KabarOto.com - Top Fuel Dragster tidak menggunakan transmisi atau perpindahan gigi (girboks) konvensional seperti mobil balap pada umumnya. Dengan tenaga mesin yang melampaui 11.000 dk dan torsi mendadak yang sanggup menghancurkan roda gigi mekanis biasa, transfer tenaga dari mesin ke roda belakang diatur sepenuhnya oleh sistem multi-stage centrifugal clutch (kopling sentrifugal bertahap).
Sistem ini bekerja secara otomatis untuk mengatur tingkat kepasrahan gesekan (slippage) kopling secara terukur sepanjang lintasan 1.000 kaki, sehingga ban tidak langsung kehilangan traksi (spin) di garis start akibat lonjakan tenaga yang mendadak.
Baca Juga: Galeri Modifikasi Honda Civic Estilo 'The Fatso', Terlahir untuk Lintasan Drag Race
Daftar Isi
Mekanisme Transmisi
Daftar Isi
Komponen utama sistem ini terdiri dari susunan multi-disc clutch yang umumnya menggunakan 5 hingga 6 plat gesek berbahan besi tempa khusus (sintered iron). Plat-plat ini dirancang untuk menahan gesekan ekstrem dan suhu panas hingga mendekati titik lebur besi selama kurun waktu 3,7 detik balapan.
Di bagian luar tumpukan plat, terdapat tuas pengungkit sentrifugal (finger levers) yang dilengkapi dengan bobot timah terkalibrasi, serta serangkaian silinder pneumatik penekan berbasis udara bertekanan tinggi yang dikendalikan oleh sakelar penunda waktu (pneumatic timers).
Saat pengemudi berada di garis start dan melepas tuas pengunci (trans-brake), hanya sebagian kecil gaya tekan yang diterapkan pada plat kopling. Pada momen akselerasi awal (0 hingga 1 detik) ini, kopling sengaja dibiarkan mengalami slip secara masif.
Hal ini dilakukan agar mesin V8 Hemi dapat langsung melonjak ke rentang RPM tinggi yang ideal tanpa membebani ban belakang secara berlebihan, sehingga mobil dapat bergerak meluncur tanpa menembak liar atau membuat ban kehilangan daya cengkeram di permukaan lintasan.
Baca Juga: Nostalgia 1990-an, Kedigdayaan HKS Drag Nissan Skyline GT-R
Skema Penggunaan
Memasuki fase pertengahan lintasan (1 hingga 2,5 detik), gaya sentrifugal dari putaran mesin yang terus meningkat mulai mendorong tuas-tuas pengungkit untuk menekan plat lebih kuat.
Pada saat yang sama, sakelar timer pneumatik mulai aktif secara bertahap dalam beberapa tahap (stages) penambahan tekanan. Setiap tahap menyalurkan tekanan ekstra pada tumpukan plat kopling, menyesuaikan dengan peningkatan gaya tekan ke bawah (downforce) dari rear wing yang membuat ban semakin melekat kuat ke aspal.
Pada fase akhir menjelang garis finis (2,5 hingga 3,7 detik), seluruh sakelar timer pneumatik telah terpicu sepenuhnya dan tekanan sentrifugal mencapai titik maksimum. Kondisi ini memaksa seluruh plat kopling menyatu rapat tanpa slip (100% lock-up).
Dalam hitungan milidetik terakhir tersebut, seluruh 11.000+ dk disalurkan secara utuh tanpa hambatan langsung menuju final drive diferensial hingga mobil menyentuh kecepatan puncak lebih dari 330 mph (530 kpj).
Pengaturan presisi pada sistem kopling bertahap ini merupakan kunci penentu kemenangan yang dikendalikan oleh crew chief. Jika kopling mengunci terlalu cepat, ban belakang akan langsung berputar di tempat (smoke the tires) atau mematikan mesin secara mendadak. sebaliknya, jika kopling terlalu banyak menggesek, plat besi akan meleleh dan hancur akibat panas berlebih sebelum mobil sempat menyentuh garis finis.

