Harga BBM Bisa Melambung Kapan Saja, Saatnya Beralih ke Mobil Listrik

Kusnadi Chahyono
Kusnadi Chahyono
Rabu, 01 April 2026
Harga BBM Bisa Melambung Kapan Saja, Saatnya Beralih ke Mobil Listrik

Changan Deepal SO7

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Kebijakan pemerintah untuk melepas harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi mengikuti dinamika pasar global per 1 April 2026 sempat memicu reaksi luas di masyarakat. Dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia yang sulit diprediksi, biaya pengisian bahan bakar kini menjadi variabel yang sangat membebani pengeluaran rumah tangga.

Kondisi ini membuat banyak calon pembeli mobil mulai berpikir dua kali untuk pembelian kendaraan bermesin bakar (Internal Combustion Engine - ICE) dan melirik kendaraan listrik (Electric Vehicle - EV) sebagai solusi jangka panjang.

Keputusan untuk beralih ke mobil listrik kini bukan lagi sekadar mengikuti tren ramah lingkungan, melainkan murni kalkulasi finansial yang logis.

Fenomena kenaikan harga BBM yang konsisten membuat selisih pengeluaran antara mobil bensin dan listrik semakin kontras.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Listrik Murah di tengah Isu Harga BBM Naik, Berikut Daftarnya

Di segmen SUV kelas menengah dengan harga rentang Rp500 jutaan, perbedaan biaya operasional dalam satu tahun bisa mencapai puluhan juta rupiah, mencakup efisiensi energi, pajak kendaraan, hingga biaya pemeliharaan berkala yang jauh lebih minim.

Keunggulan utama mobil listrik terletak pada struktur mesinnya yang sederhana. Tanpa perlu penggantian oli mesin, filter udara, busi, hingga transmisi yang kompleks, biaya servis rutin SUV listrik terpangkas signifikan dibandingkan SUV bensin.

Menanggapi potensi kenaikan BBM, Head of Marketing Changan Indonesia, Ridjal Mulyadi, melihat bahwa hal ini bisa menjadi momentum yang tepat untuk masyarakat mulai beralih ke mobil listrik sebagai solusi mobilitas yang lebih efisien dan stabil.

"Dengan kendaraan listrik, pengguna tidak lagi terdampak fluktuasi harga BBM, mobil listrik juga didukung infrastruktur charging yang semakin luas, serta memiliki biaya operasional dan perawatan yang lebih rendah," yakin Ridjal kepada KabarOto.

Selain itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem EV dengan berbagai insentif, termasuk Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang nyaris nol persen di beberapa daerah serta pembebasan aturan ganjil-genap yang memberikan nilai efisiensi waktu bagi kaum komuter di kota besar.

Pengisian baterai mobil listrik di SPKLU

Berikut adalah tabel estimasi perbandingan biaya operasional antara SUV Listrik (seperti BYD Atto 3 atau Chery J6) dan SUV Bensin (seperti Honda CR-V atau Toyota Fortuner varian bawah) di rentang harga Rp500 jutaan untuk pemakaian satu tahun dengan jarak tempuh rata-rata 15.000-20.000 km:

Komponen Biaya SUV Listrik (EV) SUV Bensin/Diesel (ICE)
Bahan Bakar / Energi Rp3.800.000 – Rp4.500.000 Rp19.500.000 – Rp24.000.000
Servis Berkala (15.000 km) Rp1.200.000 – Rp1.800.000 Rp4.500.000 – Rp6.500.000
Pajak Tahunan (PKB) Rp150.000 – Rp450.000 Rp6.500.000 – Rp9.000.000
Total Estimasi Biaya ± Rp5.550.000 ± Rp34.500.000

Asumsi pengisian daya di rumah (Rp1.699/kWh) atau SPKLU. Asumsi konsumsi 1:10 km dengan harga BBM non-subsidi per April 2026 (Rp12.300 - Rp14.500/liter). Berdasarkan regulasi insentif PKB mobil listrik 0%-10% dari tarif normal.

Dari tabel di atas, terlihat penghematan nyata mencapai Rp25 juta hingga Rp29 juta dalam satu tahun pertama. Nominal penghematan ini setara dengan biaya asuransi all-risk atau cicilan beberapa bulan, yang menjadikannya argumen kuat bagi konsumen untuk segera meninggalkan kendaraan bermesin fosil. Belum lagi harga jual kembali (resale value) mobil bensin diprediksi akan terus tertekan seiring dengan semakin mahalnya biaya operasional hariannya di masa depan.

Head of Marketing Jaecoo Indonesia, M. Ilham Pratama menjelaskan kepada KabarOto bahwa mobil listrik dapat menjadi salah satu alternatif untuk berkendara atau mobiltas. Serta dapat menekan biaya operasional.

"Dari sisi biaya, penggunaan listrik jauh lebih ekonomis dibandingkan bensin. Sebagai contoh, J5 EV memiliki biaya charging rata-rata sekitar Rp 3,5 juta per tahun, lebih hemat hingga Rp 18 juta dibandingkan mobil berbahan bakar bensin dalam periode yang sama. (Asumsi kendaraan menempuh jarak 18.000 km dalam 1 tahun, dengan tarif listrik rumah Rp 1.700/kWh dan tarif bensin Rp 12.300/liter RON 92)," papar Ilham.

Ilham juga memberikan pandangan bahwa dari sisi perawatan, kendaraan listrik juga lebih praktis karena jumlah komponen yang lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional. Untuk biaya pajak tahunan juga lebih terjangkau. Khususnya di Jakarta, menggunakan mobil listrik juga akan lebih memudahkan karena tidak dikenakan peraturan Ganjil-Genap.

"Saat ini, NEV atau mobil listrik dapat menjadi salah satu pilihan tepat untuk berkendara," tegas Ilham.

Infrastruktur pengisian daya pun kini semakin masif tersedia. Berdasarkan data terkini, titik SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) telah tersebar merata di jalur mudik dan pusat perbelanjaan, sehingga kekhawatiran akan jarak tempuh (range anxiety) mulai berkurang.

Baca Juga: Efek Domino Kenaikan BBM, Mobil Listrik sebagai Solusi Mobilitas

Perangkat home charging yang biasanya diberikan gratis saat pembelian unit mobil listrik di harga 500 jutaan juga memudahkan pemilik mengisi daya layaknya mengisi baterai ponsel setiap malam saat mobil diparkir di garasi.

Bagi mereka yang masih bimbang, realitas pasar bahan bakar dunia yang tidak menentu adalah pengingat bahwa ketergantungan pada BBM non-subsidi memiliki risiko finansial tinggi. Melepas harga BBM sesuai harga pasar dunia berarti konsumen harus siap dengan kejutan kenaikan harga setiap bulannya.

Sebaliknya, tarif listrik rumah tangga cenderung lebih stabil dan sering mendapatkan stimulus atau diskon tarif malam hari dari PLN bagi pemilik mobil listrik yang melakukan pengisian daya di rumah.

Ridjal memaparkan bahwa melalui pilihan SUV yakni Changan Deepal S07, pengguna dapat merasakan SUV listrik dengan desain futuristik, teknologi canggih, kualitas global, serta fitur keselamatan modern yang memberikan rasa aman dan nyaman untuk mobilitas harian maupun perjalanan jarak jauh.

"Sementara itu, Changan Lumin kami hadirkan sebagai solusi praktis untuk penggunaan perkotaan yang efisien dengan tetap mengedepankan standar kualitas dan keamanan yang andal untuk aktivitas harian," yakin Ridjal.

Sebagai kesimpulan, beralih ke mobil listrik di tahun 2026 adalah keputusan strategis untuk mengamankan kondisi finansial keluarga dari gempuran inflasi energi. Dengan biaya pemeliharaan yang sangat rendah dan dukungan pajak dari pemerintah, mobil listrik menawarkan nilai lebih yang tak tertandingi oleh mobil mesin bakar. Penundaan pembelian mobil bensin dan migrasi ke teknologi listrik bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk gaya hidup yang lebih efisien dan modern.

Tags:

#Transisi Kendaraan Listrik #Insentif Mobil Listrik 2026 #Harga BBM Naik

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan