Sejarah Motor Balap Yamaha 0W23, Antar Gelar Juara Dunia GP500

Kipli
Kipli
1 jam, 43 menit lalu
Sejarah Motor Balap Yamaha 0W23, Antar Gelar Juara Dunia GP500

Sejarah Motor Balap Yamaha 0W23, Antar Gelar Juara Dunia GP500

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KabarOto.com - Muncul pertama kali di GP Belgia 1974, 0W23 dirancang khusus untuk kelas GP500, berbeda dengan TZ750. Pengurangan bobot dan ukuran secara besar-besaran dilakukan pada sektor mesin dan sasis, serta jarak sumbu roda (wheelbase) yang diperpendek.

Selain itu, motor ini mengadopsi transmisi tipe kaset (cassette type transmission), poros utama (main shaft), poros penggerak (drive shaft), dan mekanisme perpindahan gigi (shifter) semuanya dapat ditarik keluar sebagai satu kesatuan utuh (kaset) untuk memangkas waktu perawatan secara drastis.

Knalpot bentuk baru yang disebut tipe tirus bertingkat (stepped tapered) juga disematkan, menampilkan bagian diffuser berbentuk terompet yang melebar landai dan bagian belakang tabung ekspansi (expansion chamber) berbentuk mangkuk.

Desain ini bertujuan untuk mendongkrak output maksimum dan karakter torsi dari rentang kecepatan puncak ke atas. Pada tahun 1975, Giacomo Agostini menunggangi motor ini dan mempersembahkan gelar juara dunia kategori Pembalap GP500 pertama untuk Yamaha.

Baca Juga: John McGuinness Pecah Rekor Balap Isle of Man TT di Usia 54 Tahun

Tantangan dan Pengembangan Sasis

Meskipun berbagai perubahan telah dilakukan pada tingkat prototipe maupun produksi, tim balap menyadari bahwa motor empat silinder 500cc mereka masih jauh dari kata sempurna.

OW20 memang bagus, tetapi masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika ingin merebut mahkota juara 500cc. Sebuah motor baru dengan kode OW23 kemudian tersedia di pertengahan musim 1974. Di atas kertas, motor ini menawarkan keunggulan yang signifikan.

Bobotnya 21 kg lebih ringan daripada pendahulunya, berkat pengurangan massa total melalui berbagai cara. Bak engkol (crankcase) kini menggunakan bahan magnesium, bukan lagi aluminium.

Selain itu, poros engkol (crankshaft) dan rangkaian gigi rasio diperkecil, membuat mesin empat silinder segaris tersebut 20 mm lebih ramping dan 30 mm lebih pendek, sebuah konsep sentralisasi massa yang efektif, satu dekade sebelum Honda menjadikannya tren.

Namun di Belgia, Agostini merasa OW23 justru lebih lambat daripada model lawas. Ditambah lagi, setelah mengalami kecelakaan di Swedia, sang mantan juara dunia tersebut harus berakhir di rumah sakit akibat patah tulang bahu. Pembalap Yamaha lainnya, Teuvo Länsivuori, sudah berusaha semaksimal mungkin, tetapi Phil Read dari tim MV Agusta akhirnya keluar sebagai juara dunia.

Baca Juga: The Isle of Man TT, Balap Motor Tertua Paling Berbahaya di Dunia

Revolusi OW26 dan Gelar Juara Dunia

Selama masa jeda musim (closed season), banyak perubahan detail dilakukan pada OW23. Motor ini sama seperti OW19, terkenal sangat boros bahan bakar, sehingga perubahan pada ukuran/waktu bukaan lubang silinder (port timing/sizes) serta penyetelan karburator pun dilakukan. Karakter mesinnya juga terkenal sangat peaky (tenaga baru keluar di RPM tinggi) meskipun sudah dipasang katup buluh (reed valve), sehingga memerlukan perubahan rasio gigi internal untuk sirkuit yang berbeda-beda.

Sebelumnya, penggantian gigi rasio mengharuskan pembongkaran mesin secara total. Namun, berkat revisi desain dengan sistem kaset, mekanik kini hanya perlu melepas rangkaian kopling untuk mengaksesnya. Motor hasil pengembangan ini, yang kemudian diberi kode OW26, menjadi tumpuan harapan tim pabrikan untuk musim 1975.

Dari sembilan balapan di musim tersebut, Agostini gagal finis (DNF) sebanyak tiga kali, dua kali karena mesin macet (engine seizure) dan sekali karena ban bocor.

Di sisi lain, Phil Read memacu motor MV lawasnya lebih keras dari sebelumnya demi menutupi kekurangan desain motornya yang sudah menua sekitar 20 tahun. Jika OW19 baru sebatas memberi peringatan tentang dominasi mesin dua tak yang kian dekat, maka OW26 benar-benar mengunci nasib motor-motor MV Agusta, meski dengan selisih yang sangat tipis.

Gelar juara tahun 1975 ditentukan pada balapan terakhir di GP Ceko. Finis di posisi kedua di belakang Read sudah cukup bagi Agostini untuk mengunci gelar juara dunia dengan selisih hanya delapan poin. Yamaha akhirnya berhasil merengkuh gelar juara di kelas utama!

Tags:

#Yamaha Motor Company #Yamaha Motor Co., Ltd. #Motor Balap

Bagikan

Berita Terkait

Bagikan