baca Juga: Harga BYD Seal Terbaru Agustus 2026, Lengkap dengan Spesifikasi dan Variannya
Pabrik BYD di Subang memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. Untuk tahap awal, fasilitas tersebut memproduksi BYD Atto 1, M6 EV dan M6 DM. BYD juga membuka peluang produksi lokal untuk model lainnya, termasuk merek premium Denza.
BYD Mulai Bangun Ekosistem Baterai di Indonesia
Strategi BYD di Indonesia juga tidak berhenti pada produksi mobil.
Presiden Direktur PT BYD Motor Indonesia, Eagle Zhao, mengatakan perusahaan tengah menyiapkan proses perakitan yang berkaitan dengan manufaktur baterai untuk meningkatkan kandungan lokal kendaraan.
Tanpa proses yang menyeluruh dari produksi, kita tidak bisa bilang bahwa suatu produk sepenuhnya buatan Indonesia. Kami juga merencanakan untuk melakukan beberapa pekerjaan perakitan (assembly) yang berkaitan dengan manufaktur baterai,
kata Eagle.
BYD menargetkan tingkat komponen dalam negeri atau TKDN mencapai 60 persen mulai Januari 2027. Menurut Eagle, langkah tersebut menjadi bagian dari persiapan perusahaan untuk memenuhi persyaratan TKDN sekaligus memperbesar ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.
BYD Automobile Makin Sulit Dianggap Pendatang Baru
Dengan distribusi 37.696 unit sepanjang Januari-Agustus 2026, BYD sudah tidak lagi sekadar menjadi pemain baru di pasar otomotif Indonesia.
BYD bahkan berhasil masuk lima besar merek dengan wholesales terbesar secara nasional pada periode tersebut. Pada saat yang sama, produk seperti Atto 1 mampu menembus papan atas daftar mobil terlaris bulanan dan mengungguli sejumlah model bermesin konvensional yang selama ini menjadi pilihan utama konsumen Indonesia.
Baca Juga: KabarOto Update: Daftar Mobil Terlaris Agustus 2026, BYD Atto 1 Kalahkan Kijang Innova
Yang membuat perkembangan BYD semakin menarik adalah perubahan strategi produksinya. Setelah sebelumnya mengandalkan kendaraan impor, perusahaan kini mulai memproduksi mobil di Indonesia dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun.
Dengan kombinasi volume penjualan, semakin banyaknya model, produksi lokal, dan rencana peningkatan TKDN, persaingan merek Tiongkok di Indonesia memasuki babak baru. BYD saat ini menjadi merek Tiongkok dengan distribusi terbesar, sementara merek seperti Jaecoo, Geely, Wuling dan Chery terus mengejar dari belakang.
Data GAIKINDO hingga Agustus 2026 dengan demikian memperlihatkan satu hal, peta pasar mobil Indonesia mulai berubah, dan BYD menjadi salah satu nama yang paling menonjol dalam perubahan tersebut.