Renault Dapat Suntikan Dana Rp79 Triliun Dari Pemerintah Prancis

Renault Dapat Suntikan Dana Rp79 Triliun dari Pemerintah Prancis Iustrasi pekerja Renault (Club1)

KabarOto.com - Penyebaran virus Corona (Covid-19) di sejumlah negara, menyebabkan beberapa sektor bisnis terpukul, salah satunya adalah otomotif. Produsen mobil asal Prancis, Renault, pun harus menanggung dampaknya karena penjualan yang terus menurun.

Bahkan, penjualan Renault di negara asalnya anjlok hingga 89 persen pada April 2020. Hal ini, akhirnya mendorong Renault untuk menutup sejumlah diler di Prancis.

Baca Juga: Cek Persiapan New Normal, Presiden Jokowi Naik Mobil Baru Ke Bekasi?

Selanjutnya, Renault pun telah menyiapkan sejumlah kebijakan lain agar bisnisnya tetap bertahan di tengah badai pandemik Covid-19. Salah satunya adalah rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 15.000 pegawainya di seluruh dunia.

Dari jumlah pegawai yang akan terkena PHK tersebut, sebanyak 4.600 di antaranya merupakan pekerja yang berada di Prancis.

"Perusahaan akan menggunakan skema pengunduran diri secara sukarela atau pensiun," terang Juru Bicara Renault seperti dikutip dari Reuters.

Suntikan dana agar pabrik tetap beroperasi (WardsAuto)

Sebelumnya, pengumuman penutupan pabrik memicu gelombang protes di beberapa pabrik, termasuk di Maubeuge di Perancis utara, meskipun Pimpinan Renault Jean-Dominique Senard telah berjanji, pabrik tersebut tidak akan ditutup.

Selain melakukan PHK, strategi lain yang dijalankan oleh Renault adalah melakukan pinjaman kepada pemerintah Prancis, dengan nilai sebesar 5 miliar euro atau setara dengan Rp79,60 triliun.

Suntikan dana segar dari Pemerintah Prancis, yang juga pemilik saham Renault sebesar 15 persen itu, akan digunakan oleh Renault agar dapat mempertahankan operasional pabriknya di Prancis.

Baca Juga: Bridgestone Akan Bikin 400.000 Sepatu Dari Ban Bekas

Lebih lanjut, Renault juga akan melakukan diskusi dengan perwakilan pekerja, untuk membahas rencana restrukturisasi model bisnis.

Selain itu, produksi mobil juga akan dikurangi dari sebelumnya 4 juta unit per tahun, menjadi 3,3 juta unit per tahun, pada 2024.

Berita Terkait

Berita Terkait