OtoNews

OtoSport

OtoModif

OtoTips

OtoKomersial

OtoSpesifikasi

Daimler, Volvo, dan Toyota Percepat Era Truk Hidrogen Melalui Cellcentric

Kusnadi Chahyono - Selasa, 31 Maret 2026
OtoKomersial

KabarOto.com - Daimler Truck AG, Volvo Group, dan Toyota Motor Corporation secara resmi mengumumkan penandatanganan perjanjian non-mengikat untuk berkolaborasi dalam joint venture sistem sel bahan bakar, cellcentric.

Dalam kesepakatan strategis ini, Toyota direncanakan bergabung sebagai pemegang saham ketiga dengan porsi kepemilikan yang setara dengan Daimler dan Volvo. Langkah ini diambil untuk menggabungkan keahlian komplementer dari ketiga pemimpin industri otomotif dunia demi mempercepat komersialisasi teknologi hidrogen pada kendaraan berat.

Tujuan utama dari aliansi ini adalah mengembangkan, memproduksi, dan memasarkan sistem sel bahan bakar (fuel cell) yang kompetitif untuk truk kategori heavy-duty serta aplikasi industri lainnya. Fokus kerja sama tidak hanya pada perakitan akhir, namun merambah hingga ke komponen inti yakni unit cells.

Baca Juga: Efek Domino Kenaikan BBM, Mobil Listrik sebagai Solusi Mobilitas

Dengan menyatukan pengalaman operasional truk dari Eropa dan keunggulan manufaktur serta teknologi fuel cell Toyota dari Jepang, ketiga pihak optimistis dapat menciptakan efisiensi investasi yang lebih baik.

Kerja sama ini lahir sebagai respons terhadap mendesaknya kebutuhan dekarbonisasi di sektor transportasi global. Hidrogen diposisikan sebagai solusi kunci yang melengkapi teknologi baterai-listrik, terutama untuk kebutuhan angkutan jarak jauh dan beban berat yang sulit diatasi oleh baterai konvensional.

Melalui cellcentric, para mitra bermaksud menciptakan "pusat kompetensi" yang mampu memenuhi tuntutan standar lingkungan seperti European Green Deal dan target masyarakat hidrogen di Jepang.

Karin Rådström (President & CEO Daimler Truck), Koji Sato, (President dan CEO Toyota Motor Corporation), dan Martin Lundstedt selaku President dan CEO Volvo Group

Karin Rådström, President & CEO Daimler Truck, menekankan pentingnya skala ekonomi dalam teknologi ini:

"Kami bangga bahwa Toyota berencana bergabung dengan cellcentric sebagai pemegang saham. Hal ini akan memungkinkan kami memperkuat pengembangan dan lebih meningkatkan skala teknologi hidrogen, yang kami yakini melengkapi penggerak listrik baterai dalam dekarbonisasi transportasi."

Senada dengan itu, Martin Lundstedt selaku President dan CEO Volvo Group, melihat kolaborasi ini sebagai sinyal kuat bagi seluruh ekosistem transportasi dunia.

"Kami sangat antusias menjajaki kolaborasi ini dengan Toyota, sehingga melalui cellcentric kita dapat mempercepat dan menciptakan massa kritis untuk aplikasi hidrogen. Mengingat pentingnya mempercepat transformasi menuju transportasi net-zero, kebutuhan perusahaan besar untuk bersatu dan berkolaborasi menjadi lebih penting dari sebelumnya."

Bagi Toyota, langkah ini merupakan perluasan dari riset panjang mereka di sektor mobil penumpang ke ranah komersial yang lebih luas. Koji Sato, President dan CEO Toyota Motor Corporation, menyatakan akan mengerahkan segala kemampuannya.

"Toyota akan menggabungkan kekuatan untuk menghadirkan salah satu sistem sel bahan bakar terkemuka di dunia untuk kendaraan komersial berat. Kami sangat berterima kasih atas kesempatan untuk segera bergabung dengan Daimler Truck dan Volvo Group sebagai mitra dalam membangun masyarakat hidrogen."

Baca Juga: BMW iX3 LWB Terbaru Punya Sistem AI DeepSeek dan Huawei HiCar

Meskipun bersatu di bawah bendera cellcentric, ketiga perusahaan ditegaskan akan tetap beroperasi sebagai entitas independen dan tetap bersaing di area bisnis lainnya. cellcentric sendiri akan berfungsi sebagai badan usaha otonom yang melayani berbagai pelanggan di pasar terbuka.

Selain fokus pada produk, para mitra juga berkomitmen untuk aktif mendorong pembangunan infrastruktur pengisian hidrogen melalui kerja sama dengan berbagai asosiasi industri di sepanjang rantai nilai energi.

Sebagai langkah penutup, perjanjian non-mengikat ini akan ditindaklanjuti dengan diskusi intensif untuk mencapai kesepakatan hukum yang final.

Proses ini nantinya harus melewati persetujuan dewan direksi masing-masing perusahaan serta otoritas regulasi di wilayah terkait. Jika terealisasi sepenuhnya, kemitraan ini diprediksi akan menjadi standar baru dalam industri otomotif global untuk mewujudkan masa depan transportasi yang berkelanjutan dan bebas emisi.

Baca Artikel Asli