Banyak Diabaikan Pengemudi, Ini 5 Teknik Berkendara Aman Menurut BMW Driver Trainer

Alif Al Tsaqif
Alif Al Tsaqif
Sabtu, 14 Maret 2026
Banyak Diabaikan Pengemudi, Ini 5 Teknik Berkendara Aman Menurut BMW Driver Trainer

BMW X3 saat melakukan slalom. (Foto : KabarOto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Keselamatan berkendara tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan yang semakin canggih, tetapi juga pada kemampuan dan kebiasaan pengemudi di balik kemudi.

Hal inilah yang menjadi salah satu fokus dalam program Safety Driving Masterclass yang digelar BMW, sebuah sesi edukasi yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran pengemudi terhadap teknik berkendara yang benar.

Baca Juga: Hanya Ada 120 di Dunia, BMW Alpina XB7 Manufaktur Dibanderol Rp2,8 Miliar

BMW M4 saat di acara BMW Safety Driving Masterclass

Menurut Gerry Nasution, Certified BMW Driver Trainer, faktor manusia tetap menjadi komponen paling penting dalam keselamatan berkendara. Teknologi kendaraan memang membantu, namun keputusan dan cara mengemudi tetap berasal dari pengemudi itu sendiri.

“Pada akhirnya semua kembali kepada pengemudinya. Teknologi mobil bisa membantu, tetapi bagaimana cara kita mengemudi, bagaimana kita merespons situasi di jalan, itu yang menentukan apakah perjalanan kita aman, efektif, dan efisien,” ujar Gerry Nasution dalam sesi pelatihan berkendara tersebut.

Dalam sesi tersebut, Gerry memaparkan sejumlah prinsip dasar yang sering diabaikan pengemudi, mulai dari cara memandang jalan hingga teknik mengendalikan mobil. Berikut beberapa poin penting yang ia tekankan.

Line of Vision

Salah satu hal paling mendasar dalam berkendara adalah arah pandangan pengemudi. Gerry menekankan bahwa mata merupakan sensor utama tubuh saat mengemudi.

Menurutnya, setiap reaksi tubuh saat mengemudi—baik menginjak pedal gas, mengerem, maupun memutar setir—berawal dari informasi visual yang diterima mata.

“Semua reaksi kita berasal dari mata. Informasi dari jalan masuk melalui mata, diproses otak, lalu tubuh merespons lewat tangan dan kaki. Karena itu, arah pandangan pengemudi sangat menentukan,” jelas Gerry.

Baca Juga: Debut 18 Maret Mendatang, BMW i3 Neue Klasse Punya Jarak Tempuh 800 Km

Line of Vision merupakan aspek penting saat berkendara

Ia menyarankan agar pengemudi selalu mengarahkan pandangan ke jalur yang ingin dituju, bukan pada objek yang ingin dihindari. Prinsip ini sangat penting terutama ketika menghadapi situasi darurat seperti menghindari rintangan di jalan.

Jika mobil hendak bergerak ke kiri, maka pandangan juga harus diarahkan ke jalur kiri yang aman. Dengan begitu, otak akan secara alami mengarahkan gerakan tangan dan kaki untuk membawa kendaraan menuju arah tersebut.

Seat Position & Mirror Position

Posisi duduk sering dianggap sepele oleh banyak pengemudi. Padahal menurut Gerry, posisi duduk merupakan fondasi utama dalam mengendalikan kendaraan.

“Posisi duduk menentukan bagaimana kita merespons situasi di jalan. Refleks kita, kemampuan mengerem, hingga kenyamanan berkendara sangat dipengaruhi oleh posisi duduk,” kata Gerry.

Ia menjelaskan bahwa pengaturan kursi sebaiknya dilakukan dalam beberapa tahap. Pertama adalah menentukan ketinggian kursi agar pengemudi memiliki visibilitas maksimal ke arah depan tanpa terhalang dashboard.

Setelah itu, jarak kursi dengan pedal perlu diatur sehingga kaki masih memiliki sedikit sudut ketika pedal diinjak penuh. Hal ini penting agar pengemudi tetap nyaman dan memiliki kontrol yang baik terhadap pedal.

Baca Juga: BMW M2 Kini Tersedia dengan M Performance Track Kit Spek Balap

Interior BMW X5

Selanjutnya adalah posisi sandaran punggung. Gerry menyarankan agar punggung tetap menempel dengan baik pada sandaran kursi agar tubuh dapat merasakan pergerakan kendaraan.

“Sensor kendaraan sebenarnya bisa kita rasakan dari punggung. Saat mobil akselerasi, mengerem, atau menikung, tubuh akan merasakan pergerakan tersebut melalui kursi,” jelasnya.

Selain itu, posisi headrest juga tidak boleh diabaikan karena berfungsi melindungi kepala saat terjadi benturan dari belakang.

Untuk spion, Gerry menyarankan pengaturan yang memberikan visibilitas maksimal terhadap kendaraan di belakang dengan meminimalkan blind spot. Spion sebaiknya memperlihatkan sebagian kecil bodi mobil dan area jalan yang lebih luas di belakang kendaraan.

Steering Technique

Teknik memegang setir juga menjadi bagian penting dari keselamatan berkendara. Gerry menyebut bahwa posisi tangan ideal pada setir adalah posisi jam 9 dan jam 3.

Posisi ini bukan tanpa alasan. Menurutnya, desain setir pada mobil modern memang dirancang agar pengemudi memegang setir di posisi tersebut.

“Posisi tangan di jam 9 dan jam 3 adalah posisi paling efektif. Dengan posisi ini, pengemudi bisa memutar setir hingga 180 derajat tanpa perlu melepas tangan,” ujar Gerry.

Baca Juga: BMW M Memastikan Mobil Listriknya Lebih

Posisi yang baik ketika tangan berada di posisi jam 9 dan jam 3 atau jam 10 dan jam 2.

Selain memberikan kontrol yang lebih baik, posisi ini juga lebih aman karena tidak menghalangi kerja airbag ketika terjadi benturan.

Dengan posisi tangan yang tepat, pengemudi dapat melakukan manuver dengan lebih presisi serta menjaga stabilitas kendaraan dalam berbagai kondisi jalan.

Shifting & Braking

Dalam berkendara, pemahaman mengenai jarak berhenti kendaraan juga sangat penting. Gerry menjelaskan bahwa jarak berhenti terdiri dari dua komponen utama, yaitu reaction distance dan brake distance.

Reaction distance adalah jarak yang ditempuh kendaraan sejak pengemudi menyadari adanya bahaya hingga memindahkan kaki dari pedal gas ke pedal rem.

“Rata-rata waktu reaksi manusia sekitar satu detik. Dalam satu detik itu mobil masih terus melaju sebelum kita mulai mengerem,” jelas Gerry.

Setelah itu barulah kendaraan memasuki fase brake distance, yaitu jarak yang ditempuh sejak pedal rem diinjak hingga mobil benar-benar berhenti.

Baca Juga: BMW Alpina Jadi Merek Mandiri Kemewahan Performa Tinggi

BMW X3 saat mengetest pengereman

Ia menambahkan bahwa semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin panjang pula jarak berhentinya. Kondisi jalan, berat kendaraan, serta kondisi ban juga sangat memengaruhi efektivitas pengereman.

“Karena itu pengemudi harus selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan. Jangan menunggu terlalu dekat baru bereaksi,” katanya.

Cornering Behavior

Teknik menikung juga menjadi salah satu faktor penting dalam keselamatan berkendara. Gerry menjelaskan bahwa semakin tinggi kecepatan kendaraan, semakin besar radius tikungan yang dibutuhkan.

Jika kendaraan memasuki tikungan terlalu cepat, risiko kehilangan traksi akan meningkat. Kondisi ini bisa menyebabkan dua situasi berbeda yaitu oversteer atau understeer.

Oversteer terjadi ketika bagian belakang mobil kehilangan traksi sehingga terasa seperti menyusul bagian depan kendaraan. Sementara itu, understeer terjadi ketika roda depan kehilangan cengkeraman sehingga mobil cenderung terus melaju lurus meski setir sudah dibelokkan.

Dalam kedua kondisi tersebut, Gerry kembali menekankan pentingnya arah pandangan.

“Ketika mobil mulai kehilangan grip, jangan melihat ke arah rintangan. Pandanglah jalur yang ingin kita tuju. Secara alami tubuh akan mengikuti arah pandangan tersebut,” jelasnya.

Selain itu, pengemudi juga perlu mengurangi kecepatan secara bertahap dan menjaga kontrol setir agar kendaraan kembali stabil.

Baca Juga: Test Drive BMW M2 Competition - Roket Mungil Jerman Penurut Diajak Drifting

BMW i3S saat melakukan cornering

Pada akhirnya, Gerry menegaskan bahwa kendaraan modern memang dilengkapi berbagai sistem keselamatan canggih seperti Dynamic Stability Control (DSC) yang dapat membantu menjaga stabilitas mobil. Namun teknologi tersebut tetap hanya berfungsi sebagai alat bantu.

“Mobil boleh semahal apa pun, tetapi yang paling penting tetap cara kita mengemudi. Teknologi membantu, tetapi keselamatan tetap dimulai dari pengemudi,” tutup Gerry Nasution.

Tags:

#Tips Berkendara Mobil #Tips Inspeksi Mobil Bekas #Tips Ganti Ban Mobil # Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI)

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan