OtoNews

OtoSport

OtoModif

OtoTips

OtoKomersial

OtoSpesifikasi

Lamborghini Temerario dan Ferrari 296 Adu Drag Race Dengan Mode EV, Siapa Unggul?

Dian Tami Kosasih - 2 jam, 38 menit lalu
OtoNews Oto News Mobil News

KabarOto.com - Pembuktian performa tidak lagi sekadar raungan mesin konvensional berputaran tinggi, melainkan seberapa efektif torsi instan dari motor listrik. Hal tersebut dibuktikan dalam uji coba drag race unik yang digelar Hagerty di Thunderhill Raceway, California.

Melibatkan dua rival abadi asal Italia, Lamborghini Temerario dan Ferrari 296 GTS ditantang beradu cepat dalam mode tidak biasa, yakni All-Electric Mode atau hanya mengandalkan tenaga baterai dan motor listrik tanpa menghidupkan mesin bensinnya.

Baca Juga: Ford Pecahkan Rekor Dunia Drag Race dengan Mustang Cobra Jet 2200, Tembus 6 Detik

Menariknya, jika dalam kondisi full power (hybrid) balapan seperempat mil, selesai dalam hitungan satu digit detik, mode senyap ini membutuhkan waktu hampir dua kali lipat lebih lama.

Dalam duel 'adu senyap' sepanjang 402 meter, Ferrari 296 GTS keluar sebagai pemenang dengan catatan waktu 17,5 detik. Sementara sang banteng, Lamborghini Temerario, harus puas dengan torehan 19,1 detik.

Faktor pembeda dalam balapan ini terdapat pada bobot kendaraan. Ferrari 296 GTS mengandalkan satu motor listrik di roda belakang, dan memiliki bobot total sekitar 1.728 kg.

Di sisi lain, Temerario menggendong arsitektur hybrid yang lebih kompleks dengan tiga motor listrik dan sistem penggerak All-Wheel Drive (AWD), sehingga bobotnya membengkak hingga 1.909 kg.

Meski kalah dalam mode elektrik, Lamborghini Temerario unggul ketika seluruh sistem hybrid diaktifkan. Kombinasi mesin 4.0-liter twin-turbo V8 flat-plane crank terbaru dengan tiga motor listrik menghasilkan tenaga sebesar 907 dk.

Berkat traksi brutal dari sistem AWD elektriknya, Temerario melesat dari 0-96 km per jam hanya dalam 2,2 detik dan menuntaskan quarter-mile dalam waktu 9,6 detik pada kecepatan 235 km per jam.

Ferrari 296 GTS, memiliki mesin 3.0-liter twin-turbo V6 dengan satu motor listrik, sehingga mampu menghasilkan tenaga total 818 dk, berkat penggerak roda belakang (RWD). Sempat kesulitan mencari traksi di awal start, mobil ini harus puas finish di angka 10,4 detik dengan kecepatan 227 km per jam.

Sebagai pembanding, Hagerty juga menyertakan McLaren 765LT, yang mewakili rekayasa supercar konvensional tanpa sentuhan elektrik sama sekali. McLaren memiliki power-to-weight ratio terbaik karena bobotnya yang super ringan, hanya 1.456 kg, dengan tenaga 765 dk dari mesin V8 twin-turbo.

Baca Juga: Galeri Modifikasi Honda Civic Estilo 'The Fatso', Terlahir untuk Lintasan Drag Race

Namun, tanpa bantuan torsi instan dari motor listrik, McLaren 765LT harus mengakui keunggulan teknologi hybrid modern dan finis paling buncit dengan waktu 10,6 detik pada kecepatan 225 km per jam.

Uji coba ini membuktikan bahwa meskipun teknologi hybrid membawa konsekuensi bobot yang masif, suntikan torsi instan dan sistem torque vectoring elektrik di era modern telah menciptakan standar baru dalam akselerasi straight-line, sehingga sulit ditandingi mobil bermesin bensin murni.

Baca Artikel Asli