Peluang dan Tantangan Transisi Kendaraan Listrik, Masih Terkendala Infrastruktur

M. Sigit
M. Sigit
Rabu, 24 Juli 2024
Peluang dan Tantangan Transisi Kendaraan Listrik, Masih Terkendala Infrastruktur

BYD M6 diluncurkan di GIIAS 2024 (Foto: Sigit/Kabaroto)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Pemerintah tengah menggenjot transisi menuju kendaraan elektrifikasi, tujuan awalnya adalah mengurangi emisi CO2 sebesar 29 persen pada tahun 2030. Namun, saat ini masih terkedala infrastruktur, itu yang membuat masyarakat masih ragu meggunakan kedaraan ini.

Untuk mendorong minat masyarakat untuk memiliki kendaraan listrik, pemerintah menggodok peraturan baru mulai dari subsidi hingga aturan ganjil genap.

Namun, kebijakan ini masih dianggap belum cukup berjalan. Sebab, harga mobil listrik masih terbilang tinggi dan infrastruktur masih belum memadai.

Baca Juga: Harga Hyundai Ioniq 5 Mobil Listrik Ikonik, Serta Spesifikasi dan Fitur Unggulan

Diskusi Indonesia Center of Mobility Studies (ICMS)

Diskusi Indonesia Center of Mobility Studies (ICMS)

Pada kesempatan diskusi Indonesia Center of Mobility Studies (ICMS), di area GIIAS 2024, Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara mengungkapkan, infrastruktur masih menjadi penghambat transisi menuju kendaraan listrik.

Menurutnya semua ini membutuhkan waktu, sama seperti mengusahakan Euro 2, Euro 3 hingga sekarang Euro 4, semuanya butuh proses.

"Gaikindo menjalankan multipathway, biarkan masyarakat memilih. Kalau tujuannya adalah ramah lingkungan, ada alternatif, seperti bio etanol, bio diesel dan bahan bakar alternatif lain yang lebih ramah lingkungan," jelas Kukuh.

Tapi, untuk mendorong minat masyarakat membeli kendaraan listrik, tentu harus dibarengi oleh infrastruktur yang memadai. Hal ini yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

Baca Juga: Target Produksi Baterai Kendaraan Listrik di RI Mencapai 600 Ribu

Pemilihan Strategi Multipathway

"Ini yang dikejar selalu industri otomotif, padahal ini selalu siap. Begitu sudah siap, ternyata infrastrukturnya belum siap. EV misalnya, kendalanya dan tantangannya semua tahu masih persoalan seputar infrastruktur," tegas Kukuh.

Pemilihan strategi multipathway dianggap relevan, karena m melawan karbon tidak hanya berfokus pada kendaraan listrik. Tapi juga pada alternatif lainnya seperti kendaraan hybrid, Plugin Hybrid EV atau PHEV dan bahan bakar alternatif.

"Jadi kenapa kita multi, artinya kita memberikan pilihan kepada masyarakat. Indonesia terkenal karena bio-dieselnya. Kemarin kita kedatangan teman-teman dari Brasil, mereka terkenal karena bio etanolnya," terang Kukuh.

"kita sepakat diskusi bareng, artinya kan tidak hanya EV, tapi ada energi alternatif lainnya, solusi lainnya juga kita siapkan," jelas Kukuh.

Tags:

#Transisi Kendaraan Listrik

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan