KabarOto.com - Piaggio Indonesia menyebut fasilitas perakitan di Cikarang memiliki kapasitas maksimal hingga 10.000 unit per tahun. Angka tersebut disampaikan Communications and Brand Activation Senior Manager PT Piaggio Indonesia, Ayu Hapsari, ketika menjelaskan kemampuan produksi fasilitas yang menangani model Vespa tertentu untuk pasar Indonesia.
Kapasitas itu memberikan gambaran mengenai skala operasional yang disiapkan perusahaan dalam mendukung penyediaan kendaraan.
Baca Juga: Vespa 125 Cc Tak Lagi Dijual di Indonesia, Piaggio Tawarkan Pilihan Ini
Kapasitas Produksi Pabrik Piaggio
Meski demikian, kapasitas maksimal tidak dapat disamakan dengan jumlah produksi aktual. Angka 10.000 unit per tahun menggambarkan batas kemampuan fasilitas menurut keterangan Ayu, bukan bukti bahwa seluruh kapasitas tersebut selalu digunakan.
Tingkat pemanfaatan fasilitas dapat berbeda bergantung pada kebutuhan pasar, perencanaan operasional, serta alokasi produksi masing-masing model.
Ketika ditanya mengenai pembagian kapasitas antara Vespa LX dan Vespa S, narasumber tidak memberikan rincian jumlah untuk setiap model. Ia hanya menegaskan kapasitas maksimal tahunan yang tersedia.
Dengan demikian, belum ada dasar dari keterangan Ayu untuk menyimpulkan berapa banyak unit LX maupun S yang dirakit dalam satu tahun atau bagaimana proporsi produksi keduanya ditentukan.
Baca Juga: Piaggio Indonesia Hadirkan Ragam Kapasitas Mesin, Ini Alasannya
Pengaruh Pabrik Piaggio Cikarang Terhadap Harga Motor
Ayu juga memberikan respons positif ketika ditanya mengenai kondisi pemanfaatan kapasitas tersebut.
Yang bisa kami sampaikan bahwa perkembangan operasional sejauh ini berjalan dengan baik dan sesuai harapan perusahaan. Namun, hal tersebut tidak disertai angka produksi aktual, tingkat utilisasi fasilitas, ataupun data penjualan yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja secara kuantitatif,
ujarnya.
Pertanyaan mengenai dampak perakitan lokal terhadap harga, Ayu tidak mengemukakan jawaban yang tegas mengenai apakah perakitan Vespa S di Indonesia akan menurunkan harga jual.
Perakitan lokal saja tidak cukup untuk memastikan perubahan harga, sebab penetapan harga juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, termasuk biaya komponen, logistik, pajak, dan kebijakan perusahaan,
pungkasnya.

