Michele Mouton, Srikandi Paling Bersinar dalam Sejarah Motorsport

Kipli
Kipli
Rabu, 21 Januari 2026
Michele Mouton, Srikandi Paling Bersinar dalam Sejarah Motorsport

Michele Mouton, Srikandi Paling Bersinar dalam Sejarah Motorsport (Goodwood, WRC)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Munculnya wanita tangguh bernama Michele Mouton berawal dari persaingan sengit sesama pabrikan Jerman, Opel dan Audi yang mengusung misi besar untuk menjadi juara dunia asal Jerman pertama di ajang World Rally Championship (WRC) pada tahun 1982.

Seri pembuka di Monako jatuh ke tangan rival mereka lewat kemenangan Walter Röhrl, namun seri berikutnya di Rallye de Portugal menjadi milik Michèle Mouton dari tim Audi, yang sekaligus menjadi titik awal bersejarah mereka di kejuaraan tersebut.

Pereli wanita asal Prancis tersebut meraih kemenangan pertama dari tiga kemenangannya musim itu. Mouton membuka jalannya sendiri menuju kejayaan, memberikan tekanan besar kepada Röhrl dalam perebutan gelar juara dunia kategori pembalap (Drivers’ Title).

Baca Juga: Indonesia Bangga, Julian Johan Finish 5 Besar Rally Dakar 2026

Setelah memenangkan gelar juara nasional dan Eropa kategori wanita di tahun-tahun awal karier balapnya, Mouton bergabung dengan Audi pada 1980. Di balik kemudi Audi Quattro, ia menjadi wanita pertama yang memenangkan seri WRC di Rallye Sanremo 1981, dan berhasil finis di urutan kedelapan klasemen akhir setelah diperkuat oleh raihan posisi keempat di Portugal.

Setahun kemudian, Rallye de Portugal menjadi panggung kemenangan pertama Audi di musim 1982. Mouton bersama navigator andalannya, Fabrizia Pons, merebut posisi terdepan dari rekan setimnya, Hannu Mikkola, pada SS11 dan tidak pernah terkejar lagi.

Pasangan ini finis dengan keunggulan lebih dari 13 menit di depan Per Eklund yang mengendarai Toyota Celica 2000GT, dalam balapan yang lebih dari 75 persen peserta gagal mencapai garis finis.

Mouton dan Pons meraih dua kemenangan lagi tahun itu, yakni di Yunani dan Brasil, di mana Röhrl finis sebagai runner-up di kedua balapan tersebut. Namun, konsistensi Röhrl dalam mendulang poin membuatnya tetap memimpin klasemen, meski Mouton mencatatkan jumlah kemenangan yang lebih banyak.

Menjelang balapan penentu, Rallye Côte d'Ivoire, keduanya hanya terpaut tujuh poin. Namun, tragedi pribadi menimpa Mouton, ia mendapat kabar kematian ayahnya, Pierre, tepat sebelum reli dimulai. Sebagai pendukung setia putrinya, sang ibu mendesak Mouton untuk tetap bertanding dan memperjuangkan gelar juara sebagaimana keinginan mendiang ayahnya.

Mouton membuktikannya dengan membangun keunggulan lebih dari 1 jam di medan hutan tropis yang lembab sebelum masalah pada kopling dan girboks Quattro-nya menghentikan ambisinya.

Saat Mouton kembali ke lintasan, posisinya telah direbut oleh Röhrl yang kemudian memenangkan balapan keduanya tahun itu. Perjalanan Mouton berakhir dengan kecelakaan, dan impiannya untuk menjuarai Drivers’ Championship pun sirna. Namun, hal itu bukanlah prioritas utamanya saat itu.

"Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk memenangkan Kejuaraan Dunia. Itu adalah sebuah kesempatan. Itu adalah masa yang sulit bagi saya, dan yang paling saya ingat dari waktu itu bukanlah kehilangan gelar juara, melainkan kehilangan ayah saya," katanya.

Meski kesuksesan individu gagal diraih, gelar juara kategori pabrikan (Manufacturers’ Title) masih bisa dimenangkan Audi. Setelah tujuh reli berturut-turut tanpa poin, Mikkola memberikan performa maksimal saat dibutuhkan.

Kemenangan di tanah kelahirannya, Finlandia, diikuti dengan posisi kedua di Italia, sebelum akhirnya memimpin Mouton untuk finis 1-2 bagi Quattro di seri penutup RAC Rally di York. Audi pun mengalahkan Opel untuk menjadi juara dunia WRC pertama dari Jerman dengan selisih 12 poin.

Baca Juga: Group B Rally jadi Balap Terganas dan Paling Kelam di Eranya

Mengenai rivalitasnya, Röhrl sempat berkomentar kala itu, "Saya bisa menerima jika kalah dari Mikkola di kejuaraan ini, tapi saya tidak bisa menerima dikalahkan oleh Michèle. Ini bukan karena saya meragukan kemampuannya sebagai pembalap, tapi karena dia adalah seorang wanita."

Pada tahun 1983, Röhrl yang pindah ke Lancia harus puas finis di posisi kedua di bawah Mikkola, sementara Mouton menempati posisi kelima secara keseluruhan. Ia menjadi pembalap paruh waktu untuk Audi pada 1984, yang saat itu juga merekrut Röhrl, dan pindah ke Peugeot pada 1986.

Pada tahun tersebut, Mouton menjadi wanita pertama yang memenangkan kejuaraan reli utama dengan menjuarai German Rally Championship menggunakan Peugeot 205 T16. Dua minggu kemudian, seiring dengan berakhirnya era Grup B, ia mengumumkan pensiun dari dunia balap.

Mouton melanjutkan pengabdiannya di FIA sebagai delegasi keselamatan WRC dan presiden pertama Komisi Wanita dalam Motorsport FIA. Ia masuk ke dalam Rally Hall of Fame pada 2012 dan dianugerahi penghargaan FIA Lifetime Achievement perdana pada tahun 2024.

Rivalnya, Röhrl, di kemudian hari menyampaikan permintaan maaf, "Melihat ke belakang, saya merasa itu adalah situasi yang tidak menguntungkan. Dia sama seperti pembalap lainnya. Saat balapan, saya tidak pernah berpikir 'Dia seorang wanita'. Dia adalah kompetitor biasa dan saya mencoba mengalahkannya."

Tahun 1982 tetap menjadi sorotan utama dalam kariernya. Kemenangan di Portugal bulan Maret 1982 menjadi bukti kuat yang mengukuhkan Mouton sebagai salah satu pembalap wanita terhebat dalam sejarah motorsport.

"Ada banyak pria hebat yang bertarung dengan saya, itu adalah pertarungan yang sengit, dan akhirnya kami berhasil menang," kenang Mouton. "Yang paling saya ingat saat kami finis adalah para wanita di sepanjang jalan melambai ke arah kami. Itu adalah perasaan yang sangat istimewa. Saat Anda melakukan sesuatu, Anda tidak melakukannya karena Anda seorang wanita, Anda melakukannya karena Anda seorang pembalap. Tapi kemenangan di Portugal itu sungguh sangat istimewa," tutupnya.

Tags:

#Pembalap Wanita #Michele Mouton #Group B Rally

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan