Afer Sales Tulang Punggung Suzuki Selama Pandemik Covid-19

Afer Sales Tulang Punggung Suzuki Selama Pandemik Covid-19 After Sales menjadi tulang punggung Suzuki di mas Pandemik

KabarOto.com - Penjualan otomotif saat pandemik Covid-19 sangat menurun, tak hanya satu atau dua Agen Pemegang Merek (APM), hampir seluruhnya, baik itu kendaraan roda dua maupun roda empat. Untuk bisa bertahan saat Pembatasan Sosial Bersakala Besar (PSBB), mereka mengandalkan layanan after sales.

APM melakukan berbagai upaya agar konsumennya bisa melakukan perawatan mobil dan membeli suku cadang. Itu juga yang dilakukan PT Suzuki Indomobil Motor (SIS), mereka merasakan jika after sales menjadi tulang punggung mereka bertahan di masa pandemik.

Baca Juga: Cara Suzuki Melayani Konsumen Selama Pandemik Covid-19

“Saat PSBB kemarin, after sales menjadi tulang punggung dalam mengatasi masalah pandemik. APM lain juga fokus pada after sales untuk meng-cover operasional dari diler,” jelas Rieky Patrayudha, 4W, 2W & Marine Service Director PT SIS.

Perubahan yang terjadi di masa pandemik, konsumen yang tadinya datang ke bengkel lebih banyak memilih layanan Home Service. “Home Service pada Januari hingga Maret tidak terlalu mengalami perubahan yang signifikan hanya beberapa saja,” tambahnya.

Tetapi memasuki bulan April hingga Mei, telah terjadi peningkatan cukup tinggi pada penggunaan Home Suzuki. “Hal ini kami peroleh data dari Halo Suzuki, kenaikkan di dua bulan itu cukup drastis,” tambah Rieky lagi.

Lalu jika peningkatan pelayanan bengkel di rumah meningkat, bagaimana dengan suku cadang, apakah stok aman?

Christina Yuwantie, Spareparts Departement Head PT Suzuki Indomobil Motor mengatakan, selama masa pandemik, suku cadang tidak mengalami kendala, stok aman karena sebelum pandemik suku cadang melimpah.

“Beberapa yang kita impor dari India dan Tiongkok sudah ada sebelum pandemik, jadi aman stoknya,” terang Christina.

Baca Juga: Ada Quality Report, Suzuki Makin Sempurnakan Pelayanan

Peningkatan penjualan suku cadang ini, karena konsumen tidak bisa membeli unit baru, mereka memilih untuk memperbaiki dengan membeli suku cadang baru.

“Selama pandemik mereka kan terbatas, tidak bisa membeli mobil baru, paling ganti suku cadang pilihannya, jadi meningkat permintaan,” tambah Christina, saat Ngobrol Virtual (Ngovid) media jurnalistik, beberapa waktu lalu.