Tim Renault F1 Masih Belum Konsisten

Tim Renault F1 Masih Belum Konsisten

KabarOto.com - Menjelang musim balap Formula 1 2019 lalu, secara meyakinkan tim Renault F1 menunjukan perkembangan baiknya. Pada pra-musim bulan Februari lalu, pengembangan sasis dan infrastruktur membuat tim ini percaya diri menghadapi musim balap F1 2019. Tetapi hingga saat ini, belum menunjukan hasil yang menakjubkan, apa yang terjadi?

Renault merupakan pelopor pemakaian mesin dengan turbo pada ajang Formula 1, debut pertamanya adalah pada GP Inggris tahun 1977. Hingga saat ini, Renault merupakan salah satu pabrikan mesin Formula 1 tersukses, memenangi beberapa kali gelar konstruktor ketika menjadi pemasok mesin untuk tim Williams, Benetton, dan Red Bull Racing.

Sempat mundur dari balapan F1 pada 1997, dan memutuskan kembali pada 2002 setelah sebelumnya pada 2001 membeli tim Benetton dan mengubah nama menjadi Renault F1 Team. Meraih juara dunia pembalap melalui Fernando Alonso pada 2005 dan 2006.

Baca juga: Tim Renault Tengah Mengembangkan Sasis Barunya

Sukses pada 2005 dan 2006 dengan pebalap Fernando Alonso

Pada 2009, Renault mengalami krisis akibat skandal "crashgate" di GP Singapura 2008, yang menyebabkan Renault France menjual mayoritas sahamnya dan mengakhiri kontribusi sebagai tim pabrikan pada 2010. Pada 2012, berganti nama menjadi Lotus F1. Barulah pada 2015, Renault secara penuh membeli saham Lotus F1 dan berganti nama menjadi tim Renault F1.

Namun sejak 2015, Renault F1 belum menemukan performa terbaiknya. Kini fokus pada pengembangan mesin Renault, sudah sejak pengambil alihan pihak pabrikan terus melakukan pengembangan. Yang krusial adalah pada bagian sasis dan mesin, hingga saat ini sepertinya Renault belum menemukan setting terbaiknya.

Semenjak F1 memperkenalkan mesin hybrid turbo untuk musim 2014, Renault belum menemukan racikan terbaiknya. Setting mesin dan sasis belum juga nge"klik", masih kalah dalam hal kecepatan dengan mesin Mercedes dan Ferrari.

Hal ini menyebabkan hubungan terputus dengan Red Bull yang akhirnya tim tersebut beralih ke mesin Honda, meninggalkan Renault yang kini hanya memasok mesin untuk tim pabrikan dan McLaren.

Baca juga: GP F1 Azerbaijan, Bottas Jadi Juara dan Mercedes Terus Mendominasi

Titik lemah pada bagian MGU-K telah diperbaiki

Titik terlemah tahun ini adalah MGU-K, ini merupakan bagian mesin yang jadi masalah telah terbukti selama bertahun-tahun. Di Bahrain, baik Hulkenberg dan Daniel Ricciardo mengalami kegagalan, pada putaran yang sama, membuat mereka tidak melanjutkan lomba.

Renault memperkenalkan perbaikan MGU-K dengan cepat, tetapi perubahan lebih lanjut dari sekarang akan dikenakan penalti kotak. Itu tidak ideal mengingat masih ada 17 seri balapan, baik Hulkenberg dan Ricciardo harus bekerja keras menjaga dan memaksimalkan mobil Renault F1.

Ketika berbicara tentang sasis, masih terus dalam tahap penyempurnaan dan di klaim dalam waktu dekat hasilnya akan mulai terlihat. Sasis RS19 sudah harus bisa diadaptasi oleh kedua pembalap Renault F1, Balapan di Sirkuit Baku, Rusia, kedua pembalap ternyata masih mengalami kesulitan.

Tim lain yang menggunakan mesin Renault pada 2019 ini hanya McLaren

Musim lalu Renault berada di urutan keempat dalam kejuaraan. Tahun ini, meski baru dua balapan memasuki musim ini, Renault F1 berada di belakang Alfa Romeo, McLaren dan Haas di klasemen sementara kejuaraan Formula 1 2019.

Penampilan Renault F1 telah mendukung klaim pra-musim oleh Daniel Ricciardo bahwa "tidak ada bukti kuat" Renault akan memimpin balapan di lini tengah. Satu masalah besar yang mereka miliki, menurut Hulkenberg, adalah bahwa mereka belum berhasil memberantas kelemahan tahun lalu dengan RS19 baru.

So, sepertinya masih ada pekerjaan rumah bagi Renault F1, khususnya sasis RS19 dan mesinnya yang belum padu serta belum bisa memaksimalkan performa utamanya.