Sektor Otomotif Juga Bisa Dukung Industri Daur Ulang

Sektor Otomotif Juga Bisa Dukung Industri Daur Ulang Interior DFSK Supercab sebagai contoh penggunaan plastik pada dasbor

KabarOto.com - Pada saat ini sudah banyak masyarakat yang menyoroti penggunaan plastik karena dirasa mencemari lingkungan. Beberapa diantaranya restoran dan kedai makan sudah meminimalisir penggunaan sedotan plastik.

Walaupun beberapa bagian dari kendaraan terbuat dari plastik, sobat Kabaroto sebagai pecinta otomotif bisa juga loh ikut andil dalam bidang otomotif.

Airlangga Hartanto selaku Menteri Perindustrian (Menperin), pada 6 Februari lalu menghadiri seminar Seminar Nasional Kesiapan Sumber Daya manusia Industri Manufaktur Menghadapi Revolusi Industri 4.0 di SMK Ananda Mitra Industri Deltamas.

Baca Juga: Korea Selatan Kembangkan Layanan Women-only Taxi, Khusus Untuk Wanita Dan Anak-anak

Pada kesempatan ini, Airlangga mengatakan, "Sekarang 73 % ekspor kita ditopang dari industri manufaktur dan sektor otomotif menjadi salah satu andalan."

daur ulang

Diketahui pada Januari sampai September 2018 lalu, ekspor kendaraan roda empat maupun roda dua meningkat. Untuk mobil angkanya naik mencapai 10,4% sedangkan sepeda motor naik pesat hingga 46,3%.

Karena hal inilah, Menperin mengajak seluruh pelaku yang terlibat di industri otomotif nasional agar terus meningkatkan daya saingnya. Salah satu caranya adalah mengusung ekonomi berkelanjutkan melalui cara daur ulang, seperti plastic recycle.

Daur ulang ini melihat tren terkini dimana sebagian besar komponen-komponen yang pada mobil seperti bemper, fender, dan dashbor tidak lagi menggunakan bahan stainless steel, tetapi menggunakan plastik. Maksudnya, plastik disini adalah yang dapat didaur ulang.

Baca Juga: Cuma Sedikit Di Indonesia, Fiat 1100T Ambulance Modifikasi Nyentrik

Contohnya, seperti daur ulang plastik yang berbasis polietilena. Jika didaur ulang plastik ini akan menghasilkan poliester yang merupakan bahan baku tekstil. Selain menjadi ramah lingkungan, plastik akan menjadi lebih berguna untuk menjadi sesuatu yang lain.

"Plastik itu bukan sampah, dari segi biaya, plastik adalah bahan baku yang relatif lebih kompetitif dibanding yang lain, dan menyerap emisi lebih rendah," jelas Airlangga.

Baca Juga: Menarik Sob, RAM Kembangkan Pintu Untuk Mobil Pikap

Jika industri otomotif menggunakan virgin plastic, nantinya akan mempengaruhi biaya produksi yang lebih mahal. Apalagi jika harus import virgin plastic, kebutuhan devisa akan menjadi lebih tinggi.

"Karena itu Pemerintah mendorong yang namanya circular economy, yang merupakan bagian dari industri 4.0. Karena alumunium alloy itu masuk recycle material, saya tegaskan kembali bahwa recycle industry ini adalah sesuatu yang harus dilakukan, jadi tidak perlu khawatir," tambahnya.

Agar dapat terus berlanjut, konsep ekonomi berkelanjutan harus terus ditingkatkan daya saingnya. Karena jika seluruh bahan diharuskan menjadi virgin plastic atau virgin alumunium, harga akan melonjak dan tidak ada daya saing karena semuanya mahal.