Yuk Simak Beberapa Jenis Teknologi Mobil Hybrid

Yuk Simak Beberapa Jenis Teknologi Mobil Hybrid

KabarOto.com – Peralihan dari mobil dengan bahan bakar fosil ke hybrid, atau bahkan elektrik, mulai terasa di Indonesia. Ini tentu mengarah ke hal positif untuk mengurangi emisi, dan menghemat bahan bakar. Bahkan beberapa pabrikan di dunia bakal berfokus ke mobil listrik sepenuhnya pada 2030.

Dalam masa peralihan ini, mungkin infrastruktur di beberapa wilayah di Indonesia belum memadai untuk memiliki mobil listrik. Oleh karenanya mobil hybrid jadi alternatif. Lalu apakah semua mobil hybrid itu punya sistem yang sama? Jawabannya tidak. Ada beberapa jenis teknologi hybrid di mobil, berikut KabarOto coba jelaskan.

1. Mild Hybrid

Pada dasarnya hybrid itu menggunakan dua sistem penggerak, yakni mesin bensin atau diesel, serta tenaga dari motor listrik dan baterai. Paling sederhana ialah Mild Hybrid seperti di Honda CR-Z atau Suzuki Ertiga Hybrid.

Sistemnya masih mengandalkan mesin konvensional, lalu disambung ke ISG (Integrated Starter Generator) atau biasa kita kenal sebagai motor. Sementara cadangan listrik disimpan di baterai lithium ion, sehingga bisa disimpulkan kalau sistem ini tidak bisa menggerakkan mobil, namun hanya bersifat mengurangi beban mesin saat akselerasi pertama.

Baca Juga : Ini Tips Mobil Mewah Yang Cocok Untuk Investasi

2. Full Hybrid

Sistem ini menggunakan sistem motor dan baterai lebih besar, bahkan motor listrik bisa menggantikan mesin konvensional untuk menggerakkan mobil. Bahkan bisa menambah tenaga dari mesin konvensionalnya, sehingga menghasilkan akselerasi lebih sigap. Pengisian baterai juga dilakukan lewat energi mesin, atau sistem rem regeneratif.

Sementara di teknologi E-Power, mereka mengklaim bahwa teknologi itu adalah murni listrik. Namun dari cara kerja sebenarnya bisa dibilang hybrid, pasalnya mesin tiga silinder berkapasitas 1.200 cc-nya tersebut memang tidak menggerak mobil, namun berperan sebagai generator.

Baca Juga : Ini Pentingnya Rawat AC Mobil Sebelum Kondisi Memburuk

Sistem penggerak sepenuhnya dari motor listrik yang menggerakkan, namun pengisian daya baterai tetap mengandalkan generator dari mesin konvensional, serta rem generatif.

3. Plug in Hybrid

Sistemnya mirip seperti full hybrid, namun pemilik bisa mengecas baterainya seperti mobil listrik. Sehingga tidak mengandalkan sistem pengisian regeneratif saja. Kelebihannya tentu jarak tempuh, dan efisiensi lebih baik dari lainnya.